Pembuka (Cerpen)
Sepanjang ingatan masa kecilku, ibu yang bernama Wiwit, adalah wanita yang kenes. Profesinya sebagai pesinden, mengharuskannya memiliki daya tarik yang memikat. Kata bapak, kekenesan itu jugalah yang menawan hatinya.
Keduanya bertemu kala masih belia, usia belasan dalam sebuah paguyuban seni wayang kulit. Bapak adalah dalang muda berbakat, suaranya yang berat dan jernih sangat lantang dalam tiap pagelarannya, cukup merdu juga membunyikan gending kenangan.
Dibalik kewibawaannya, bapak kala muda juga seorang seniman yang lincah. Ia tidak kaku, mudah beradaptasi dengan selera zaman. Gerak lakunya yang luwes dan jenaka, membuatnya kemudian terjun juga dalam dunia lawak.
Bapak itu multilenta. Tak hanya dalang, penyanyi, dan pelawak, ia juga lihai mencipta lagu. Beberapa lagu romansa dia nyanyikan berduet dengan ibu.
Seiring perkawinan mereka di usia muda, tak menghentikan karir dua muda-mudi itu. Keduanya amat dikenal sebagai seniman muda berbakat yang luwes dalam menyajikan budaya Jawa yang dipandang kaku dan pakem menjadi segar untuk dinikmati semua kalangan.
Oleh bapak sebagai dalang, rumah kami hampir tak pernah sepi. Para niyaga dan waranggana, hilir mudik untuk berlatih, apalagi jika akan ada tanggapan. Belum menghitung banyaknya anak magangan yang berlatih pada bapak, buat jadi dalang, niyaga, maupun sinden.
Dalam rumah joglo tua kami, bapak tak kurang mesranya memperlakukan ibu didepan orang-orang sekalipun. Rebab dan siter terkadang dimainkannya sebagai pengiring lelagu cinta yang dinyanyikan buat ibu.
Terhadap orang-orang juga, bapak dan ibu tak ragu bermesraan. Rasanya cinta mereka begitu tumpah ruah hingga tak cukup dibagikan berdua. Orang-orang disekitar kami sudah pada mahfum, turut mesem melihat keduanya saling merayu.
Ibu sering bilang tabiat bapak yang perayu itu telah dimilikinya sejak muda. Bapak adalah perayu ulung yang jenaka. Ibu bilang, bapak orang yang menyenangkan, maka ia betah hidup dengannya.
Bapak juga menyenangi ibu. Bapak bilang, ibu adalah kembang panggung yang tengah mekar-mekarnya kala itu. Selain parasnya yang memang ayu, polah kenes khas pesinden yang menjadikan bapak tak bisa berpaling darinya.
Bapak dan ibu adalah paduan serasi, paras mereka rupawan, tidak mboseni, dan kepribadiannya luwes menyenangkan. Benar-benar mirip, bak pinang dibelah dua. Hidup puluhan tahun membuat keduanya telah hafal kebiasaan dan kegemaran masing-masing.
Namun, hal itu jualah yang memisahkan keduanya. Pola yang terlalu sama jika rutin terulang, besar kemungkinan menciptakan rasa bosan.
Begitulah keduanya berpisah justru karena merasa telah terlalu kenal dengan diri masing-masing. "Rasanya sudah khatam," kata ibu suatu kali.
Komentar
Posting Komentar