Postingan

Mengapa Cinta Tak Pernah Tepat Waktu (Resensi)

Gambar
  Setelah membaca Novel Kisah yang Pendek Untuk Cinta yang Panjang (2017) dari Puthut EA yang benar-benar mengena karena mengisahkan sepasang mantan kekasih yang bertemu lagi setelah puluhan tahun dan sedikit nostalgia kisah cinta masalalu mereka, aku baru tertarik untuk menguliti Novel prekuelnya Cinta Tak Pernah Tepat Waktu (2005). Padahal filmnya telah keluar tahun ini dan cukup ramai penonton. Kisah diawali dengan tokoh aku yang bertemu lagi dengan mantan kekasihnya yang pergi dan menikah dengan orang lain, meninggalkan dia terpuruk berbulan-bulan. Ia menyadari bahwa ternyata dirinya masih belum dapat sembuh sepenuhnya dari luka tersebut. Apalagi setelah perempuan itu mengakui masih mencintainya. Hal itu menjadi pukulan baru bagi tokoh aku yang sedang berusaha menyembuhkan dirinya. Ia bahkan menolak untuk berhubungan dengan orang baru demi menyadari bahwa mengalihkan keresahannya pada orang baru bukanlah jawaban yang tepat bagi trauma masalalunya. Kedekatannya dengan para per...

Tentang Sore: Istri dari Masa Depan (Ulasan)

Gambar
  Buat suamiku di masa depan... Aku penasaran apakah kamu juga menontonnya saat film itu rilis? Sepanjang film pikirku membayangkan bagaimana reaksimu menonton film itu. Apakah kamu hampir sama seperti Jo atau sebaliknya? Karena tema percintaan marriage itu kerasa lebih masuk diumur-umur ini. Apalagi pas udah sadar kalau pernikahan itu bukan cuma enaknya aja. Akhirnya bertemu lagi dengan "Kamu tahu mengapa senja menyenangkan? Kadang ia merekah bahagia, kadang ia hitam gelap berduka. Tapi langit selalu menerima senja apa adanya."  Aku tidak pernah bisa membayangkan terbuat dari apa perempuan semacam Sore (jika benar ada orang seperti itu di dunia). Adegan dimana ia menyatakan itu bukan pertama kali ia melakukan timeloop itu kayak menyihirku jadi bengong beberapa saat. Itu juga menjadi kunci pertanyaan yang tak terjawab di web seriesnya. Jika versi webseries Sore baru pertama kali bertemu Jonathan saat lajang. Di film ini ternyata Sore telah melakukan berulang kali perjalanan d...

Untuk Putri (Cerpen)

Gambar
Mereka turun dari sepeda motor yang biasa, menuju tempat makan mahasiswa biasa: Warmindo di Jalan Menco pada malam yang biasa itu. Yang perempuan sedikit was-was akan akibat dari keputusan impulsifnya hari itu. Warmindo itu baru dibuka beberapa hari yang lalu sehingga relatif sepi dan belum banyak dikunjungi para mahasiswa. Desainnya lebih luas berupa tiga atau empat atap Joglo yang berderet dengan interior serba tradisional dan bangku dari kayu. Terdapat lampu kelap-kelip warna kekuningan yang membuat suasana makin hangat. Bagian paling depan berupa halaman yang cukup luas dengan ornamen bebatuan alam dan pohon-pohon yang rindang,  untuk area parkir. "Kita duduk dimana? mau di dalam saja?" "Iya boleh mbak," "Boleh aku sambil makan? aku belum sempat makan malam,"kata yang perempuan menatap penuh harap, kiranya agar lelaki itu tak keberatan. Lelaki itu melirik arlojinya yang menunjukkan pukul sepuluh malam lewat, sudah sangat larut untuk jam makan malam. ...

