Kencan Buta (Cerpen)
Hari ini aku bangun lebih pagi untuk mulai berdandan lebih awal di muka cermin. Mengukir alis, menabur lapis-lapis bedak, dan mengulas lipstik merah ceri. Tidak lain dan tidak bukan, karena hari ini aku ada janji kencan buta dengan salah seorang penulis sastra koran yang berdomisili di Jogya. Dari sana ia akan mampir ke kota kecilku, hanya untuk menemui aku, katanya!
Beberapa bulan lalu, aku baru
putus dengan pacarku yang keliatan saleh itu, yang sangat kusayangkan. Aku
sempat depresi beberapa minggu, sebelum mulai keluar menampakkan diri. Bundaku
nyaris sujud syukur setelah aku bilang mau makan sayur sop! Selama ini aku
hampir selalu mengunci bibir pada setiap orang. Ini semua karena Enah! Enah,
kawanku yang binal itu tiba-tiba menelponku tengah malam. Ia tahu keadaanku
yang buruk dan berjanji akan menyeretku keluar kamar pagi harinya.
Paginya ia mengajakku jalan-jalan
dengan bujukan mau membayariku semuanya. Setelah shopping dan makan cantik, Enah
memintaku membayar dengan bercerita secara jujur. Mengetahui kabar cintaku yang
karam, ia malah ngikik menertawaiku karena bodoh bisa dipermainkan lelaki. Juga
ia misuh-misuh setelah kuceritakan bagaimana pacarku itu yang awalnya sangat
manis, berubah jadi bajingan setelah kepergok tidur sama LC.
Enah yang beberapa tahun
belakangan ini tampak makmur setelah disimpan oleh pengusaha batubara, lalu
menyuruhku untuk bermain dating aps. Tak lupa ia mengajariku cara-cara menggaet
lelaki agar loyal dan bisa dibodohi. Aku yang sedang bodoh mau saja dibodohi.
Dan di sinilah aku hari ini, di Museum Tumurun bersama seorang lelaki metroseksual yang masih betah berbicara dari beberapa menit lalu. Aku bersedia mengikuti ajakannya karena kagum dengan gagasan dan pemikirannya. Ia terlihat sangat intelektual dan berwawasan.
Setelah tour dengan pemandu museum selesai, lelaki
yang mengajariku memanggilnya mas itu tak lepas-lepas menggandeng tanganku. Namun, beberapa kali tangannya singgah dipinggulku dengan gestur memiliki. Aku sedikit
risih karena itu pertemuan pertama kami, namun ia seakan tak melihatnya.
Usai tour yang hanya makan waktu
satu jam itu, kupikir kencan kami telah berakhir.
“kamu pernah ke atas?” tanyanya.
Yang dimaksud atas itu adalah daerah Tawangmangu, Solo.
“belum mas,”
“Mau main ke situ sama mas? Mumpung masih sore,” tawarnya.
Aku awalnya ragu karena tidak menduga akan ajakannya pergi
ke sana tiba-tiba, namun akhirnya aku iyakan. Aku suka daerah dingin.
Sebenarnya aku sering ke sana, ada beberapa kenalan yang dapat kumintai pertolongan jika dibutuhkan.
Akhirnya kami pergi ke atas, naik
motor! Entah hanya perasaanku, namun lelaki itu mengendarai motor dengan sangat
kencang. Aku was-was! Sepanjang jalan ia mengajakku mengobrol dan terlihat
sudah jago dalam hal itu.
“Pegangan saja sama mas!”katanya
menarik tanganku melingkari pinggangnya. Ini pertama kali kami bertemu dan dia
tidak terlihat canggung sama sekali.
Ini yang aku lupakan, ternyata
daerah atas jelang malam itu dingin sekali! Tidak seramah waktu siang dan sore
hari. Beberapa kali lelaki itu menanyakan apakah aku kedinginan, yang selalu
kujawab dengan basa-basi. Hari itu dia membawa jaket seperti sudah
mempersiapkan diri. Sedangkan aku hanya berkemeja tipis.
Kami hanya makan bersama di salah satu cafe, ia memilih duduk di area terbuka. Angin dingin mulai menyapa.
“Kalau hujan bagaimana
ya?”katanya melihat sore yang agak mendung.
“gimana ya mas?”tanyaku bingung, jujur aku belum berpikir sampai sana. Sementara mentari kian sembunyi.
“Misal hujan kita neduh di villa
dulu, adek gapapakah?”katanya menatapku.
Wah, kurang ajar! Dia pikir aku perempuan apa? Untunglah Enah sudah membekaliku dengan berbagai mitigasi kencan buta yang ada gunanya. Akhirnya kukatakan bahwa aku sudah ada janji lain malam itu yang sangat penting, sehingga harus segera kembali. Ia hanya tersenyum canggung dan mengiyakan.
Sepanjang perjalanan pulang itu aku benar-benar membeku! Kemeja katun yang hanya selapis ini tidak bisa menghalau dinginnya angin daerah atas, ditambah motor yang melaju kencang. Lelaki itu menawarkan solusi yang tak pernah kuduga sebelumnya. Ia memasukan tanganku pada kantong jaketnya dan memintaku memeluknya. Aku yang merasa beku tidak memiliki alasan untik menolaknya. Belum selesai kagetku. Saat itulah ia malah menyatakan perasaannya padaku!
Enah, Piye to kik?!!!!
Komentar
Posting Komentar