Resensi: Bulan Nararya, Mencari Makna Hidup Dari Klien Skizophrenia
Novel “Bulan Nararya” karya Sinta Yudisia yang kini telah
mapan sebagai konselor dan penulis, menjejak ingatan khusus bagi saya. Novel
yang terbit pada September 2014 ini memiliki pengaruh yang besar dalam sekolah
menengah saya yang bingung mencari jati diri. Membaca novel ini selalu
membangkitkan keinginan saya untuk lebih menyelami diri saya sekaligus emosi
yang ada didalamnya. Buku terbitan Penerbit Indiva ini merupakan Juara III
kategori Novel dalam Kompetisi Menulis Tulis Nusantara 2013 yang diadakan oleh
Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia.
Secara singkat novel ini menceritakan tentang Nararya
Tunggadewi, seorang terapis di sebuah pusat rehabilitasi jiwa yang menemukan
makna hidupnya setelah mengabdikan diri di tempat tersebut. Dalam perjalanan
karirnya, ia mengalami guncangan setelah usulan Transpersonal sebagai terapi di
klinik tersebut ditolak. Ditambah perceraiannya dengan Angga, suaminya yang
malah menjalin hubungan dengan sahabatnya, menambah ketidakstabilan emosinya.
Namun ia memiliki penghiburan tersendiri dengan persahabatan dengan kliennya
Sania, Pak Bulan, dan Yudisthira yang menghibur dengan cara mereka sendiri.
Sania, gadis kecil yang ditelantarkan keluarganya tengah
berjuang mempertahankan kewarasannya. Terhadap beberapa orang, ia masih
bersikap agresif dengan kaku dan mengejang. Melihat kesedihan Nararya, ia
meminta terapisnya itu mengusap air mata dengan boneka kelincinya. Pak Bulan
yang menjelang ajal dengan riwayat residivis hanya menyarankan ia melihat bulan
nanti malam, bahwa baginya selama ada bulan setiap penyakit ada obatnya.
Sementara Yudhistira, lelaki muda yang mengidap skizophrenia
katatonik yang diam berjam-jam, mengajaknya tenggelam dalam jejak-jejak dalam
kanvasnya. Nararya yang disibukkan dengan berbagai aktivitas klinik dan
persoalan para kliennya tiba-tiba menghadapi halusinasi cabikan mawar dan
darah.
Ia pontang-panting mempertahankan kewarasannya, apalagi
ketika menghadapi kabar pernikahan Angga dan Moza, sahabatnya. Beruntung ia
memiliki atasan, Bu Sausan membantunya dari keterpurukan. Perkenalannya dengan
Diana, istri Yudhistira yang membawa semangat baru, juga Farida seorang
akademis dari Palu yang menjadi tempat diskusi dan curahan hatinya.
Ketika pertama kali membaca, saya hanya terfokus jalan
cerita dan misteri halusinasi cabikan mawar dan darah. Padahal novel ini juga
mengajarkan makna-makna kehidupan yang tak kalah pentingnya. Salah satunya
adalah penerimaan tanpa syarat dalam hubungan manusia. Hal ini digambarkan dari
bagaimana Diana menerima Yudhistira dan tabah menemaninya. Bagaimana Nararya
memenuhi kebutuhan Sania akan teman bermain, penghormatan dan waktu bagi Pak
Bulan, serta teman yang mengerti akan emos Yudhistira.
Hubungan percintaan yang digambarkan bukan melulu perasaan
jatuh cinta menggebu-gebu. Cinta digambarkan secara realistis dalam penerimaan
misalnya pada kasus Diana akan Yudhistira. Bahkan ketika cinta yang tersisa
masih mengikis jiwa seperti yang dialami Nararya dan Farida yang kehilangan
suaminya pada kerusuhan Poso. Bagaimana untuk dapat berdamai dengan emosi dalam
menghadapi berbagai peristiwa yang ada, mungkin menjadi salah satu pesan yang
ingin disampaikan penulis.
Pada akhirnya dalam suatu hubungan, baik relasi, pertemanan,
maupun percintaan yang telah berkomitmen, harus ada penerimaan dan pengorbanan
satu sama lain untuk saling memahami emosi dan kebutuhannya. Terdapat kutipan
dari pernyataan penulis yang mengatakan “terapis yang hebat bukan mereka yang
mampu menangani segala hal. Tapi kapan yang tahu kapan harus meminta bantuan
orang lain di titik tertentu.
Komentar
Posting Komentar