Tentang Ibu (Cerpen)

Gambar
  Kalau kami sedang ada dalam perjalanan ke suatu tempat yang memakan waktu berjam-jam. Seiring kendaraan kami melandai di jalan raya, biasanya ibu akan bercerita. Cerita ibu banyak sekali, tak akan ada habisnya. Tak akan kami bosan, meski ceritanya selalu diulang-ulang karena toh kami kadang melupakan cerita itu.  Setiap jalan yang kami lewati kadang membawa kenangan masa kecilnya kala zaman belum semaju ini. Kendaraan belum banyak dan canggih. Saat harus mengantarkan sanak saudara pergi berobat ke kota, dulu ibu berganti-ganti bus dan kendaraan.  Berjalan 1-3 kilometer adalah hal biasa baginya. Pun ia biasa membantu membawa hasil panen dari kebun/sawah dengan berjalan kaki, meski beberapa kejadian pernah sangat menggores hatinya.  Ibu pernah bercerita betapa ia sangat takut tiap harus mengambil air konsumsi rumah tangga dari sumber air. Ada titik tempat yang dipercaya angker, tiap langkahnya ke sana selalu diiringi degup jantung yang tak beraturan. Tapi ibu lakukan...

Buku yang Tidak Lagi Dibaca (Cerpen)

Gambar
  Malam ini lagi-lagi aku hanya bertemankan bosan. Terjebak dalam rutinitas harian kerja-pulang-rumah dalam ritme yang statis benar-benar membikin mati kutu. Menyisakan malam yang beku. Juga mematikan rasaku sedikit demi sedikit. Tubuh yang mudah lelah diusia muda. Keinginan untuk berlari kencang ke depan, sekaligus ingin selalu berpijak hari ini. Aku bak terombang-ambing di lautan ambang, sementara yang kutunggu yang kian nampak batang hidungnya. ________________________________________________________________________________ Aku memilah-milah buku untuk sekadar membunuh waktu. Tak banyak yang menarik karena hampir semuanya telah usai dibaca. Beberapa yang favorit malah kerap dibaca ulang. Diberi garis dan catatan dibeberapa sisi.  Dulu aku ingat betul kebiasaan menggarisi dan memberi catatan kaki pada buku adalah kebiasaan seseorang yang kuadaptasi. Berkebalikan, aku awalnya sayang untuk membikin satupun coretan di sebuah buku, karena barangkali nanti buku itu akan berpindah...

Little Forest: Saat Hidup Mulai Terasa Berat

Gambar
  "For mom, the nature, cooking, and her love for me have been her little forest. I should find my own little forest too - Song Haewon" Apa yang akan kamu lakukan saat hidup mulai terasa berat? Song Haewon yang gagal pada ujian sertifikat guru di Seoul merasakan 'lapar' yang teramat. Ia bahkan tidak bisa berbicara pada pacarnya yang lolos pada ujian tersebut. Makanan instan di minimarket tempatnya bekerja seringkali basi dan tidak mengisi seleranya. Pada suatu malam di musim dingin, Haewon pulang ke kampung halamannya untuk menemukan jawaban. Di kampung halamannya, Mi Sung Li, Haewon bertemu lagi dengan teman masa kecilnya, Jaeha dan Eunsook. Juga menghadapi ingatan pada ibunya yang pergi secara mendadak tanpa memberitahunya. Tinggal di desa bagi Haewon menjadi healing tersendiri. Ia memasak makanannya sendiri. Alam menyajikan bahan makanan secara cuma-cuma dan musim yang berganti di desa adalah kesibukan yang tiada akhir bagi para petani.  Slow Living yang belakangan...

Nostalgia (Cerpen)

Gambar
Sebuah pusat perbelanjaan di kota kelahiran mantan presiden ke-7 yang padat. Matahari telah bergeser ke arah Barat sejak satu jam lalu, namun Kemala, anakku tidak menunjukkan tanda-tanda ingin pulang. Matanya masih melihat ke sana kemari, mencoba berbagai model sepatu yang lucu dan tentu saja sedang tren. Sementara kepadatan manusia membuatku tak berani jauh-jauh darinya. Seorang lelaki gempal tengah umur di section sepatu kulit, yang berjarak kurang dari satu meter membuatku terpana sesaat. Otakku membongkar nama-nama lama yang jarang berinteraksi, bahkan tak terdengar lagi puluhan tahun lamanya. Oh, betapa lekas tuanya ia, sekaligus tampak makmur sentosa raut wajahnya. Tak sengaja tatap kami bertemu. Ia tampak tertegun. Aku segera membuang pandang. Tak ada satu pun keinginan untuk mengalami kejadian luar biasa yang muluk-muluk. Segera setelah Kemala menemukan sepatu impiannya, kami pergi ke kassa untuk membayar. Aku hampir melupakan kejadian tersebut. "Pembayarannya sudah lunas ...