Postingan

Resensi Novel Ayah: Menyelami Cinta Secara Sederhana

Novel "Ayah"  (2015) karya penulis kondang "Laskar Pelangi", Andrea Hirata yang sempat ke sohor diawal tahun 2000an ini menunjukan produktivitasnya ditengah arus penulis-penulis tenar yang bermunculan. Masih mengangkat sketsa masyarakat Belitong, pembaca diajak menemani asmara seorang lelaki malang berparas kurang yang gemar berpuisi bernama Sabari yang menemukan tujuan hidupnya hadir di dunia ini yakni demi menyandang peran sebagai ayah. Ironinya Sabari menjadi ayah dari Zorro yang bukan merupakan anak kandungnya. Ini adalah serangkaian cinta bertepuk sebelah tangannya pada Marlena, ibu kandung Zorro, sejak SMP. Sabari tak berhenti menghujani Lena dengan puisinya, ia mengiriminya lagu, bahkan mengikuti perlombaan olahraga hanya untuk meraih perhatian perempuan itu. Namun Marlena acuh saja. Harap maklum karena penampilan Sabari jauh dibawah tampan dan tidak ada hal istimewa yang dapat membuat Lena tertarik padanya. Salah satu quotes yang membekas dalam buku ini adal...

Resensi: Bulan Nararya, Mencari Makna Hidup Dari Klien Skizophrenia

  Novel “Bulan Nararya” karya Sinta Yudisia yang kini telah mapan sebagai konselor dan penulis, menjejak ingatan khusus bagi saya. Novel yang terbit pada September 2014 ini memiliki pengaruh yang besar dalam sekolah menengah saya yang bingung mencari jati diri. Membaca novel ini selalu membangkitkan keinginan saya untuk lebih menyelami diri saya sekaligus emosi yang ada didalamnya. Buku terbitan Penerbit Indiva ini merupakan Juara III kategori Novel dalam Kompetisi Menulis Tulis Nusantara 2013 yang diadakan oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia. Secara singkat novel ini menceritakan tentang Nararya Tunggadewi, seorang terapis di sebuah pusat rehabilitasi jiwa yang menemukan makna hidupnya setelah mengabdikan diri di tempat tersebut. Dalam perjalanan karirnya, ia mengalami guncangan setelah usulan Transpersonal sebagai terapi di klinik tersebut ditolak. Ditambah perceraiannya dengan Angga, suaminya yang malah menjalin hubungan dengan sahabatnya, menamb...

Resensi: Bekisar Merah, Air Nira Hingga Peliharaan Pejabat Ibukota

 Akhirnya setelah lebih dari sebulan, pagi ini menjadi halaman terakhir novel karya seniman kenamaan Ahmad Tohari selesai kubaca. Pertama kali membaca halaman muka novel "Bekisar Merah" dan halaman blub, sebenarnya kurang ada ketertarikan untuk membacanya.  Gaya bercerita Ahmad Tohari yang diawali citraan penglihatan, pendengaran, perabaan, dan intelektual dalam penggambarannya atas kejadian alam di Karangsoga  sebagai petanda menjadi ciri khas yang jika dibaca secara cermat, sebenarnya merupakan tanda dan makna yang dalam, yang berkaitan dengan jalan cerita. Unsur Ilahiah yang tampak pada masjid Eyang Mus sebagai penjaga moral, serta kehadiran Eyang Mus sendiri melengkapi ciri religius dalam novel ini.  Garis besar ceritanya sudah jelas, Lasi sebagai 'bekisar merah', anak blasteran pribumi-Jepang yang menjadi inti dari cerita adalah keunikan tersendiri. Dengan keunikan lahiriahnya pula ia-selain dikagumi kecantikannya- juga harus mengalami nasib kurang menyenangkan ...

Kencan Buta (Cerpen)

  Hari ini aku bangun lebih pagi untuk mulai berdandan lebih awal di muka cermin. Mengukir alis, menabur lapis-lapis bedak, dan mengulas lipstik merah ceri. Tidak lain dan tidak bukan, karena hari ini aku ada janji kencan buta dengan salah seorang penulis sastra koran yang berdomisili di Jogya. Dari sana ia akan mampir ke kota kecilku, hanya untuk menemui aku, katanya! Beberapa bulan lalu, aku baru putus dengan pacarku yang keliatan saleh itu, yang sangat kusayangkan. Aku sempat depresi beberapa minggu, sebelum mulai keluar menampakkan diri. Bundaku nyaris sujud syukur setelah aku bilang mau makan sayur sop! Selama ini aku hampir selalu mengunci bibir pada setiap orang. Ini semua karena Enah! Enah, kawanku yang binal itu tiba-tiba menelponku tengah malam. Ia tahu keadaanku yang buruk dan berjanji akan menyeretku keluar kamar pagi harinya. Paginya ia mengajakku jalan-jalan dengan bujukan mau membayariku semuanya. Setelah shopping dan makan cantik, Enah memintaku membayar dengan ...

