Tentang Sore: Istri dari Masa Depan (Ulasan)
Buat suamiku di masa depan...
Aku penasaran apakah kamu juga menontonnya saat film itu rilis? Sepanjang film pikirku membayangkan bagaimana reaksimu menonton film itu. Apakah kamu hampir sama seperti Jo atau sebaliknya? Karena tema percintaan marriage itu kerasa lebih masuk diumur-umur ini. Apalagi pas udah sadar kalau pernikahan itu bukan cuma enaknya aja.
Akhirnya bertemu lagi dengan "Kamu tahu mengapa senja menyenangkan? Kadang ia merekah bahagia, kadang ia hitam gelap berduka. Tapi langit selalu menerima senja apa adanya."
Aku tidak pernah bisa membayangkan terbuat dari apa perempuan semacam Sore (jika benar ada orang seperti itu di dunia). Adegan dimana ia menyatakan itu bukan pertama kali ia melakukan timeloop itu kayak menyihirku jadi bengong beberapa saat. Itu juga menjadi kunci pertanyaan yang tak terjawab di web seriesnya. Jika versi webseries Sore baru pertama kali bertemu Jonathan saat lajang. Di film ini ternyata Sore telah melakukan berulang kali perjalanan dan berbagai strategi untuk mengubah hidup Jo menjadi lebih baik. Mata Sore yang tampak lelah karena harus merasakan sakit karena mengulang waktu adalah perasaan yang tidak bisa terjabarkan.
Ia rela mengulang takdir demi takdir yang sama, mencari cara agar Jo tidak lagi mengulang kebiasaan buruknya: begadang, minum alkohol, dan merokok. Tapi seperti kata Marko ada tiga hal yang tidak bisa diubah oleh waktu, masalalu, rasa sakit, dan kematian.
Sore bahkan sempat hampir menyerah dan memulai hidup baru sebagai asisten desainer. Tapi melihat Jo lagi membuatnya kembali bertekad mencari tahu luka terpendam yang Jo dapatkan karena ditinggal ayahnya saat ia 4 tahun.
Saat Sore sudah sampai diujung perjuangannya. Waktu tetap tidak mengizinkan alur hidup mereka berubah. Akhirnya Sore untuk pertama kalinya sejak "Jika aku harus menjalani sepuluh ribu kehidupan, aku akan selalu memilihmu."
Jo lalu terbangun tidak lagi bertemu Sore si istri dari masa depan. Tetapi ia mulai berubah takdirnya: bertemu ayahnya, mengubah gaya hidupnya yang tidak sehat, dan pulang ke Indonesia. Ia tetap menggeluti pameran fotografinya.
Saat mengadakan pameran itulah ia bertemu Sore. Saat berkenalan, seluruh ingatan keduanya kembali membayang di mata mereka. Termasuk universe saat Jo meninggal dan Sore melalukan perjalanan mengenang masa muda Jo di Kroasia. Aurora yang sama yang mereka saksikan. Akhirnya Jo tahu bahwa orang berubah bukan karena rasa takut, tapi karena dicintai.

Komentar
Posting Komentar