Resensi Novel Ayah: Menyelami Cinta Secara Sederhana

Novel "Ayah"  (2015) karya penulis kondang "Laskar Pelangi", Andrea Hirata yang sempat ke sohor diawal tahun 2000an ini menunjukan produktivitasnya ditengah arus penulis-penulis tenar yang bermunculan.

Masih mengangkat sketsa masyarakat Belitong, pembaca diajak menemani asmara seorang lelaki malang berparas kurang yang gemar berpuisi bernama Sabari yang menemukan tujuan hidupnya hadir di dunia ini yakni demi menyandang peran sebagai ayah. Ironinya Sabari menjadi ayah dari Zorro yang bukan merupakan anak kandungnya. Ini adalah serangkaian cinta bertepuk sebelah tangannya pada Marlena, ibu kandung Zorro, sejak SMP. Sabari tak berhenti menghujani Lena dengan puisinya, ia mengiriminya lagu, bahkan mengikuti perlombaan olahraga hanya untuk meraih perhatian perempuan itu. Namun Marlena acuh saja. Harap maklum karena penampilan Sabari jauh dibawah tampan dan tidak ada hal istimewa yang dapat membuat Lena tertarik padanya.

Salah satu quotes yang membekas dalam buku ini adalah dikatakan bahwa " Tuhan selalu menghitung, akan tiba waktunya ketika Tuhan berhenti menghitung", begitupun yang dialami Sabari.

Oleh suatu sebab, Sabari rela menumbalkan diri untuk menikahi Marlena, menutup aib perempuan yang hamil diluar nikah tersebut. Kenytaan yang ganjil dimana Sabari merasa beruntung menikahi perempuan yang paling dicintainya, sedangkan Marlena harus menikah dengan orang yang paling dibencinya. 

Rumah tangga yang ganjil itu tetap berjalan dengan perhatian Sabari. Cinta yang ingin kubahas di sini adalah Sabari yang mencintai Marlena seumur hidupnya. Perempuan yang bahkan tak pernah disentuhnya, yang hanya bertemu 4 kali selama berumah tangga itu selalu dicukupkan kebutuhannya. Ia mencintai Marlena yang disebutnya Purnama Keduabelas dengan tanpa menuntut apapun. Bahkan saat Lena sering meninggalkan bayinya, ia tak pernah meributkannya. Cinta Sabari yang lugu dan berlimpah itu ternyata tak cukup mengisi hati Lena. Perempuan manis berwatak keras itu tak pernah mencintai Sabari.  Ia pribadi pembosan yang sering bergonta-ganti pasangan. 

Marlena lalu menceraikannya dan membawa pergi Zorro. Sabari menghadapi 8 tahun kegilaan akibat ditinggalkan anak yang sangat disayanginya dan Marlena.  Dalam pelariannya ia membawa Zorro. Akhirnya Marlena menyadari bahwa Zorro adalah segalanya dalam hidupnya. Anak yang tampan dan cerdas itu selalu menghibur Lena dan menjadi alasan untuk bertahan di masa sulitnya. Beruntung kedua sahabat Sabari, yakni Ukun dan Tamat menawarkan diri untuk mencari Marlena melalui sahabat penanya, mereka berhasil membawa pulang Zorro kembali bersamanya.

Saya bisa memahami bahwa bagi Marlena, Sabari bukanlah lelaki impiannya. Ia tidak memenuhi kriteria lelaki idaman Lena, kecuali fakta bahwa ia lelaki lugu yang baik dan setia. Bahwa perkawinannya dengan Sabari bukan hal yang dikehendaki Lena, melainkan keterpaksaan. Bahwa dicintai sebanyak itu oleh orang yang tidak kita cintai kadang terasa menyebalkan. 

Lain dengan hubungannya Lena dengan Manikam, PNS yang mapan atau Jon Pijareli seorang vokalis band yang naik daun, terjadi atas kehendaknya. Walaupun ia sempat merasakan bosan akan kemapanan dan diselingkuhi oleh Jon Pijareli. Namun akhirnya tidak dijelaskan alasan Marlena memilih berakhir menikah dengan sahabat penanya Amirza yang hidup dalam kesulitan di Dabo.

Di sisi lain Sabari yang seumur hidupnya hanya mencintai Lena, yang seakan diperlakukan tidak adil oleh cinta, merasa cukup hanya dengan dapat menikah perempuan itu, mengantarkannya bersalin, merawat anaknya dengan kasih hingga ujung usianya. Ia tak pernah menuntut apapun. Namun terkadang cinta yang demikian pun masih tidak cukup. 

Dalam novel ini juga dibahas bentuk-bentuk cinta yang lain. Izmi yang terinspirasi oleh kisah cinta Sabari, berjuang untuk mimpinya menjadi dokter hewan. Zuraida, sahabat karib Lena yang terinspirasi oleh petualangannya, akhirnya berani menikmati hidupnya walau belum bertemu jodohnya. Ukun dan Tamat yang setiakawan pada Sabari, akhirnya menemukan jodoh mereka. Cinta Larissa Wuruninga pada ayahnya yang menemukan penyu yang membawa surat Sabari yang kehilangan anaknya, membuatnya tak malu untuk menemani ayahnya mencari Zorro. Meskipum dianggap gila oleh orang orang. Belakangan Larissa mengetahui bahwa ayahnya terpisah oleh kakak dan orangtuanya oleh peristiwa di Australia yang menjadikannya stolen generation.

Di luar hal itu, Andrea sepertinya ingin mengangkat lagi budaya bahasa yang ada di tanah air. Hal itu ditunjukkan pada minat Sabari dan Zorro akan puisi yang menggelora. Di era ini, oleh banyaknya hiburan dan banyaknya informasi, kebiasaan berpuisi maupun pantun kian ditinggalkan. Dunia yang global seakan menjadikan kita lupa oleh keragaman budaya bahasa asli negara, hingga tak jarang puisi memiliki arti khusus dan dipandang lebay bagi sebagian orang. Padahal itu adalah budaya kebiasaan kita dalam mengungkapan ekspresi diri pada masanya

Pesan itu juga ditegaskan lewat Ukun dan Tamat yang berbekal Kamus Besar Bahasa Indonesia sebagai bekal petualangannya mencari Marlena dan Zorro, menyadari mereka berada di daerah lain di Indonesia yang berbeda bahasa daerahnya. Mereka menggunakan bahasa yang indah dalam menjalin komunikasi dengan orang-orang yang ditemuinya. Tutur kata tersebut bahkan membuat Jon Pijareli kembali terinspirasi setelah bertemu Ukun dan Tamat. Sebagai anak turunan dari bahasa juga dibahas hobi bersahabat pena dengan surat menyurat yang dilakukan oleh Marlena dan kawan-kawannya. Mereka menjadi generasi terakhir yang giat bersahabat pena,

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Waktu dan Kamu

Pembuka (Cerpen)

Mengapa Cinta Tak Pernah Tepat Waktu (Resensi)