Postingan

Kencan Buta (Cerpen)

  Hari ini aku bangun lebih pagi untuk mulai berdandan lebih awal di muka cermin. Mengukir alis, menabur lapis-lapis bedak, dan mengulas lipstik merah ceri. Tidak lain dan tidak bukan, karena hari ini aku ada janji kencan buta dengan salah seorang penulis sastra koran yang berdomisili di Jogya. Dari sana ia akan mampir ke kota kecilku, hanya untuk menemui aku, katanya! Beberapa bulan lalu, aku baru putus dengan pacarku yang keliatan saleh itu, yang sangat kusayangkan. Aku sempat depresi beberapa minggu, sebelum mulai keluar menampakkan diri. Bundaku nyaris sujud syukur setelah aku bilang mau makan sayur sop! Selama ini aku hampir selalu mengunci bibir pada setiap orang. Ini semua karena Enah! Enah, kawanku yang binal itu tiba-tiba menelponku tengah malam. Ia tahu keadaanku yang buruk dan berjanji akan menyeretku keluar kamar pagi harinya. Paginya ia mengajakku jalan-jalan dengan bujukan mau membayariku semuanya. Setelah shopping dan makan cantik, Enah memintaku membayar dengan ...

Surat Buat Mantan Pacarku Tentang Suamiku (Cerpen)

 Mas, sudah sekian tahun berlalu namun aku masih terkenang akanmu. Sejujurnya aku masih sering terbayang  kebersamaan kita saat itu. Usia 20-an saat mimpi-mimpi terbangun. Saat-saat kita mencoba mewujudkan cita dan cinta. Aih, manisnya! Mas adalah lelaki terbaik dihidupku. Cara Mas menyayangiku sekaligus mengajakku bertumbuh. Cara mas memadukan impian dan realita agar tetap selaras. Mas benar-benar idolaku saat itu! Ingatkah mas saat motormu mogok hujan hari itu? Haha, mukamu merah padam dan hanya bisa terdiam. Aku juga tidak berani mengambil keputusan, karena takut melangkahi keyakinanmu. Akhirnya ada orang asing lewat yang menyarankan ke bengkel terdekat. Yang dikatakan terdekat itu ternyata hampir satu jam perjalanan! Sesampainya kita, ternyata bengkelnya tutup, sehingga Mas terpaksa memaksa pemilik bengkelnya agar mau membenahi motormu. Keesokan harinya Mas tidak jadi mengantarku, namun mempercayakan temanmu untuk mengantarku ke kampus. Aku saat itu sangat kecewa, sampai t...

Perek (Cerpen)

 Langkah kaki ragu-ragu tercetak jelas dalam heals merah darah ini. Setelah memesan kamar di resepsionis sesuai permintaan klien, aku meminta salah seorang pelayan hotel mengantarku. Ini pertama kalinya aku mencoba pekerjaan yang mungkin semua orang tak akan menyangka aku ingin mencobanya.  Rahasianya, pekerjaan ini kulakukan karena coba-coba, dan klienku ternyata seorang pejabat terkenal yang dikagumi. Yang tak mungkin jika benar melakukan ini. Tapi aku ingin membuktikan hal itu.  Gaun hitam yang memperlihatkan lekuk bahu dan sebagian dada, menjadikan perasaan risih yang tertahan. Dari kode percakapan antar pelayan hotel ini, aku tahu bahwa mereka sudah tahu. Sudah paham akan tamu yang memiliki kepentingan sepertiku.  Akhirnya aku tiba dikamar itu pada pukul  1 siang. Klienku tidak mengharuskan pukul berapa, jadi aku ingin menikmati penuh waktu yang kubayarkan di hotel yang hampir tak pernah kusinggahi karena sebagai mahasiswa perantau, uang satu digitpun tak p...

Lelaki Biasa (Cerpen)

  Tidak sedikit orang yang beranggapan bahwa seniman itu keren. Bagaimana tidak?sebagai insan kreatif, s eniman biasanya menciptakan berbagai karya seni hasil dari pemikirannya yang panjang dan sarat akan nilai-nilai estetik. Karya yang mencerminkan ide dan gagasan otentik, seringkali membuat kita terbengong. Seakan para seniman itu hidup di dunia lain, di ruang imajinasi yang tak tersentuh. Aku juga senang sama seniman. Salah seorang kakak tingkatku di kampus adalah mahasiswa aktivis yang juga memiliki jiwa seni. Tampila nnya khas dengan rambut gondrong masai, idealisme yang meluap tampak dari tatapannya , dan wajah yang penuh rasa percaya diri. S iapa yang tidak senang melihatnya ? Aku biasanya memanggilnya Mas. Mas itu mahasiswa yang sangat aktif, sangat berlimpah ruah jiwa berkeseniannya. Aku bertemu Mas dalam pameran seni rupa kampus kami.  Kala itu, aku yang mahasiswa baru, yang mudah takjub mengamati lukisannya yang kupikir begitu dalam maknanya. Yang terpikir,...

Pembuka (Cerpen)

 Sepanjang ingatan masa kecilku, ibu yang bernama Wiwit, adalah wanita yang kenes. Profesinya sebagai pesinden, mengharuskannya memiliki daya tarik yang memikat. Kata bapak, kekenesan itu jugalah yang menawan hatinya.  Keduanya bertemu kala masih belia, usia belasan dalam sebuah paguyuban seni wayang kulit. Bapak adalah dalang muda berbakat, suaranya yang berat dan jernih sangat lantang dalam tiap pagelarannya, cukup merdu juga membunyikan gending kenangan.  Dibalik kewibawaannya, bapak kala muda juga seorang seniman yang lincah. Ia tidak kaku, mudah beradaptasi dengan selera zaman. Gerak lakunya yang luwes dan jenaka, membuatnya kemudian terjun juga dalam dunia lawak.  Bapak itu multilenta. Tak hanya dalang, penyanyi, dan pelawak, ia juga lihai mencipta lagu. Beberapa lagu romansa dia nyanyikan berduet dengan ibu.  Seiring perkawinan mereka di usia muda, tak menghentikan karir dua muda-mudi itu. Keduanya amat dikenal sebagai seniman muda berbakat yang luwes dal...