Surat Buat Mantan Pacarku Tentang Suamiku (Cerpen)
Mas, sudah sekian tahun berlalu namun aku masih terkenang akanmu. Sejujurnya aku masih sering terbayang kebersamaan kita saat itu. Usia 20-an saat mimpi-mimpi terbangun. Saat-saat kita mencoba mewujudkan cita dan cinta. Aih, manisnya! Mas adalah lelaki terbaik dihidupku. Cara Mas menyayangiku sekaligus mengajakku bertumbuh. Cara mas memadukan impian dan realita agar tetap selaras. Mas benar-benar idolaku saat itu! Ingatkah mas saat motormu mogok hujan hari itu? Haha, mukamu merah padam dan hanya bisa terdiam. Aku juga tidak berani mengambil keputusan, karena takut melangkahi keyakinanmu. Akhirnya ada orang asing lewat yang menyarankan ke bengkel terdekat. Yang dikatakan terdekat itu ternyata hampir satu jam perjalanan! Sesampainya kita, ternyata bengkelnya tutup, sehingga Mas terpaksa memaksa pemilik bengkelnya agar mau membenahi motormu. Keesokan harinya Mas tidak jadi mengantarku, namun mempercayakan temanmu untuk mengantarku ke kampus. Aku saat itu sangat kecewa, sampai tidak berpikir bagaimana Mas menyelesaikan permasalahanmu dan apakah kamu datang kuliah hari itu.
Mas ternyata saat itu aku sangat egois dan hanya memikirkan perasaanku saja. Aku tidak sempat memikirkan bahwa Mas juga mahasiswa yang masih bergantung orang tua. Aku sempat kecewa saat kita bepergian jauh, Mas sama sekali tidak mengajakku makan. Namun, malah mampir ke tempat sobatmu yang aku tidak kenal. Kupikir Mas memperlakukanku dengan kurang baik. Tapi di sana kita disambut dengan hangat dan disuguhi macam-macam. Aih, sungkan sekali rasanya. Dari situ aku tahu Mas adalah orang yang pandai menjalin persaudaraan. Hal yang awalnya tidak tahu dan tidak ingin kutahu. Tapi kupelajari darimu.
Mas aku memang gadis keras kepala yang kadang tidak bisa berpikir panjang. Saat kecewa kian bertumpuk-tumpuk, mulutmu mengunci diam. Aku ditinggal dengan ratusan pertanyaan yang menyesakkan. Akhirnya aku kabur dari kita! Aku malah bertemu orang baru yang kupikir lebih baik darimu. Tak panjang waktu, aku mengikatkan diri dengannya. Dia terlihat pekerja keras dan sangat menyayangiku. Meski orang tuaku terlihat ragu, restu diturunkan dan kami menikahlah.
Namun, ampun Mas! Aku betulan kena getahnya. Suamiku ini sangatlah kurang darimu. Dia keras kepala dan sering berbuat keputusan seenaknya. Meski masih mampu mengurus rumah tangga kami. Aku kadang tidak mengerti akan jalan pikirannya. Komunikasi kami berjalan kaku dan aku belum bisa mempercayainya. Aku sudah belajar memasak agar dapat mengenyangkan perutnya, tetapi ia sering kali lebih memilih makan di luar dan menyuruhku berhenti memasak karena kurang dari seleranya. Tidak seperti masakan ibunya, dalihnya. Aku bahkan sudah belajar memasak dari mertuaku yang judes itu.
Mas, mengingat masa-masa lalu tentu hanya menambah sesak dada. Rasanya aku ingin terbang ke masa lalu. Tempat mimpi-mimpi kita yang manis dulu. Ngomong-ngomong soal mimpi, setelah menikah aku hampir kurang tidur Mas. Apalagi kalau bukan karena suamiku. Tidurnya ngorok dan kencang sekali, minggu pertama aku bersamanya, mataku terpicing hampir setiap malam. Benar-benar proses adaptasi yang melelahkan!Dia juga orang yang jorok. Pakaian bersih dan kotor tak bisa kubedakan karena bertumpuk disatu tempat. Seharian hanya kerja, main game, atau pergi memancing. Aku yang baru pertama berumah tangga harus mau ikhlas ditinggal sendiri. Padahal sejatinya rumah tangga kan saling belajar bersama, ya kan Mas? seandainya kembali padamu, bisakah aku lebih bahagia? Sering aku terpikir begitu. Apakah ini tandanya aku menyesal Mas? Kalau aku menyesal, lalu apa yang bisa kulakukan Mas?
Tapi ketika aku sakit kemarin, dia ternyata mau mengurusku. Melihatku terkapar lemas di ranjang, ia memegang keningku, menatapku dengan sayu. Membuatkan bubur dan memanggil dokter langganannya. Ia bahkan meminta adiknya bolos kuliah untuk menjagaku selagi dia ke kantor. Dia begitu khawatir, sampai menelpon tiap beberapa jam untuk memastikan demamku turun. Aih Mas, tak kusangka dia juga dapat menunjukkan cintanya!
Komentar
Posting Komentar