Cerita Kamis Pagi
Aku terbangun lesu pukul 7 pagi lewat beberapa menit. Sudah ketiga kali terjaga, dihitung dari pukul 3 dan pukul 5 pagi tadi. Tidak seperti hari-hari yang sudah lalu, pagi ini perasaanku penuh. Sudah cukup lama aku tidak bangun dengan perasaan yang demikian. Biasalah, patah hati lagi. Tapi itu bukan hal yang mau aku ceritakan kali ini.
Aku menunda-nunda bangkit, masih terbaring gulak-gulik di kamar indekosku yang senyap. Goresan mentari sebenarnya sudah molos dari kaca jendela yang menghadapku langsung. Kamar kos yang dirancang agar tetap terang sepanjang hari, demi menghemat biaya listrik dan lebih alamiah ini kadang menuntutku buat selalu bangun pagi. Kamar sebelah juga senyap, di loteng ini hanya ada kamar kami berdua.
Perut yang mulai perih mengingatkanku bahwa semalam hanya sempat menyantap es krim. Tidak ada lagi yang kumasukan ke lambung, karena sudah berangkat tidur pukul 9 lewat. Tak urung aku menyesali kondisiku di saat-saat seperti ini. Kadang patah hati dapat sedemikian lebai dan tidak masuk akal. Seakan-akan bersama hilangnya cinta itu, daya hidup kita ikut terserap. Maka aku tidak heran kalau ada orang depresi usai putus cinta atau bahkan hilang akal.
Aku bertekad memperbaiki hari, mengenang serpih-serpih lain dalam hidup yang patut disyukuri. Teman-teman yang baik adalah juga rezeki. Ulangku beberapa kali. Aku senang mengumpulkan hal-hal kecil dari hidup yang bisa disyukuri. Tapi hari ini aku memutuskan tidak bertemu teman-teman. Perasaanku masih kacau dan aku tidak mau membebani mereka dengan itu.
Maka dengan langkah memaksa, aku pergi mandi dan merias diri. Menunda keramas, karena bakal dingin dan lama buat mengeringkan rambut yang udah kelewat panjang. Belakangan belum sempat kupotong karena aku menyenanginya. Usainya setelah berpakaian sepantasnya, aku keluar dari tempat indekosku. Kamar di kiri kanan masih sepi, kebanyakan isinya mahasiswa semester lama sepertiku yang tidak diburu semangat mahasiswa baru.
Langkah kakiku agak tertahan oleh rok sepan yang kupakai. Rok putih ini hadiah dari adikku beberapa saat lalu. Sayang bentuknya yang lurus membuat jangka kaki sempit. Aku jadi membayangkan kalau perempuan yang anggun betul tentunya terbiasa dengan rok ini. Bahkan langkahnya cenderung pelan dan tidak tergesa-gesa. Ternyata aku menjadi perempuan masih kurang lembut dan halus peragainya. Tapi panggilan perut ini tidak bisa disandingkan dengan keanggunan yang demikian.
Aku masuk ke warung soto di mulut gang buntu tempatku kos. Jujur saja lingkungan kosku ini sangat mendukung buat tinggal. Gang buntu yang relatif sepi, ada toko kelontong di mulut gang. Berjejer juga di sana; warung soto, laundry, ayam goreng, warmindo, tenongan, kedai sayur, BRI link, dan tukang jual es teh solo. Paket komplit sehingga sebenarnya kami tidak perlu pergi jauh buat kebutuhan sehari-hari.
Warung soto ini terakhir kali kudatangi saat bersama salah seorang kakak tingkatku yang kuhormati. Itu juga terakhir kalinya aku pergi dengan lelaki. Yang penghabisan itu aku bertekad buat tidak mudah meletakkan perasaanku pada makhluk lawan jenis yang katanya penuh logika itu.
Di serambi warung ada ibu-ibu tetangga gang yang sudah mulai sepuh.
"Mari bu,"kataku.
"Nggih monggo-monggo,"dia rupanya mengenaliku. "Cah saiki longgor-longgor" ucapnya.
Ucapannya disambuti para rewang di warung soto itu. Aku masih memesan soto bakso dan teh panas sambil mengambil gorengan, ketika terdengar percakapan itu masih bersambung.
Dari obrolan "cah saiki longgor" Ibu itu bercerita tentang anak-anaknya yang dulu juga sebesar aku. Menyambung masa mudanya dimana pangan cukup sulit, tapi anak-anak yang makan lebih alami itu jadi jarang sakit dan sehat selalu. Cara ibu itu menceritakan masa kecil anak-anaknya yang kadang lucu-lucu menunjukkan sisa kerinduan yang ada. Disambung ibu rewang warung soto yang akan berangkat wisata anak-anak ke pantai di Jogja.
"Ah kalau pantai sudah pernah saya"
"Semua juga sudah pernah kita bu"tukas ibu rewang.
"Tapi kalau pantai, walaupun sama kita ngga akan bisa bosen bu" sambung rewang satunya.
Soto pagi ini menurutku cukup enak. Aku tidak ingat kalau soto depan ini rasanya berempah dan porsinya cukup. Biasanya aku merasa soto ini hambar dan bikin mules setelahnya. Itu juga alasan aku tidak sering mampir kemari. Entah racikan sambal dan kecap yang pas, atau karena aku yang kelaparan. Suapan demi suapan soto hingga tandas. Teh panas yang kupesan juga cukup melegakan, tidak terlalu manis dan hangat. Ditambah gorengan yang baru masak, panas-panas gurih.
Percakapan itu disusul kabar keseharian masing-masingnya, dari sekolah anak, rencana bepergian, pembangunan jalan, keluhan harga kebutuhan. Ternyata begini cara orang dewasa berinteraksi di kesehariannya. Tidak jauh beda dengan anak muda. Tanpa pandang usia dan status mereka membuka percakapan yang ringan sekadar mengisi waktu. Barangkali itu juga hiburan agar tidak bosan. Terkadang diselipkan tawa dan gurauan kecil. Sampai ibu rewang yang bilang satu kalimat yang menurutku, mengharukan.
"Kapan aku bisa makan risol mayo ini ya"katanya mencomot risol di kotak gorengan. Ironi karena jualan itu hampir setiap hari ada di depannya. Bahkan ia yang menggoreng, namun ia malah tidak sempat mencicipi. Harga risol mayo itu yang paling mahal diantara gorengan lainnya. Menurutku, kalau aku ada diposisi ibu itu dan digaji berdasarkan kerjaku, aku juga tidak bakal rela uang gajiku yang hanya sekian buat dibelikan risol mayo,
Warung soto beranjak ramai, meja lesehan di samping sudah hampir penuh ketika kudengar ibu sepuh tetanggaku pamit pulang. Teh panas khas solo yang ginastel (atau wasgitel?) mulai menyusut, aku juga membayar dan pamit pulang.
Pabelan, Juni 2024
Komentar
Posting Komentar