Waktu dan Kamu
Melihat gambar-gambar lawasmu, aku jadi meyakini satu hal. Kalau kita bertemu saat itu, aku tidak mungkin menyukaimu!
Di masa remajamu yang penuh petualangan berapi-api itu, aku adalah anak kecil yang baru memulai hidup. Kini saat nyalamu sudah lebih tenang, anak kecil itu senang menemukan cinta yang terasa tenang. Jarakmu yang begitu dekat baru terasa ketika takdir kita menyapa. Barangkali teori Benang Merah tidak sepenuhnya salah!
Kamu kelihatan seperti orang yang berkebalikan denganku: Percaya diri, sedikit konyol dan berlebihan, tapi juga karismatik. Mungkin kata terakhir itu yang bikin aku sangat suka. Percakapan pertama kita yang kupikir mustahil ternyata bisa mengalir. Aku kagum pada caramu yang tenang menanggapiku, walau terkadang penasaranku begitu blak-blakan.
Maksudku, kalau aku jadi kamu, mungkin aku bakal sedikit tersinggung mendapat pertanyaan-pertanyaan seperti yang kuajukan. Tapi kamu menjawabnya dengan baik.
Kamu terlihat seperti bocah dewasa yang menggemaskan! Bagaimana menjelaskannya ya? Terkadang kamu terlihat seperti kanak-kanak yang manis diantara orang-orang dewasa di sekitarmu. Tapi juga terlihat sangat dewasa saat menghadapiku. Aku ingin terlihat jadi orang dewasa jugaa, tapi di dekatmu sulit sekali rasanya. Barangkali itu alasanku lebih banyak terdiam dan menahan diri. Betapa inginnya aku menjadi sepertimu, menjadi bagian dari orang-orang dewasa itu!
Kalau diingat caramu membantuku sangat menyenangkan. Maksudku aku bisa saja meminta bantuan orang lain, tapi kalau bukan kamu, rasanya aku tidak akan pernah sesenang dan selega itu. Biasanya aku lebih suka mengontrol apa pun seorang diri. Tapi kamu bikin aku untuk pertama kalinya merasa tidak apa-apa untuk sesekali menerima bantuan. Mengikis ego demi ego yang menjulangku tinggi dipuncak kesombongan.
Menurutku memang perasaan itu tidak bisa dipaksakan, tapi juga tidak mudah diingkari. Saat pertama kali bertemu denganmu, aku berulangkali meyakinkan diri bahwa aku tidak membutuhkanmu dalam bentuk apa pun. Aku baru melalui badai yang cukup besar, badai hidup yang menerjangku jelang umur 23. Badai yang juga mengajarkanku untuk mengayuh perahu kecilku dengan selamat.
Setelah puas menata hidup, aku menemukanmu menjadi sosok yang entah bagaimana terasa 'cukup' buatku. Maksudnya, mengenalmu seiring waktu dengan segala percakapan dan pertemuan kebetulan yang tidak pernah terencanakan itu bikin aku kagum sama takdir yang ditulis Tuhan. Juga bikin aku memiliki keterikatan yang aneh denganmu.
Aku tergerak lagi jadi hamba Tuhan yang menjaga diri. Maksudnya, sebesar apa pun perasaanku padamu, aku menyadari tidak bisa berbuat apa pun. Aku tidak ingin melanggar batasan-batasan yang ditetapkan-Nya dan malah berakibat buruk bagi takdir yang menungguku di sana.
Aku merasa cukup menjalani hidup ini sekarang. Tapi hadirmu membuat semuanya bertambah baik. Barangkali memang begitu. Aku mencintaimu, makanya aku membutuhkanmu. Bukan sebaliknya. Dan memang demikianlah hidup ini, tak akan bermakna jika hanya dijalani sendiri.
.jpg)
Komentar
Posting Komentar