Tentang Ibu (Cerpen)
Kalau kami sedang ada dalam perjalanan ke suatu tempat yang memakan waktu berjam-jam. Seiring kendaraan kami melandai di jalan raya, biasanya ibu akan bercerita.
Cerita ibu banyak sekali, tak akan ada habisnya. Tak akan kami bosan, meski ceritanya selalu diulang-ulang karena toh kami kadang melupakan cerita itu.
Setiap jalan yang kami lewati kadang membawa kenangan masa kecilnya kala zaman belum semaju ini. Kendaraan belum banyak dan canggih. Saat harus mengantarkan sanak saudara pergi berobat ke kota, dulu ibu berganti-ganti bus dan kendaraan.
Berjalan 1-3 kilometer adalah hal biasa baginya. Pun ia biasa membantu membawa hasil panen dari kebun/sawah dengan berjalan kaki, meski beberapa kejadian pernah sangat menggores hatinya.
Ibu pernah bercerita betapa ia sangat takut tiap harus mengambil air konsumsi rumah tangga dari sumber air. Ada titik tempat yang dipercaya angker, tiap langkahnya ke sana selalu diiringi degup jantung yang tak beraturan. Tapi ibu lakukan, agar mendapat pujian dari orang tuanya sebagai anak yang rajin. Sebagai anak bungsu, ibu adalah yang terlucu di keluarganya.
"Ah, tapi itu tak seberapa karena saya dulu tidak begitu diwajibkan mengambil air. Kalau airnya bertambah toh hanya sedikit. Lebih kasihan teman saya yang walaupun orang 'ada' tapi dipaksa mengambil air sampai memenuhi bak kamar mandi. Padahal waktu itu dia anak satu-satunya di keluarga itu," kata ibu mengenangkan temannya.
Ibu juga tak lagi bersedih jika mengingat dirinya yang diambil anak angkat oleh kakak dari ayahnya. Meski dulu perpindahannya diikuti air mata dari ibu kandungnya.
Waktu itu pikirnya ia hanya ingin kebebasan karena sering direcoki oleh kakak-kakaknya untuk melakukan pekerjaan rumah. Dan pindahnya pun tak jauh, hanya beberapa rumah. Tapi demi melihat anak sekecil itu memasukan buku dan bajunya ke keranjang -( karena zaman itu tas apalagi koper tak banyak diakses semua kalangan dan tentu amat mahal) yang dipakai bolak-balik selama pindahan, nenek toh menangis juga.
Melihat ibu mengenangkan orang-orang tua di masa kecilnya yang beberapa kini telah tiada, selalu menyadarkanku bahwa hidup ini demikian adanya. Orang-orang tua yang nanti hanya tinggal cerita. Mereka pada masanya pernah mengalami senang, sedih, dan pengalaman hidup yang menghantamnya sekaligus mengajarinya mengambil pilihan.
Setiap orang ada masanya, setiap masa ada orangnya. Nanti pada gilirannya kita akan mengalami juga yang dialami orang lain, jika tuhan kasih kesempatan kita mengalaminya.

Komentar
Posting Komentar