Resensi Centhini: Mengintip 40 Malam Pengantin

Serat Centhini atau dikenal juga sebagai Suluk Tambang Raras yang disebut sebagai Ensiklopedia Kebudaayan Jawa ini diprakarsai oleh Adipati Anom Amangkunegara III yang kelak bertahta Sunan Pakubuwana V bersama 3 pujangga istana Raden Ngabehi Ranggasutrasna, Raden Ngabehi Yasadipura  II (Ranggawarsita I), dan Raden Ngabehi Sastradipura (Kiai Ahmad Ilhar). Naskah asli setebal 12 jilid yang disusun sejak tahun 1814-1823 ini berisi pengetahuan kebudayaan Jawa mulai dari sejarah, pendidikan, geografi, arsitektur, pengetahuan alam, filsafat, agama, tasawuf, , klenik, ramalan, sulap, kesaktian, perlambang, adat istiadat, tata upacara tradisi, etika, psikologi, flora, dan fauna.

Oleh Sunardian Wirodono, naskah tersebut dinovelisasi menjadi "Centhini, Sebuah Novel Panjang: 40 Malam Mengintip Sang Pengantin" yang menceritakan sudut pandang seorang abdi atau pembantu bernama Centhini. Secara harfiah kata centhi sendiri bermakna pembantu. Dengan mengambil sudut pandang orang pertama itu, tentulah kosakata dan bahasa yang digunakan Centhini terkesan lugu. Centhini yang digambarkan sebagai perawan kencur, abdi khusus Niken Tambang Raras yang menjadi bangsawan di Wanamarta anak Ki Bayi Panurta. Oleh Ibunya Tambang Raras, Nyai Malarsih, Centhini diminta menemani anaknya yang memasuki mahligai rumah tangga itu. 

Tambang Raras bagi seluruh penduduk Wanamarta, adalah wanita pilihan yang beruntung, cantik lahiriah dan akhlaknya, serta terkenal shalihah dalam menuntut ilmu agama. Di Wanamarta kegiatan macam sembahyang dan mengaji amat jarang dilakukan, hanya ketika Subuh atau Magrib saja, surau tampak ramai. Itupun dipenuhi oleh kaum lelaki yang terpandang saja, perempuan hanya 2 atau 3 orang saja istri dari para lelaki pembesar itu. Maka kedatangan Syekh Muda Amongraga yang melamar Tambang Raras dipandang suatu berkah yang ada di Wanamarta. Desa tampak damai dan sejahtera, tanah subur dan rezeki melimpah. 40 malam berturut-turut pengantin dijagai dengan selamatan dan unduh mantu diantara para keluarga dan kerabat.

Tugas yang diberikan pada Centhini sendiri tidak begitu jelas, ia yang disuruh menemani sepasang pengantin itu selalu ditanyai Nyai Malarsih untuk mengetahui jika anaknya telah berhubungan badan dengan suaminya. Kabar ini juga menjadi penantian seluruh penghuni Wanamarta secara diam-diam yang tentu tidak dapat ditanyakan secara langsung pada yang bersangkutan. 

Dalam Tajug Panepen yang ada ditengah kolam ikan itu Centhini yang hanya ditinggalkan dengan pasangan pengantin baru itu mencoba mencuri dengar aktivitas mereka. Namun, yang didapati Centhini adalah bagaimana Syekh Amongraga mewejang Tambang Raras tentang ibadah, agama, dan ilmu tasawuf. Centhini menjadi murid gelap Syekh Amongraga yang turut kecipratan pengetahuan agama. Yang menjadi keresahan bagi Centhini adalah ia tidak dapat mengungkap apa yang terjadi dibalik bilik sang pengantin dan mengapa Tambang Raras belum disentuh oleh suaminya selama 40 malam itu.

Bagi Centhini kehadiran Syekh Amongraga sendiri adalah berkah. Kehidupan monoton dan rendahan sebagai abdi yang tidak memiliki hak suara dan percakapan tabu para lelaki dan perempuan yang lebih tua terkadang membuat Centhini diam-diam protes dalam hati. Namun sebagai kaum rendahan dan seorang abdi, ia hanyalah bisa pasrah. Dengan tugas khusus yang diberikan Nyai Malarsih, ia dapat kesempatan belajar mendalami agama dan imu kehidupan. Desa semarak oleh berbagai acara dan sembahyang di surau. Syekh Amongraga sering mewejang ilmunya usai selamatan maupun sembahyang bersama. Ia merasa tercerahkan.

Sebagai karya novelisasi tentu novel ini berbeda dengan naskah asli Serat Centhini yang ditulis dengan tembang berpakem khusus, baik tema maupun penulisan sukukatanya. Centhini dari Sunardian Wirodono ini lebih mengedepankan alur cerita dan pandangan lugu Centhini sebagai abdi rendahan pada masa itu dimana masayarakat tradisional cenderung patriarki. Namun, wawasan kebudayaan Jawa tetap disisipkan secara komplit ditengah penceritaan maupun percakapan antar tokoh yang dideskripsikan penulis. 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Waktu dan Kamu

Pembuka (Cerpen)

Mengapa Cinta Tak Pernah Tepat Waktu (Resensi)