Postingan

Cerita Kamis Pagi

 Aku terbangun lesu pukul 7 pagi lewat beberapa menit. Sudah ketiga kali terjaga, dihitung dari pukul 3 dan pukul 5 pagi tadi. Tidak seperti hari-hari yang sudah lalu, pagi ini perasaanku penuh. Sudah cukup lama aku tidak bangun dengan perasaan yang demikian. Biasalah, patah hati lagi. Tapi itu bukan hal yang mau aku ceritakan kali ini.  Aku menunda-nunda bangkit, masih terbaring gulak-gulik di kamar indekosku yang senyap. Goresan mentari sebenarnya sudah molos dari kaca jendela yang menghadapku langsung. Kamar kos yang dirancang agar tetap terang sepanjang hari, demi menghemat biaya listrik dan lebih alamiah ini kadang menuntutku buat selalu bangun pagi. Kamar sebelah juga senyap, di loteng ini hanya ada kamar kami berdua. Perut yang mulai perih mengingatkanku bahwa semalam hanya sempat menyantap es krim. Tidak ada lagi yang kumasukan ke lambung, karena sudah berangkat tidur pukul 9 lewat. Tak urung aku menyesali kondisiku di saat-saat seperti ini. Kadang patah hati dapat sed...

Resensi Centhini: Mengintip 40 Malam Pengantin

Serat Centhini atau dikenal juga sebagai Suluk Tambang Raras yang disebut sebagai Ensiklopedia Kebudaayan Jawa ini diprakarsai oleh Adipati Anom Amangkunegara III yang kelak bertahta Sunan Pakubuwana V bersama 3 pujangga istana Raden Ngabehi Ranggasutrasna, Raden Ngabehi Yasadipura  II (Ranggawarsita I), dan Raden Ngabehi Sastradipura (Kiai Ahmad Ilhar). Naskah asli setebal 12 jilid yang disusun sejak tahun 1814-1823 ini berisi pengetahuan kebudayaan Jawa mulai dari sejarah, pendidikan, geografi, arsitektur, pengetahuan alam, filsafat, agama, tasawuf, , klenik, ramalan, sulap, kesaktian, perlambang, adat istiadat, tata upacara tradisi, etika, psikologi, flora, dan fauna. Oleh Sunardian Wirodono, naskah tersebut dinovelisasi menjadi "Centhini, Sebuah Novel Panjang: 40 Malam Mengintip Sang Pengantin" yang menceritakan sudut pandang seorang abdi atau pembantu bernama Centhini. Secara harfiah kata centhi sendiri bermakna pembantu. Dengan mengambil sudut pandang orang pertama itu,...

Pacarannya Orang Dewasa

Ada satu temanku yang akrab pas Praktik Lapangan Persekolahan atau PLP 1, itu berarti tahun 2022 lalu. Selama program satu bulan itu kami sering nongkrong berempat, jadi ada sesi curhat colongannya. Saat itu kami lagi cobain es kapal di dekat jalan Slamet Riyadi. Es coklat di situ enak, manis, dan rotinya lembut. Wajar banyak yang suka. Banyak anak SMA kumpul di situ. Aku ingat, soalnya saat datang pertama kali kami sempat disasarin sama Google Maps. Temanku, sebut saja B itu cerita kalau dia sama pacarnya lagi LDR. Pacarnya lagi pendidikan di salah satu institusi militer yang katanya gaboleh pegang HP. Mereka pacaran pun secara privat, yang tahu hanya orang terdekat alias ngga sembarangan posting di sosmed. Menurut kita, itu bakal jadi problem banget buat relationship . Tidak berkomunikasi berbulan-bulan, kalau kangen gimana? Dia kelihatan adem ayem aja, padahal kami yang lainnya masih bergelora, lagi semangat-semangatnya curhat soal cinta yang banyak dramanya hahaa. Maklumlah masih t...

