Mengapa Cinta Tak Pernah Tepat Waktu (Resensi)
Setelah membaca Novel Kisah yang Pendek Untuk Cinta yang Panjang (2017) dari Puthut EA yang benar-benar mengena karena mengisahkan sepasang mantan kekasih yang bertemu lagi setelah puluhan tahun dan sedikit nostalgia kisah cinta masalalu mereka, aku baru tertarik untuk menguliti Novel prekuelnya Cinta Tak Pernah Tepat Waktu (2005). Padahal filmnya telah keluar tahun ini dan cukup ramai penonton.
Kisah diawali dengan tokoh aku yang bertemu lagi dengan mantan kekasihnya yang pergi dan menikah dengan orang lain, meninggalkan dia terpuruk berbulan-bulan. Ia menyadari bahwa ternyata dirinya masih belum dapat sembuh sepenuhnya dari luka tersebut. Apalagi setelah perempuan itu mengakui masih mencintainya. Hal itu menjadi pukulan baru bagi tokoh aku yang sedang berusaha menyembuhkan dirinya.
Ia bahkan menolak untuk berhubungan dengan orang baru demi menyadari bahwa mengalihkan keresahannya pada orang baru bukanlah jawaban yang tepat bagi trauma masalalunya. Kedekatannya dengan para perempuan baru setelah mantan kekasihnya tidak pernah berjalan lancar.
Diceritakan juga pengaruh mantan kekasihnya yang begitu besar, yang membantunya bangkit pada masa mudanya yang kelam saat terlibat dalam gerakan bawah tanah dan politik. Saat semuanya tak berjalan sesuai harapannya, mantan kekasih itu dengan sabar menemaninya. Mengajaknya kembali menyelesaikan kuliahnya yang terbengkalai dan merawat segala kebutuhannya.
Namun perhatian yang sedemikian besar ternyata menyebabkan mantan kekasihnya begitu lelah, apalagi ketidakpastian hubungan mereka kerap ditanyakan oleh ayah si perempuan. Maka hubungan mereka putuslah. Itu menjadi pukulan yang dalam bagi tokoh aku.
Maka setelah ditinggalkan mantan kekasihnya, tokoh aku menjalani hari-hari menyembuhkan diri.Ia berhasil selamat dari keterpurukan itu semata-mata atas dukungan para sahabatnya dan keluarganya. Ia sempat terjerumus pada obat penenang akibat traumatis yang dialaminya. Termasuk tokoh Tante Wijang, tante dari salah satu pacarnya yang berakhir putus. Tante Wijang menyediakan rumah peristirahatan yang menentramkan jiwanya.
Waktu lalu perlahan menyembuhkan hingga ia dapat beraktivitas normal seperti sediakala. Namun waktu juga yang membikin hubungannya dengan para perempuan setelah mantan kekasihnya itu tidak menjadi lancar. Ia menjadi peragu yang selalu gagal dilumat waktu. Terlambat menyatakan perasaan, momen yang tidak tepat, hampir selalu membayangi kisah cintanya yang gagal.
Setelah ia bertemu lagi dengan mantan kekasihnya yang sudah menikah, namun menyatakan cinta padanya, ia lalu kembali datang ke rumah peristirahatan Tante Wijang dan di snaa ia belajar meditasi dan yoga untuk ketenangan jiwanya.
Ia sempat kembali jatuh cinta pada seorang perempuan pemilik kafe yang bernama Kania. Nahasnya dari informasi yang didapat dari teman-temannya yang sering berkumpul di kafe itu Kania diketahui sudah menikah dan punya anak. Tokoh aku kembali belajar merelakan cintanya.
Di kemudian hari mereka bertemu dalam sebuah perjalanan di kereta, terbongkarlah sebuah rahasia beberapa bulan sebelumnya Kania ternyata belum menikah dan mengatakan informasi itu supaya teman si aku tidak lagi mengganggunya. Lebih terkejut lagi saat Kania mengakui sebenarnya ia juga memiliki rasa tertarik pada aku. Namun, sayangnya saat pertemuan itu terjadi, Kania baru saja menikah.
Seperti judulnya, Cinta Tak Pernah Tepat Waktu rasanya benar adanya. Kenangan ditinggal nikah menjadi traumatis yang sering kambuh dan menyiksa sehingga perlu waktu untuk menyembuhkan diri. Seperti salah satu kutipan didalamnya
"Kalau ada sesuatu yang mengganjal dirimu karena masa lampau, kupikir kamu harus menyelesaikan itu dulu" - Puthut EA
Maka menyikapi berbagai kegagalan cinta yang terhalang waktu kita harus menyadari: Barangkali itu bukanlah takdir yang diperuntukkan bagimu, sehingga seberapapun kamu berusaha, cinta tetap tak dapat menyapa. Dan menghadapi itu kita hanya dapat merelakan orang yang kita cintai untuk bertemu dengan takdirnya.

Komentar
Posting Komentar