Surat Buat Mantan Pacarku Tentang Suamiku (Cerpen)

 Mas, sudah sekian tahun berlalu namun aku masih terkenang akanmu. Sejujurnya aku masih sering terbayang  kebersamaan kita saat itu. Usia 20-an saat mimpi-mimpi terbangun. Saat-saat kita mencoba mewujudkan cita dan cinta. Aih, manisnya! Mas adalah lelaki terbaik dihidupku. Cara Mas menyayangiku sekaligus mengajakku bertumbuh. Cara mas memadukan impian dan realita agar tetap selaras. Mas benar-benar idolaku saat itu! Ingatkah mas saat motormu mogok hujan hari itu? Haha, mukamu merah padam dan hanya bisa terdiam. Aku juga tidak berani mengambil keputusan, karena takut melangkahi keyakinanmu. Akhirnya ada orang asing lewat yang menyarankan ke bengkel terdekat. Yang dikatakan terdekat itu ternyata hampir satu jam perjalanan! Sesampainya kita, ternyata bengkelnya tutup, sehingga Mas terpaksa memaksa pemilik bengkelnya agar mau membenahi motormu. Keesokan harinya Mas tidak jadi mengantarku, namun mempercayakan temanmu untuk mengantarku ke kampus. Aku saat itu sangat kecewa, sampai t...

Perek (Cerpen)

 Langkah kaki ragu-ragu tercetak jelas dalam heals merah darah ini. Setelah memesan kamar di resepsionis sesuai permintaan klien, aku meminta salah seorang pelayan hotel mengantarku. Ini pertama kalinya aku mencoba pekerjaan yang mungkin semua orang tak akan menyangka aku ingin mencobanya.  Rahasianya, pekerjaan ini kulakukan karena coba-coba, dan klienku ternyata seorang pejabat terkenal yang dikagumi. Yang tak mungkin jika benar melakukan ini. Tapi aku ingin membuktikan hal itu.  Gaun hitam yang memperlihatkan lekuk bahu dan sebagian dada, menjadikan perasaan risih yang tertahan. Dari kode percakapan antar pelayan hotel ini, aku tahu bahwa mereka sudah tahu. Sudah paham akan tamu yang memiliki kepentingan sepertiku.  Akhirnya aku tiba dikamar itu pada pukul  1 siang. Klienku tidak mengharuskan pukul berapa, jadi aku ingin menikmati penuh waktu yang kubayarkan di hotel yang hampir tak pernah kusinggahi karena sebagai mahasiswa perantau, uang satu digitpun tak p...

Lelaki Biasa (Cerpen)

  Tidak sedikit orang yang beranggapan bahwa seniman itu keren. Bagaimana tidak?sebagai insan kreatif, s eniman biasanya menciptakan berbagai karya seni hasil dari pemikirannya yang panjang dan sarat akan nilai-nilai estetik. Karya yang mencerminkan ide dan gagasan otentik, seringkali membuat kita terbengong. Seakan para seniman itu hidup di dunia lain, di ruang imajinasi yang tak tersentuh. Aku juga senang sama seniman. Salah seorang kakak tingkatku di kampus adalah mahasiswa aktivis yang juga memiliki jiwa seni. Tampila nnya khas dengan rambut gondrong masai, idealisme yang meluap tampak dari tatapannya , dan wajah yang penuh rasa percaya diri. S iapa yang tidak senang melihatnya ? Aku biasanya memanggilnya Mas. Mas itu mahasiswa yang sangat aktif, sangat berlimpah ruah jiwa berkeseniannya. Aku bertemu Mas dalam pameran seni rupa kampus kami.  Kala itu, aku yang mahasiswa baru, yang mudah takjub mengamati lukisannya yang kupikir begitu dalam maknanya. Yang terpikir,...