Perek (Cerpen)

 Langkah kaki ragu-ragu tercetak jelas dalam heals merah darah ini. Setelah memesan kamar di resepsionis sesuai permintaan klien, aku meminta salah seorang pelayan hotel mengantarku. Ini pertama kalinya aku mencoba pekerjaan yang mungkin semua orang tak akan menyangka aku ingin mencobanya. 

Rahasianya, pekerjaan ini kulakukan karena coba-coba, dan klienku ternyata seorang pejabat terkenal yang dikagumi. Yang tak mungkin jika benar melakukan ini. Tapi aku ingin membuktikan hal itu. 

Gaun hitam yang memperlihatkan lekuk bahu dan sebagian dada, menjadikan perasaan risih yang tertahan. Dari kode percakapan antar pelayan hotel ini, aku tahu bahwa mereka sudah tahu. Sudah paham akan tamu yang memiliki kepentingan sepertiku. 

Akhirnya aku tiba dikamar itu pada pukul  1 siang. Klienku tidak mengharuskan pukul berapa, jadi aku ingin menikmati penuh waktu yang kubayarkan di hotel yang hampir tak pernah kusinggahi karena sebagai mahasiswa perantau, uang satu digitpun tak pernah lama mampir dalam kantongku. 

Karena bosan aku lalu mengundang teman-temanku ke hotel ini. Para mahasiswa lurus yang kere dan happy. Setidaknya mereka tidak sedang tertekan kebutuhan hidup sepertiku. 

"Berapa kamu dihargai?"tanya salah seorangnya.

"Pasti 800 ribu kan!?"

"Sok tau kamu!"

"Kamu bisa lebih dari itu tahu,"

Aku terdiam beberapa saat, bisakah aku dihargai lebih tinggi toh aku masih perawan. Namun sebuah pemikiran lain singgah dibenakku. Bisakah aku dihargai tidak dengan angka? Bisakah aku dihargai sebagai manusia?

Tiba-tiba pintu hotel terbuka, seorang tua bangka memperkenalkan diri sebagai asisten klienku. Semua teman-temanku berhamburan setelah saling menciumi pipiku dan berjanji besok akan bermain lagi. Hanya tinggal kami berdua di kamar hotel yang tak terlalu luas itu. Orang tua itu tersenyum ramah. Ia menjelaskan beberapa ketentuan berkaitan dengan klienku dan ikut membereskan pesta pora kami.

" Tidak apa-apa, layanan dan segalanya ditanggung Bapak," katanya.

Kemudian ia memintaku menunggu karena atasannya masih sibuk. Aku makin ragu. Haruskan aku meninggalkan semua ini dan kabur sekarang. Berita-berita prostitusi yang beredar tak pernah baik. Ada perek yang diperas setelah videonya beredar, ada yang dibunuh pelanggannya karena suatu dan lain hal, ada yang terciduk Satpol PP. 

Orang tua bangka didepanku ini mungkin setua kakekku, aku kerap melihatnya bersama calon klienku tiap diadakan konferensi pers. Mimiknya terlihat kalem dan penuh pemakluman. Bayangan orangtua membayang di pelupuk mataku, tak terbayang bagaimana kecewanya mereka jika tahu anaknya memilih jalan sebagai pelacur. Sebenarnya apa yang kucari? Kupikir keputusan ini terlalu beresiko. Lalu jika calon suamiku suatu saat mengetahui ini, bukankah akan menjadi aib tersendiri?

Sebelum klienku benar-benar datang dan orang tua bangka itu masih disana, aku berteriak padanya. Meminta membatalkan semua kesepakatan yang ada. Ia menenangkanku, perasaan tidak senang tercetak diwajahnya. Namun aku tidak peduli.

" Saya hanya rakyat miskin yang ingin keadilan dan terdesak pak. Saya tidak akan membiarkan para pejabat bejat itu memperkosa lagi rakyat. Bapak pikir saya tidak tahu? Atasan Bapak itu dapat permen dari perusahaan-perusahaan asing yang mau mengeruk kekayaan negara kita, agar izinnya diperlancar. Mengapa orang-orang yang menjabat seperti kalian tidak puas akan jabatannya? Apa masih kurang gaji puluhan juta itu yang diberikan negara? Apa menurut kalian, hidup hanya didunia saja? Bapak yakin besok masih bisa hidup? Yakinkah? Bapak yakin besok masih diberi hidup?!"

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Waktu dan Kamu

Pembuka (Cerpen)

Mengapa Cinta Tak Pernah Tepat Waktu (Resensi)