Buku yang Tidak Lagi Dibaca (Cerpen)

 


Malam ini lagi-lagi aku hanya bertemankan bosan. Terjebak dalam rutinitas harian kerja-pulang-rumah dalam ritme yang statis benar-benar membikin mati kutu. Menyisakan malam yang beku. Juga mematikan rasaku sedikit demi sedikit. Tubuh yang mudah lelah diusia muda. Keinginan untuk berlari kencang ke depan, sekaligus ingin selalu berpijak hari ini. Aku bak terombang-ambing di lautan ambang, sementara yang kutunggu yang kian nampak batang hidungnya.

________________________________________________________________________________

Aku memilah-milah buku untuk sekadar membunuh waktu. Tak banyak yang menarik karena hampir semuanya telah usai dibaca. Beberapa yang favorit malah kerap dibaca ulang. Diberi garis dan catatan dibeberapa sisi. 

Dulu aku ingat betul kebiasaan menggarisi dan memberi catatan kaki pada buku adalah kebiasaan seseorang yang kuadaptasi. Berkebalikan, aku awalnya sayang untuk membikin satupun coretan di sebuah buku, karena barangkali nanti buku itu akan berpindah tangan. Tapi membikin catatan dan menggaris kutipan pada buku ternyata memberi sensasi tersendiri saat kita membaca ulang. Atau karena orang yang mengajarkannya adalah dia?

Tiba-tiba tanganku meraih buku setebal 500 lebih halaman karya bestseller Yuval Noah Harari yang sempat ramai diperbincangkan karena kontroversinya beberapa tahun lalu. Sebuah senyum tipis tiba-tiba melintas dibibirku, tatkala kuingat alasan aku membeli buku yang tak lagi kubaca itu.

Adalah kakak tingkatku yang paling vokal, yang paling kritis, dan si paling-paling itu yang membikin aku secara impulsif membeli buku yang 'berat' itu. Buku yang baru kubaca sampai halaman 200-an itu mandeg, karena aku harus sibuk mengerjakan skripsi saat itu. Usai kelulusan, aku segera sibuk melamar kerja lalu terjebak rutinitas dengan pekerjaan saat ini.

Buku yang mati-matian kubaca itu (dengan mengandalkan KBBI dan metode searching di internet) masih menyisakan sedikit skeptis untuk tidak serta merta mempercayakan keyakinanku pada sains dan filsafat itu. Dipikir-pikir lucu juga, bukanlah novel romantis atau kumpulan puisi, malah buku ilmiah yang menjadi petanda suatu rasaku yang lebih dari seharusnya pada dia.

Kemudian kuingat sebuah pertemuan pertama yang memantik semuanya. Seorang lelaki muda berkacamata yang tiba-tiba menyerahkan kumpulan cerpen dari seorang penulis yang kutahu.

"Ini coba dibaca, kamu suka kumpulan cerpen kan?"

"Ini boleh kupinjam, Mas?"

"Ya, boleh pinjam saja,"

"Makasih Mas, nanti kukembalikan,"

"Santai aja, gausah buru-buru."

Seperti biasa, orang satu itu selain dapat julukan 'si paling' memang nyentrik ala kadarnya. Justru hal-hal semacam itu yang dulu menjadi perhatian tersendiri buatku. Aku ingat beberapa kali ia menawarkan hal yang sama seakan tahu buku-buku apa saja yang kubaca, buku-buku dari penulis yang kutahu, buku- buku yang kusenangi. Kuakui dalam hal ini analisanya sangat cermat dan teliti. Kecuali caranya mengomunikasikan perasaan. Baginya bahasa tindakan adalah tanda cinta yang sebenarnya.

Malam ini aku mengenangkan lagi peristiwa beberapa tahun silam dan dirinya. Rasanya aku sudah melangkah sangat jauh untuk menjadi aku sekarang. Baik dirinya dan kenangan yang diberikannya, sudah terpisah jarak maupun waktu. Tak lagi tergapai. Namun, buku yang tak lagi kubaca itu menyisakan satu celah nostalgia yang mengundang secuil rindu kala nasib tak lagi mengizinkan kami untuk bertemu.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Waktu dan Kamu

Pembuka (Cerpen)

Mengapa Cinta Tak Pernah Tepat Waktu (Resensi)