Resensi: Bekisar Merah, Air Nira Hingga Peliharaan Pejabat Ibukota
Akhirnya setelah lebih dari sebulan, pagi ini menjadi halaman terakhir novel karya seniman kenamaan Ahmad Tohari selesai kubaca. Pertama kali membaca halaman muka novel "Bekisar Merah" dan halaman blub, sebenarnya kurang ada ketertarikan untuk membacanya.
Gaya bercerita Ahmad Tohari yang diawali citraan penglihatan, pendengaran, perabaan, dan intelektual dalam penggambarannya atas kejadian alam di Karangsoga sebagai petanda menjadi ciri khas yang jika dibaca secara cermat, sebenarnya merupakan tanda dan makna yang dalam, yang berkaitan dengan jalan cerita. Unsur Ilahiah yang tampak pada masjid Eyang Mus sebagai penjaga moral, serta kehadiran Eyang Mus sendiri melengkapi ciri religius dalam novel ini.
Garis besar ceritanya sudah jelas, Lasi sebagai 'bekisar merah', anak blasteran pribumi-Jepang yang menjadi inti dari cerita adalah keunikan tersendiri. Dengan keunikan lahiriahnya pula ia-selain dikagumi kecantikannya- juga harus mengalami nasib kurang menyenangkan karena hinaan warga setempat perihal asal-usulnya yang dipandang kotor.
Perkawinannya dengan Darsa, seorang penderes nira muda yang serba sederhana menjadi ujian tersendiri usai suaminya itu jatuh dari pohon dan nyaris impoten. Dengan kondisi lumpuh dan ekonomi terpuruk, Lasi mempertahankan rumah tangganya yang akhirnya tetap kandas setelah suaminya selingkuh dengan anak dukun yang menyembuhkannya.
Lasi yang kabur ke Jakarta bertemu Bu Lanting yang menjadi 'belantik' dalam pernikahannya yang janggal dengan Handarbeni. Di sinilah konflik berputar soal gadis Jepang yang menjadi kegemaran para elit kalangan atas, serta perburuan Bambung terhadap Lasi. Di sisi lain, Lasi yang bertemu Kanjat, teman masa kecilnya, dosen muda yang diharapkan menjadi penyelamat dikala gentingnya situasi Lasi.
Pada akhirnya saat klimaks masalah, keruntuhan kekuasaan Bambung membawa Lasi kembali lagi dalam pangkuan bumi kecilnya, Karangsoga. Sebagai cerita berlatar tahun 60-an saat peralihan politik Soekarno pada Soeharto, menjadi konflik eksternal dan isu politik yang muncul di kehidupan Lasi, tanpa ia sendiri memahami betul apa yang terjadi.
Kehadiran Kanjat sebagai golongan muda intelektual yang awalnya optimis dalam melakukan perubahan di desanya berakhir dengan mendulang kekecewaan, karena meskipun Lasi berhasil pulang kembali, namun baik Kanjat maupun Lasi tidak berhasil melawan kendali zaman yang kian berubah. Permasalahan ekonomi warga Karangsoga yang awalnya begitu menggebu-gebu, seakan tersingkir oleh gonjang-ganjing politik dan perjuangan Kanjat untuk membawa pulang Lasi sebagai istrinya. Yang tak lepas dari campur tangan tuhan sebagai peran religius yang memegang kendali penuh atas jalan hidup Lasi.
Meski jauh dalam diri saya merasa, bahwa pola konflik yang ada tidak jauh-jauh dari Trilogi "Ronggeng Dukuh Paruk" yang mengangkat daya tarik kecantikan wanita sebagai daya pikat cerita serta konflik politik didalamnya. Jika Rasus dalam Ronggeng Dukuh Paruk berusaha denial akan ikatannya dengan Srintil, yang telah diserahkannya menjadi milik bersama, ambisi dan perjuangan Kanjat dalam memperebutkan Lasi kembali menjadi daya pikat yang menarik.
Namun, cerita kali ini tetap dikemas berbeda dengan ending yang manis dan akan melegakan pembaca, sekaligus meyakini bahwa nilai-nilai kebenaran akan tetap menang pada akhirnya.
Komentar
Posting Komentar