Bukan Demi Dewi (Cerpen)


“Kalau ada perempuan yang bisa menggoyahkan hatiku, mungkin Nini orangnya. Tqpi lebih mudah untuk lelaki lain menggoyahkan hatiku.” Katanya Aki.

________________________________________________________________________________

Kamu tahu cerita rakyat Jawa Timur tentang kesenian Reog Ponorogo? Tahukah kamu, kalau Raja Kelanaswandana yang mempersunting Dewi Songgolanggit itu awalnya hanya tertarik pada laki-laki muda, atau parahnya anak-anak lelaki? 

Dewi Songgolangit adalah satu-satunya obat yang bisa meluruskan hasrat Raja Kelanaswandana, demi itu Patih Bujang Ganong sampai mengerahkan seluruh pasukan dan rakyat negara untuk memenuhi syarat yang diajukan perempuan paling cantik di Jawa Timur pada saat itu.

Tapi itu hanya cerita rakyat setempat yang dipercaya, yang telah diturun-temurunkan dari jaman nenek moyang kita berabad-abad lalu. Sedangkan aki di sini punya satu cerita yang hanya khusus buatmu saja.

Aki seorang seniman, dosen seni, dan maestro tari lokalan di kabupaten ini. Dari istrinya, yang setia dan menerima aki apa adanya, aki punya satu putra yang wajahnya mirip seorang carik desa yang sudah wafat puluhan tahun lalu. Tapi tentu masih ada, saat anak semata wayangnya aki lahir.

Aki yang seorang penari mempunyai sanggar tari di dekat rumahnya. Istri aki, yang kita sebut nini adalah pedagang lepas yang mengelola warisan keluarga aki yang melimpah ruah. Hingga pada usia senjanya, keluarga aki hidup berkecukupan.

“Nini adalah perempuan tangguh, anak ambil yatim piatu yang dijodohkan dengan aki. Tumbuh dari rumah saudara satu ke saudara yang lain, dapat perlakuan yang tak selalu menyenangkan. Aki bersyukur dapat menikah dengan Nini,” 

Sesungguhnya Nini memang bukannya tidak tahu bahwa aki tak pernah mencintainya, bahkan tak pernah mencintai perempuan manapun. Nini terbiasa hidup dengan kepekaan dan moda bertahan hidup tingkat tinggi. Alih-alih terpaksa menikahi aki karena tak ada pilihan lain, Nini memanfaatkannya sebagai kesempatan hidup dengan lebih baik. 

Keluarga aki adalah saudagar yang punya banyak sawah dan tanah dimana-mana. Jelang akhir hidupnya, mereka berhasil menata hidup aki sebagai anak satu-satunya, mengikat tali persaudaraan pada sesama turunan dan keponakan dengan semua harta yang telah dikumpulkan. Sehingga para saudaranya dapat tetap menjaga aki dengan segala kekurangannya.

Orang tua aki telah menandai bahwa anak lanangnya tidak sempurna seperti teman seusianya. Dari sananya anak itu berperangai lembut dan lebih punya kedekatan khusus pada sesama jenis. Makin menjadi ketika aki telah beranjak remaja, berkuliah seni, bertemu orang-orang yang ‘sama’ dengannya.

Aki telah menamatkan petualangan cintanya diusia muda. Sampai bertemu seorang warga negara asing yang mencintainya. Ia memprovide kebutuhan aki hingga berhasil hidup dengan sanggar tarinya. 

Namun aki yang bujang lapuk itu masih mengkhawatirkan hati kedua orang tuanya. Hingga mereka menemukan gadis muda yang ditinggal paman dan bibinya yang meninggal akibat kecelakaan. Dari anak-anak tanggungan paman dan bibi almarhum/almarhumah itu, entah kenapa orang tua aki memilih nini untuk diambil menantu.

“Aki tidak tahu banyak hal, karena sampai usia ini aki masih terus mencari jati diri. Tapi aki menerima semua yang telah terjadi. Penyakit aki dan akibat perbuatan aki di masa muda. Kalau aki adalah Prabu Kelanaswandana, mungkin Nini adalah Dewi Songgo Langitnya.”

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Waktu dan Kamu

Pembuka (Cerpen)

Mengapa Cinta Tak Pernah Tepat Waktu (Resensi)