Ulasan Film Pangku: Rela Lakukan Apapun Demi Anak
Rasa excited karena berkesempatan nonton film debut pertama Reza Rahardian ini menyisakan renungan panjang di akhirnya. Bertepatan momen hari Kartini 2026, membuatku terdiam cukup lama untuk menyelami lagi perempuan dan ibu.
Film dibuka dengan adegan Sartika, seorang perempuan hamil yang menumpang sopir truk, katanya mau mencari kerja. Apa saja.
Ia diturunkan di suatu daerah karena orang bengkel yang bilang pada sopir itu kalau bawa perempuan hamil, apalagi yang tak jelas asal-usulnya itu bawa sial.
Sartika berjalan sesuai petunjuk sopir tersebut, melewati remang-remang keramaian karaoke di suatu perkampungan pinggir pantai. Ia kemudian bertemu Ibu dan Bapak yang kelak menampungnya tinggal. Sartika berdiam di situ cukup lama sampai melahirkan Bayu, anaknya.
Ibu, seorang penjaga warung kopi kecil dan Bapak yang pernah bekerja di pabrik plastik yang tutup pasca reformasi, kini mengumpulkan barang bekas. Sesekali Sartika membantu Bapak memburuh sawah seseorang.
Menyadari upah musiman tersebut tidak mampu mencukupi hidup apalagi membesarkan anak nanti. Sartika menerima tawaran Ibu untuk membantu menjual kopi dan menjadi gadis kopi pangku.
Film ini benar-benar menyoroti keadaan seseorang perempuan yang tidak punya pilihan lain. Seorang ibu yang hanya terpikir bagaimana menghasilkan uang demi anaknya. Demi bertahan hidup.
Ketika keaadaan mulai membaik, Bayu beranjak besar dan kesulitana akan sekolah karena tidak memiliki dokumen untuk pendaftaran (KK dan Akte).
Pertemuan Sartika dengan Hadi, seorang sopir truk ikan yang to good to be true. Terlalu indah untuk menjadi nyata. Ia bersedia menjadi bapaknya Bayu dan terlihat memenuhi kebutuhan Sartika akan sosok pelindung dan provider.
Ia menikahi Sartika, menyekolahkan Bayu, dan membangun rumah sederhana untuk mereka tinggal. Ia bahkan mau mewujudkan cita-cita Sartika untuk menjual mie ayam agar tidak lagi menjadi gadis kopi pangku.
Namun kebahagiaan itu tidak berlangsung lama, ketika seorang perempuan yang mengaku istri dari Hadi itu datang di suatu pagi. Ternyata perempuan itu TKW yang baru pulang ke negeri menyadari hartanya habis hanya tersisa rumah sederhana mereka.
Sartika tanpa banyak kata langsung berkemas barang yang ia miliki, meminta Bayu berpakaian. Ia bahkan melepas cincinnya. Ketika Sartika seorang perempuan yang dianggap rendah bahkan tidak punya sedikitkan nyali untuk membantah, membalas ucapan istri Hadi. Betapa ia sebagai orang papa seperti hanya layak untuk dihina dan disakiti.
Perempuan itu meminta Sartika membawa gerobak mie ayam yang belum selesai, ia terseok-seok mebawa gerobak mengajak Bayu yang kebingungan melihat Bapaknya tidak menahan mereka pergi. Ia kembali pulang ke rumah Bapak dan Ibu, kembali menjadi gadis Pangku.
Bertahun-tahun kemudian ketika Bayu beranjak dewasa, ia membantu ibunya. Ada seorang adik dari pernikahan Sartika dan Hadi. Mbok dan Bapak, yang turut membesarkannya sudah tiada. Perjuangan Sartika untuk membesarkan kedua anaknya masih berlanjut.
Secuil Renungan
Ternyata seorang ibu bahkan masih membutuhkan ibu. Ketika menjadi ibu ternyata memaksamu untuk berjuang, bahkan seorang diri sekalipun. Seorang ibu rela melakukan apa saja demi tetap menghadirkan anaknya ke dunia.
Peran Ibu dan Bapak yang bersedia menerima Sartika dalam kesulitannya, menujukkan bahwa tidak harus memerlukan ikatan darah untuk menjadi keluarga. Cara Bapak membuatkan Bayu layangan, membenari gerobak Sartika, bahkan helaan napas dan tegukan kopi kelegaan saat Sartika melahirkan Bayu sudah menunjukan kasih sayang itu sendiri.
Begitupun Ibu yang mau menerima Sartika kembali, membelainya ketika perempuan itu ditinggalkan oleh Hadi. Ibu menjadi rumah yang senantiasa menampung Sartika dan kegundahan hatinya. Ibu juga mengajarkan Sartika untuk menjadi Ibu. Sebuah hal penting yang tidak semua orang bisa mendapatkannya. Sartika berhasil membesarkan Bayu dengan bantuan Ibu yang membantu merawatnya saat Sartika bekerja.
Kehidupan gadis kopi pangku yang sempat
dihadirkan menunjukkan bahwa mereka kebanyakan sudah tidak percaya lelaki.
Semata-mata mereka bekerja hanya demi bertahan hidup dan tanpa perasaan. Ketika
mereka terbuka lagi menerima Sartika dan menghiburnya, menujukkan bahwa
kebaikan pun dapat muncul bahkan dari tangan yang dianggap kotor sekali pun.
.jpg)
Komentar
Posting Komentar