Pacarannya Orang Dewasa

Ada satu temanku yang akrab pas Praktik Lapangan Persekolahan atau PLP 1, itu berarti tahun 2022 lalu. Selama program satu bulan itu kami sering nongkrong berempat, jadi ada sesi curhat colongannya. Saat itu kami lagi cobain es kapal di dekat jalan Slamet Riyadi. Es coklat di situ enak, manis, dan rotinya lembut. Wajar banyak yang suka. Banyak anak SMA kumpul di situ. Aku ingat, soalnya saat datang pertama kali kami sempat disasarin sama Google Maps.

Temanku, sebut saja B itu cerita kalau dia sama pacarnya lagi LDR. Pacarnya lagi pendidikan di salah satu institusi militer yang katanya gaboleh pegang HP. Mereka pacaran pun secara privat, yang tahu hanya orang terdekat alias ngga sembarangan posting di sosmed. Menurut kita, itu bakal jadi problem banget buat relationship. Tidak berkomunikasi berbulan-bulan, kalau kangen gimana? Dia kelihatan adem ayem aja, padahal kami yang lainnya masih bergelora, lagi semangat-semangatnya curhat soal cinta yang banyak dramanya hahaa. Maklumlah masih terhitung mahasiswa baru abis disekap pandemi Covid-19 itu. 

Dia bilang dia percaya aja sama pacarnya. Dia juga bilang kalau lelaki itu pulang ke rumah asalnya (kebetulan mereka masih tetangga), ya mereka kencan aja kayak biasanya. Waktu itu pikirku, kok bisa ya? Usut punya usut hubungan mereka memang udah kehitung tahunan sejak sekolah menengah atas. Orang tuanya juga udah saling kenal. Mereka ngga bosen satu sama lain, biarpun lama ngga ketemu. Kalau ketemu lagi deg-degannya masih sama, katanya,

Temanku itu ngisi waktu luangnya buat kuliah, aktif di organisasi prodi, kepanitiaan, dan bantu-bantu dosen. Selain itu dia juga penari sanggar dan bisa jasa rias juga. Dia keliatan cemerlang banget waktu itu, banyak bergaul, minding her own bussines, dan ngga kelihatan galau. Walaupun, ngakunya ya kadang ada kangennya juga. Nah, sekarang saat aku harus mengalami fase yang sama, aku keinget dia dan penasaran. Siapa yang ngajarin dia survive hidup kayak gitu?

Belakangan aku tahu, narasi tentang jatuh cinta itu kadang kita romantisasi secara berlebihan. Dari penjelasan Dr. Ryu Hasan alias yang terkenal sebagai Dokter Bedhes ahli neurosains itu, jatuh cinta itu katanya  istilah buat masa percumbuan pra persetubuhan/ atau perkawinan. Ini jadi membentuk persepsi bahwa jatuh cinta terbaik memang di usia yang matang, di saat kita memang sudah siap buah nikah. Kalau kondisinya sedang tidak dapat menikah dalam waktu dekat, masih menempuh pendidikan atau meniti karir yang butuh fokus khusus, rasanya bakal berat dan banyak rintangannya buat tetap bersama. 

Banyaknya kasus perceraian artis, perselingkuhan, KDRT, dan isu buruknya rumah tangga di sosmed itu menyumbang turunnya minat pernikahan. Data BPS bilang penurunan angka pernikahan tahun 2023 sebesar 7,51% dibanding tahun 2022. Sebenarnya rumah tangga yang adem ayem juga banyak, tapi ngga ditampilkan aja.

Makanya kalau lihat para remaja putri di sekitarku yang buru-buru pingin cepat nikah, aku jadi mempertanyakan apa yang sudah mereka persiapkan untuk berumahtangga?Apa emosi mereka udah cukup stabil buat saling memahami pasangan, apa finansial mereka sudah aman, apa mereka sudah cukup ilmu pegangan hidup? Ini aku pertanyakan, karena diusia belasan dulu aku dengan tingkat penasaran itu juga ngga pernah mikir apa-apa saja yang perlu disiapkan buat nikah. Semakin kita cari tahu, ada banyak hal-hal yang harus kita persiapkan buat menyongsong rumah tangga itu. Ternyata jatuh cinta diusia dewasa itu tidak benar-benar lagi terasa seperti 'jatuh cinta'.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Waktu dan Kamu

Pembuka (Cerpen)

Mengapa Cinta Tak Pernah Tepat Waktu (Resensi)