Nostalgia (Cerpen)

Sebuah pusat perbelanjaan di kota kelahiran mantan presiden ke-7 yang padat. Matahari telah bergeser ke arah Barat sejak satu jam lalu, namun Kemala, anakku tidak menunjukkan tanda-tanda ingin pulang. Matanya masih melihat ke sana kemari, mencoba berbagai model sepatu yang lucu dan tentu saja sedang tren. Sementara kepadatan manusia membuatku tak berani jauh-jauh darinya.

Seorang lelaki gempal tengah umur di section sepatu kulit, yang berjarak kurang dari satu meter membuatku terpana sesaat. Otakku membongkar nama-nama lama yang jarang berinteraksi, bahkan tak terdengar lagi puluhan tahun lamanya. Oh, betapa lekas tuanya ia, sekaligus tampak makmur sentosa raut wajahnya. Tak sengaja tatap kami bertemu. Ia tampak tertegun. Aku segera membuang pandang. Tak ada satu pun keinginan untuk mengalami kejadian luar biasa yang muluk-muluk.

Segera setelah Kemala menemukan sepatu impiannya, kami pergi ke kassa untuk membayar. Aku hampir melupakan kejadian tersebut.

"Pembayarannya sudah lunas dengan Bapak tadi ya, Bu" Seruan kasir itu membuatku tampak seperti orang tolol.

"Bapak siapa mbak?saya hanya berdua dengan anak saya!"mataku menerawang sekitar memastikan keberadaan suamiku yang tidak mungkin ada di sini. Tentunya ia masih ada di kantor tempat kerjanya.

"Pembayaran kartu debit atas nama Bapak Rafli, Bu"kasir itu tampak tidak sabar.

Lelaki gempal itu berdiri tak jauh dariku. Senyumnya lembut mengulas.

"Maya? Masih ingat aku ngga?"sapanya.

Tak ingin menghentikan antrian, aku memutuskan membawa belanjaanku dan agak menepi ke arahnya.

"Mas Rafli?" Aku masih tidak bisa lepas dari keterkejutanku.

"Benar-benar kebetulan!tak kusangka kamu sudah punya gadis cantik sebesar ini,"sapanya pada Kemala, anakku menyalami tangan Rafli.

"Kau apa kabar, Mas? Tinggal di Solo sekarang?"

"Hanya jalan-jalan. Kau tinggal dimana?"

"Daerah Laweyan."

Setelah sedikit basa-basi bertanya kabar dan kenalan dengan Rafli, Kemala sudah rewel minta pulang. Aku menyerah setelah tak berhasil mengganti uangnya yang telah membayar belanjaku. Tetap saja aku tidak enak, tapi ia meyakinkanku bahwa kami  mungkin tak akan lagi bertemu dan sekali ini ia ingin memberi 'oleh-oleh'. Tak lama aku melihat langkahnya menjauh ke area salon, menemui wanita tengah umur yang juga tampak makmur. Barang-barang brand bertebaran dari ujung kaki sampai kepala.

"Siapa Oom itu, Bu?"tanya Kemala.

"Seorang kawan,"kataku menatapnya, mencoba tersenyum lembut.

__________________________________________________

Hampir puluhan tahun silam, tentu kala aku masih belum menginjak usia 20-an, nama Rafli sempat singgah di hidupku. Tidak lama, barangkali tak sampai dua tahun perkenalan kami. Saat itu saya tergabung dalam Pers Mahasiswa di kampus yang sama dengannya. Namanya sempat terdengar sebagai ketua Badan Eksekutif Mahasiswa tingkat fakultas. Ia mahasiswa aktivis yang juga berprestasi, hal yang membuat kami bersinggungan. Saya mendapat tugas mewawancarainya untuk suatu artikel.

Kami bertemu di sebuah cafe baru, tak jauh dari tempat indekos saya. Setelah memesan teh leci saya memilih tempat di atap yang cukup sepi siang itu. Sambil menunggu, saya membaca buku yang saya bawa. Saat itu saya sedang menamatkan Novel "Centhini" dari Sunardian Wirodono.

Tak lama sosok gempalnya terlihat, setelah saling menyapa ia menolak dipanggil mas dan ingin dipanggil nama saja karena usia kami hanya terpaut setahun. Ia tampak membawa cup kopi, memakai kaos hitam dan jeans yang cocok dengannya. Serta ransel yang menunjukkan ia baru tiba dari suatu tempat, mungkin kampus. Seperti biasa, untuk membangun keakraban saya mencoba mencari titik temu yang sama dengan bertanya kabar orang-orang yang kami kenal. 

Setelah agak cair, wawancara saya lakukan secukupnya untuk mengulik sosoknya. Di luar dugaan, ia termasuk orang yang tertutup pada orang lain. Saya sering melihatnya tampak terbuka dengan kenalan maupun sahabatnya. Saat bertukar pesan, tadinya saya mengira ia orang yang terbuka. Itulah kesan pertama saya tentangnya.

Kami lalu mulai kenal secara pribadi. Rafli sering memberikan info tentang kegiatan-kegiatan dan info kampus yang menarik untuk diliput. Saya mengaguminya sebagai aktivis mahasiswa yang punya track record bersih. 

Suatu kali Rafli mengajak saya untuk jogging pada saat Car Free Day (CFD) di jalan Slamet Riyadi. Saya mengiyakan ajaknnya, termasuk bersedia di jemput di tempat indekos saya. Yang paling saya ingat adalah saat jogging, kami berpapasan dengan pertunjukkan topeng monyet. Saya paling takut hewan liar yang bukan peliharaan, apalagi saat monyet itu berjalan agak mendekat. Saya sampai berpegangan pada Rafli, walaupun sangat malu padanya. Ia tampak tersenyum geli.

Saat saya menjalani Kuliah Kerja Nyata (KKN) nun jauh di pelosok negeri, ia pernah meminjam uang sekian karena ATM-nya bermasalah. Saya hampir melupakan hal itu karena terlalu sibuk beradaptasi di daerah lain. Setelah satu setengah bulan kemudian saya pulang, ternyata ia bersedia menjemput saya pagi itu. Terus terang saat itu saya tampak berantakan setelah belasan jam dalam bus, sehingga menolak ajakannya untuk sarapan pagi itu. Saya hanya ingin mandi dan beristirahat seharian.

Keesokan harinya ia mengajak saya pergi ke bank untuk mengurus ATM-nya. Saya menemaninya menunggu sambil bertanya hal-hal yang saya tidak tahu. Setelahnya ia mengganti uang yang saya pinjam dan ingin mentraktir dimsum di Pasar Gede. 

Rafli pernah membawa saya menonton film animasi yang sudah sangat dinantikannya. Ia terlihat sangat 'Rafli' hari itu. Bagaimana mengatakannya ya? Ia tampak sangat menggemaskan saat mengoceh tentang film itu berulang-ulang, sangat menunjukkan dirinya yang sesungguhnya. Sekaligus sangat puas usai menontonnya. 

Itu adalah sepenggal ingatan tentang Rafli yang bisa saya ingat. Setelah beberapa bulan kami tak banyak berkomunikasi. Terakhir saya tahu bahwa ia sedang menjalin hubungan dengan gadis manis yang dikemudian dinikahinya. Mereka tampak serasi. Saya turut senang, akhirnya ia dapat menemukan perempuan manis yang cocok dengan dirinya.*



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Waktu dan Kamu

Pembuka (Cerpen)

Mengapa Cinta Tak Pernah Tepat Waktu (Resensi)