Pria Batam (Cerpen)
“Sebelum bertemu ayahmu, bunda harus mematahkan banyak hati lelaki yang baik terhadapku,”.
______________________________________________________________________________
Sejujurnya saat ini saya sudah lupa dengan nama aslinya, tapi ceritanya masih samar-samar teringat. Karena kamu sangat ingin mendengarnya, baiklah maka akan saya ceritakan.
Saya mendapat kontaknya dari senior saya, saat harus mengurus kontributor opini untuk kolom media online yang saya urus.
Percakapan pertama adalah urusan serah terima tulisan. Setelah konfirmasi untuk pembayaran dan sebagainya, kadang kami komunikasi.
Saya sekedar menanyakan tulisan selanjutnya darinya yang bisa dimuat. Kadang dia menawarkan tulisannya lebih dulu.
Dari percakapan itu, saya tahu bahwa ia seorang mahasiswa akhir dari UIN Jogja fakultas Teknik. Asalnya dari Batam, Kepulauan Riau.
“Wah, jauhnya,” kata saya saat bertemu.
“Iya, karena keterima kampus negeri, akhirnya orang tua mengizinkan. Walaupun saya ini anak bungsu,” begitu katanya seingat saya.
Suatu hari ia mengajak saya bertemu untuk menikmati Solo. Lebih tepatnya Solo Zoo yqng baru akan buka secara resmi beberap hari nantinya. Sebagai mahasiswa Solo, saya dengan senang hati mengantarkannnya.
Pertama kali bertemu dijemput di depan kosan saya, saya memperlakukannya sebagai wisatawan dan saya tour guidenya. Saya antarkan ke tempat wisata itu.
Sembari ia mengurus tiketnya, saya lalu menemaninya berkeliling melihat satwa. Bercerita ini itu tentang kota ini. Sesekali ia juga melongok ke kandang satwa, membaca deskripsi satwa tersebut dan bercerita.
Panas dan lelah, tapi saya tetap berusaha ceria menghidupkan suasana. Tidak enak karena sudah dibayari tiket dan dijajanin. Setelahnya terlalu awal untuk pergi dan tidak banyak foto yang kami ambil. Dia lalu mengajak makan siang di luar. Ketika ditanya mau makan apa, tiba-tiba saya menjawab:
“Ayo makan sop matahari, ini khasnya Solo,” begitu kata saya.
Sebenarnya saya hanya pernah makan sop matahari buatan teman saya saat KKN. Belum pernah mencoba di tempat yang rekomended. Tapi saya sangat menyukai rasa ringan segar dari makanan itu.
Lelaki itu mengiyakan. Di sebuah kedai di pinggiran kota Solo yang asal kami pilih itulah kami menepi. Saya memesan sop matahari. Ia sendiri memesan timlo.
Kedai sederhana itu seperti ruko rumahan dengan dapur di depan sehingga tampak oleh kami, bagaimana ibu itu meracik sop pesanan. Penjual itu menyapa kami dan mengira kami pasangan, padahal aslinya kami baru bertemu sekali ini.
Pertemuan kedua saya mau ice cream atau gelato. Ia mengiyakan. Jauh-jauh dari Jogja ia menyambangi kosan saya di Pabelan. Mengajak ke Taman Balekambang yang ternyata masih di renovasi. Walaupun zonk, ia mengajak kami ke warung-warung sementara di belakang tempat renovasi.
Jajan dan ngobrol sedikit karena saya merasa ia seperti gugup dan ada yang mau diutarakan. Saat itu ia teringin untuk menggandeng tangan saya dan terlihat gugup. Feeling saya mulai merasa janggal.
Akhirnya mengajak saya mencari gelato itu. Secara random kami memilih Moka gelato sebagai tempat untuk jajan. Cukup ramai oleh pelanggan, baik pasangan atau keluarga yang membawa anak-anak kecil. saya ingat memakai kemeja warna taupe dan kulot plisket, tampilan mahasiswa yang baru bubar kelas.
Setelahnya kami menuju perjalanan pulang, saya merasa kali ini kami makin canggung. Apalagi ketika di jalan ia tiba-tiba berhenti. Di tepi jalan itu ia confes mengatakan ingin berpacaran. Saya sangat kaget!
Saya takut gabisa pulang atau malah dikira memberi harapan yang harus saya pertanggungjawabkan kedepannya.. Maka saya dengan hati-hati bicara untuk tidak siap berpacaran saat ini.
“Tapi kita masih berteman baik seperti biasa kan?”pintanya.
“Ya tentu-tentu”kata saya meyakinkan dan menenangkannya.
Begitulah dengan sedikit tergetar ia meminta maaf akan sikapnya dan mengantarkan saya pulang.
Yang sebenarnya terjadi setelah itu adalah mengurangi frekuensi bertemu dengannya. Mulai slow respon terhadapnya.
Sampai tibalah suatu masa ia wisuda dan akan pulang ke Batam bersama keluarganya. Saat itu saya menghubunginya dan mengucapkan selamat dengan tulus.
Ia lalu mengakui menyimpan beberapa foto saya saat bersamanya yang diambil diam-diam. Sebenarnya itu haknya. Tapi ketika ia memberi pilihan apakah boleh menyimpannya atau dihapus. Saya memilih agar foto itu dihapus.
Begitulah cerita ini saya ceritakan padamu, karena seiring wakti kenangan itu juga mulai terhapus.

Komentar
Posting Komentar