Untuk Putri (Cerpen)

Mereka turun dari sepeda motor yang biasa, menuju tempat makan mahasiswa biasa: Warmindo di Jalan Menco pada malam yang biasa itu. Yang perempuan sedikit was-was akan akibat dari keputusan impulsifnya hari itu.

Warmindo itu baru dibuka beberapa hari yang lalu sehingga relatif sepi dan belum banyak dikunjungi para mahasiswa. Desainnya lebih luas berupa tiga atau empat atap Joglo yang berderet dengan interior serba tradisional dan bangku dari kayu. Terdapat lampu kelap-kelip warna kekuningan yang membuat suasana makin hangat. Bagian paling depan berupa halaman yang cukup luas dengan ornamen bebatuan alam dan pohon-pohon yang rindang,  untuk area parkir.

"Kita duduk dimana? mau di dalam saja?"

"Iya boleh mbak,"

"Boleh aku sambil makan? aku belum sempat makan malam,"kata yang perempuan menatap penuh harap, kiranya agar lelaki itu tak keberatan. Lelaki itu melirik arlojinya yang menunjukkan pukul sepuluh malam lewat, sudah sangat larut untuk jam makan malam.

"Ya, silakan mbak,"katanya tertawa kecil.

Maka malam itu, perempuan yang tampak lapar itu memesan satu mi goreng dan es teh: pilihan biasa seorang mahasiswa. Mereka memilih duduk di bangunan Joglo kedua di bagian tengah yang jauh dari jalan raya, namun perasaan perempuan itu tak kunjung tenang.

___________________________________________________________________________________

Perempuan itu bernama Putri, nama yang sangat biasa untuk mahasiswa biasa. Namun tidak sebagaimana teman-temannya, Putri tergabung dalam Pers Mahasiswa yang tidak biasa. Antara lain karena kegigihan mereka menunjukkan idealismenya.

 Ada satu momen konyol saat mereka meliput kasus dari fakultas pembina Persma mereka, tentu saja mereka kena semprot karena dianggap meliput berita yang tidak perlu dan membuat buruk nama fakultas. Tapi entah mengapa berita itu naik juga dan tidak mendapat sensor yang berarti.

Hal itu kadang membuat Putri berpikir ulang soal keterlibatannya di Persma. Seperti malam itu, pada sebuah forum rapat ala mahasiswa mereka tengah mendiskusikan cara mengembangkan budaya literasi di tengah era digital ini.

Ini rahasia umum yang diketahui anak-anak Persma itu bahwa Putri memiliki kedekatan khusus dengan Satria yang dikenal serampangan oleh anak-anak di sana. Barangkali Putri terlalu naif untuk memutuskan menaruh rasa padanya, padahal berbagai testimoni dari semua temannya tidak pernah bernada baik.

Baiklah itu kesalahan Putri. Malam itu ia menjadi bertambah kesal karena Satria menyerang pendapatnya yang berbeda dari seorang gadis lain. Itu berarti, secara terang-terangan Satria membela gadis lain darinya. Ia tahu Satria dikemudian hari akan berkata bahwa itu hanya drama pura-puranya untuk menambah suasana serta ia akan ingaktkan Putri untuk bersikap profesional di organisasi itu, alasan yang diam-diam tidak pernah Putri setujui.

Putri tidak banyak berargumen apapun, raut wajahnya sudah menjelaskan semuanya. Setelah forum itu usai, ia segera angkat kaki tanpa sepatah katapun. Padahal kunci motornya sedang ada di tangan Satria karena mereka berangkat bersama hari itu. 


Putri memutuskan untuk mengiyakan ajakan seorang mahasiswa yang ingin belajar Persma darinya. Itu janji yang masih dibimbangkannya hari itu, yang belum dikatakan pada Satria. Adalah debat kusir di forum diskusi itu membuat Putri ingin sedikit 'membalas' sikap Satria.

Maka ia dijemput oleh seorang lelaki tinggi yang sedikit kurus yang bisa kita sebut sebagai Akbar. Secara umum wajah Akbar itu bisa dibilang ganteng oleh para mahasiswa, tinggi badannya menjadi poin tambah akan keseluruhan penampilannya. Namun pada saat itu Putri tak berpikir sejauh itu. Selain perasaannya yang sedikit tergores, ia mulai kelaparan karena belum sempat makan sedari sore.

Seiring obrolan mereka, Akbar mulai mengeluarkan notes catatannya. Putri menjelaskan segala yang diketahuinya tentang Persmanya: sistem kepengurusan, tupoksi, dan produk jurnalistik yang dibuat. Akbar menanyakan beberapa hal diantaranya. Rupanya ia diberi kepercayaan untuk memimpin sebuah persma dilingkungannya dan sedang giat mempelajarinya.

"Harusnya kamu datang ketemu pimpinan kami saja, Bar! Dia pasti dapat menjelaskan lebih baik dariku,"kata Putri dengan tawa berderai.

"Iya memang nanti saya akan bertemu dia mbak. Tapi aku memang ingin bertemu Mbak Putri juga,  lagipula kita satu fakultas," kata Akbar tersenyum. 

Sekilas tadi Putri termenung oleh pertanyaan dibenaknya, mengapa ada orang lain yang memperlakukannya dengan baik, disaat orang yang disukainya tega memperlakukannya dengan serampangan. 

Malam semakin larut saat Putri berharap tidak bertemu siapa pun malam itu. Ia butuh malam yang utuh untuk mengurai permenungannya sendiri.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Waktu dan Kamu

Pembuka (Cerpen)

Mengapa Cinta Tak Pernah Tepat Waktu (Resensi)