Resensi Novel Ayah: Menyelami Cinta Secara Sederhana

Novel "Ayah"  (2015) karya penulis kondang "Laskar Pelangi", Andrea Hirata yang sempat ke sohor diawal tahun 2000an ini menunjukan produktivitasnya ditengah arus penulis-penulis tenar yang bermunculan. Masih mengangkat sketsa masyarakat Belitong, pembaca diajak menemani asmara seorang lelaki malang berparas kurang yang gemar berpuisi bernama Sabari yang menemukan tujuan hidupnya hadir di dunia ini yakni demi menyandang peran sebagai ayah. Ironinya Sabari menjadi ayah dari Zorro yang bukan merupakan anak kandungnya. Ini adalah serangkaian cinta bertepuk sebelah tangannya pada Marlena, ibu kandung Zorro, sejak SMP. Sabari tak berhenti menghujani Lena dengan puisinya, ia mengiriminya lagu, bahkan mengikuti perlombaan olahraga hanya untuk meraih perhatian perempuan itu. Namun Marlena acuh saja. Harap maklum karena penampilan Sabari jauh dibawah tampan dan tidak ada hal istimewa yang dapat membuat Lena tertarik padanya. Salah satu quotes yang membekas dalam buku ini adal...

Resensi: Bulan Nararya, Mencari Makna Hidup Dari Klien Skizophrenia

  Novel “Bulan Nararya” karya Sinta Yudisia yang kini telah mapan sebagai konselor dan penulis, menjejak ingatan khusus bagi saya. Novel yang terbit pada September 2014 ini memiliki pengaruh yang besar dalam sekolah menengah saya yang bingung mencari jati diri. Membaca novel ini selalu membangkitkan keinginan saya untuk lebih menyelami diri saya sekaligus emosi yang ada didalamnya. Buku terbitan Penerbit Indiva ini merupakan Juara III kategori Novel dalam Kompetisi Menulis Tulis Nusantara 2013 yang diadakan oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia. Secara singkat novel ini menceritakan tentang Nararya Tunggadewi, seorang terapis di sebuah pusat rehabilitasi jiwa yang menemukan makna hidupnya setelah mengabdikan diri di tempat tersebut. Dalam perjalanan karirnya, ia mengalami guncangan setelah usulan Transpersonal sebagai terapi di klinik tersebut ditolak. Ditambah perceraiannya dengan Angga, suaminya yang malah menjalin hubungan dengan sahabatnya, menamb...

Resensi: Bekisar Merah, Air Nira Hingga Peliharaan Pejabat Ibukota

 Akhirnya setelah lebih dari sebulan, pagi ini menjadi halaman terakhir novel karya seniman kenamaan Ahmad Tohari selesai kubaca. Pertama kali membaca halaman muka novel "Bekisar Merah" dan halaman blub, sebenarnya kurang ada ketertarikan untuk membacanya.  Gaya bercerita Ahmad Tohari yang diawali citraan penglihatan, pendengaran, perabaan, dan intelektual dalam penggambarannya atas kejadian alam di Karangsoga  sebagai petanda menjadi ciri khas yang jika dibaca secara cermat, sebenarnya merupakan tanda dan makna yang dalam, yang berkaitan dengan jalan cerita. Unsur Ilahiah yang tampak pada masjid Eyang Mus sebagai penjaga moral, serta kehadiran Eyang Mus sendiri melengkapi ciri religius dalam novel ini.  Garis besar ceritanya sudah jelas, Lasi sebagai 'bekisar merah', anak blasteran pribumi-Jepang yang menjadi inti dari cerita adalah keunikan tersendiri. Dengan keunikan lahiriahnya pula ia-selain dikagumi kecantikannya- juga harus mengalami nasib kurang menyenangkan ...

Kencan Buta (Cerpen)

  Hari ini aku bangun lebih pagi untuk mulai berdandan lebih awal di muka cermin. Mengukir alis, menabur lapis-lapis bedak, dan mengulas lipstik merah ceri. Tidak lain dan tidak bukan, karena hari ini aku ada janji kencan buta dengan salah seorang penulis sastra koran yang berdomisili di Jogya. Dari sana ia akan mampir ke kota kecilku, hanya untuk menemui aku, katanya! Beberapa bulan lalu, aku baru putus dengan pacarku yang keliatan saleh itu, yang sangat kusayangkan. Aku sempat depresi beberapa minggu, sebelum mulai keluar menampakkan diri. Bundaku nyaris sujud syukur setelah aku bilang mau makan sayur sop! Selama ini aku hampir selalu mengunci bibir pada setiap orang. Ini semua karena Enah! Enah, kawanku yang binal itu tiba-tiba menelponku tengah malam. Ia tahu keadaanku yang buruk dan berjanji akan menyeretku keluar kamar pagi harinya. Paginya ia mengajakku jalan-jalan dengan bujukan mau membayariku semuanya. Setelah shopping dan makan cantik, Enah memintaku membayar dengan ...