Lelaki Biasa (Cerpen)

 Tidak sedikit orang yang beranggapan bahwa seniman itu keren. Bagaimana tidak?sebagai insan kreatif, seniman biasanya menciptakan berbagai karya seni hasil dari pemikirannya yang panjang dan sarat akan nilai-nilai estetik. Karya yang mencerminkan ide dan gagasan otentik, seringkali membuat kita terbengong. Seakan para seniman itu hidup di dunia lain, di ruang imajinasi yang tak tersentuh.

Aku juga senang sama seniman. Salah seorang kakak tingkatku di kampus adalah mahasiswa aktivis yang juga memiliki jiwa seni. Tampilannya khas dengan rambut gondrong masai, idealisme yang meluap tampak dari tatapannya, dan wajah yang penuh rasa percaya diri. Siapa yang tidak senang melihatnya?

Aku biasanya memanggilnya Mas. Mas itu mahasiswa yang sangat aktif, sangat berlimpah ruah jiwa berkeseniannya. Aku bertemu Mas dalam pameran seni rupa kampus kami. 

Kala itu, aku yang mahasiswa baru, yang mudah takjub mengamati lukisannya yang kupikir begitu dalam maknanya. Yang terpikir, bagaimana bisa mahasiswa menciptakan karya semacam ini? Wanita dan makna tertuang dalam goresan jejak-jejak cat akriliknya. Melihatku demikian terbengong, ia menyapaku dengan segala kehumanisan yang segera mencuri hatiku. Sekilas kulihat tadi sosok dalam lukisan itu tersenyum padaku.

Mengenalnya lebih jauh, akhirnya kutahu bahwa Mas juga merupakan anak teater di sebuah sanggar teater kampus kami. Setelahnya, ia jadi sering menggandengku dalam pertunjukkan teater yang diperankannya. Ternyata ia tergabung dengan banyak komunitas seni di kota kami.

Selain gigih berkesenian, Mas juga merupakan mahasiswa aktivis yang kental. Seperti laiknya anak muda aktivis, Mas juga berpenampilan demikian. Mahasiswa aktivis biasanya dicirikan begini; rambut gondrong yang sedikit kusut, jeans lusuh, kemeja kotak-kotak, secangkir kopi pekat, dan sebats ditangan. Kehadirannya sering terlihat terutama malam hari. Entah sekedar nongkrong, forum-forum rapat, konon mereka juga mengadakan gerakan bawah tanah yang berbahaya dan ketat dalam kritikannya pada pemerintah

Dititik ini seakan kekagumanku sudah tidak dapat bertambah lagi. Namun ada satu yang kulupa, bahwa Mas adalah juga manusia biasa. Semakin terang tampilan seseorang, bukankah semakin gelap bayangan yang melingkupinya. Bagaimana aku bisa lupa?

Sampai terjadi didepan mataku. Siang itu aku mampir ke tempat Mas yang dekat dengan kampus. Itu merupakan sebuah rumah sewaan kecil yang memiliki teras yang cukup luas, tempat Mas dengan teman-temannya biasa berkumpul sembari memetik gitarnya dalam senandung yang sumbang. Aku pernah beberapa kali dibawanya kesana untuk sekedar ngobrol dan mencicipi wedang uwuh racikannya. 

Kali itu Mas berjanji membawaku ke pameran buku yang sudah kami nantikan sejak sebulan lalu. Mas tidak bisa kuhubungi, jadi kuputuskan mampir setelah jam kuliah terakhirku sore itu.  

Anehnya, pintu yang biasanya terbuka lebar itu, hanya menyisakan celah kecil seakan ingin ditutup dengan tergesa-gesa. Rasa panik menjalariku, bagaimana kalau ada orang asing yang masuk?pencuri atau maling? Dengan secuil keberanian yang tersisa, aku mendorong pintu yang langsung menghadap pada satu-satunya ruang di rumah itu.

Dua sosok bergumul, terlihat kepayahan, atau menikmati? Mata yang biasanya tajam itu beringas tak sengaja bersitatap denganku. Mata yang tampak terkejut dan sayu tak berdaya. Tenggorokanku kering dan lututku kaku. 

Aktivis yang idealis juga hebat. Mahasiswa aktivis idealis yang berjiwa seni, apalagi. Sebuah gambar lukisan yang kukagumi berbulan-bulan lalu tersenyum mengejekku.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Waktu dan Kamu

Pembuka (Cerpen)

Mengapa Cinta Tak Pernah Tepat Waktu (Resensi)