Sastra Dama
"Mau kuberitahu satu hal?" suara lembut itu tetap mengiang di antara sayup angin di beranda. Lelaki itu menoleh pada kekasih hatinya. Dua pasang mata yang berbicara lebih banyak dari yang mampu terucapkan.
"Ada satu hari jauh sebelum kita bersama. Aku dihadapkan pilihan untuk menentukan hari-hariku ke depannya. Semuanya tampak menjanjikan dan mungkin menyenangkan. Tapi aku tahu bahwa harus memilihmu. Jika tidak memilihmu, kamu pasti akan bersedih. Aku tidak mau kamu bersedih, karena aku mencintaimu,"
________________________________________________
Saya akan menceritakan padamu, karena kamu selalu ingin tahu dan banyak tanya. Hari pertama saya mengenal lelaki itu ketika saya menyadari bahwa ia termasuk yang paling muda di kantor, meski usianya tetap beberapa tahun di atas saya. Lelaki itu akan kita sebut Dama.
Ada banyak yang saya amati dari tempat kerja saya yang baru, bagaimana lingkungannya, kehidupan sosialnya, termasuk karakter orang-orangnya. Ada satu hal tak penting yang saya notis saat melihat Dama pulang dengan motornya.
Tipikal lelaki yang masih menyenangi unsur estetika motor dibanding pragmatisnya, saya membatin,"Pasti dia belum punya istri. Kalaupun sudah punya pacar, siapakah perempuan yang tidak beruntung itu harus naik motor tinggi dengan tempat boncengan yang tidak nyaman itu?" demikian kiranya.
Hari-hari berjalan sewajarnya, saya masih bersama pacar saya yang orang Jogja meski harus menjalani hubungan jarak jauh. Sesekali rekan kerja menggoda, menjodoh-jodohkan saya dengan lelaki itu. Sebel sekali rasanya, karena saya merasa tidak kenal sama dia.
Beberapa bulan berlangsung saya mulai mengenal rekan kerja yang lain secara biasa, karena mereka kebanyakan sudah mengenal ayah atau ibu saya. Sedangkan Dama sama sekali pelit bicara. Hampir tidak pernah ia memulai percakapan dengan saya.
Saya yang selalu memaksa diri untuk basa-basi, hanya agar situasi canggung itu dapat segera terlewati. Ketika sudah dapat berbicara satu dua kalimat, saya merasa sudah menunaikan satu kewajiban bersosial dan tidak ingin berbicara dengannya lagi. Maksudnya, saya juga orang pendiam, tapi saya kan berusaha juga untuk tetap berinteraksi walaupun minimal mungkin.
Hari-hari berlangsung ketika saya akhirnya putus dengan pacar saya. Ada beberapa nama baru yang mengungkapkan ingin mengenal saya lebih jauh, tentu kecuali dia. Beberapa nama sama blacklist, beberapa saya izinkan untuk berteman. Saya lebih pusing menata hidup daripada memilih satu lelaki dari beberapa yang tidak saya sukai.
Saya jadi lebih sering mengamati Dama. Tambah kesal lagi ketika mendapati ia dapat berbicara dan bercanda dengan orang-orang lainnya. Seperti menunjukkan bahwa ia memang tidak nyaman dengan saya. Beberapa kali kami terjebak dalam situasi menjadi bahan candaan karena dijodoh-jodohkan, ia terlihat salah tingkah. Sedangkan saya ingin marah.
Ada satu waktu ketika kabar pernikahan Dama terdengar, pagi itu seperti ada batu kecil yang menghantam hati saya. Semacam perasaan tidak ikut senang mendengarnya. Walau tidak ada yang tahu, saya merasa kecewa pada hal yang tidak saya pahami. Belakangan kabar itu ternyata hanya olok-olok orang iseng. Dari situ saya menyusun skenario seandainya ia benar-benar menikah nanti, saya harus ikut bahagia dengan pilihan hatinya.
Satu tahun kemudian saya muncul dengan resolusi baru, mencari pacar orang yang jelas bukan Dama. Saya dikenalkan dengan seorang kenalan rekan kerja saya. Lelaki itu 3 tahun lebih tua dari saya, anak bungsu, sudah mapan dalam pekerjaannya, dan tinggal di Tangerang.
Awalnya saya tidak begitu minat, tapi kegigihannya untuk mengenal saya membuat hati ini sempat nyangkut. Ia bahkan sudah berencana ingin sekali bertemu saya pada hari cutinya. Oleh satu dan lain hal, penghianatannya membuat saya menghapus nama itu dari hidup saya.
Hari-hari patah hati tidak begitu terasa karena memang saya merasa tidak begitu mengenalnya dan tidak pernah bertemu langsung. Ketika teman-teman saya beranjak punya pacar, saya sudah tidak ingin memikirkan apapun.
Ada satu momen ketika saya harus bekerja dengan Dama. Sering bertemu, berbicara, dan memutuskan hal-hal berkaitan pekerjaan dengannya. Saya menyadari bahwa dibalik diamnya, ia banyak membantu saya dalam satu dan lain hal. Ia juga sopan dalam memperlakukan saya.
Saat situasi mulai cair, saya memutuskan untuk mendukungnya dan lebih menghormatinya karena dia ternyata orang baik. Ada satu kejadian ketika kami difoto bersama dan menjadi lelucon. Saya menghubunginya dan percakapan kami ternyata dapat mengalir dengan cukup santai.
"...Kami lalu memutuskan bertemu berdua. Ketika ia menawarkan untuk dijemput, tentu saja tidak saya tolak. Sekali-kali saya mau tahu sebisa apa dia dalam situasi itu"
Ketika Dama menjemput saya, ada kedua orang tua saya yang terkejut akan kedatangannya. Waktu selanjutnya mulai begitu serius saat ia memperkenalkan diri dan ingin meminta izin membawa saya. Orang tua mengizinkan dengan sisa ramah tamahnya.
Pada saat berdua itulah, saya mulai mengenal Dama secara pribadi. Tanpa batasan pekerjaan, tanpa memandang jabatan, tanpa kekakuan dunia kerja. Ternyata candaan dan obrolan kami cukup nyambung. Dia bisa mengeluarkan candaannya yang lucu dan saya dapat menjadi anak kecil yang manja. Perasaan dapat diterima ketika menjadi diri sendiri itulah yang membawa kami pada kencan berikutnya dan kencan berikutnya.
*Dama: Cinta kasih yang tulus
.jpg)
Komentar
Posting Komentar