Batagor (Cerpen)
Ada satu makanan yang menyimpan sebuah cerita akan satu ketulusan yang hangat. Tentu cerita ini masih berkisar saat saya menjadi mahasiswa baru di sebuah kampus di kota asal salah seorang presiden Indonesia. Masa ketika segala harap masih demikian muluk-muluk, jarang bersinggung dengan realita.
Sejak pagi Nisa sudah mewanti-wanti minta diantarkan datang ke kampus negeri terbesar di kota itu untuk menghadiri wisuda kakak sepupunya. Janji itu sebelumnya sudah diomongkan terus-menerus sejak hari-hari sebelumnya. Saya sebenarnya sedikit menyimpan ragu, lebih karena itu pertama kalinya saya datang ke wisuda seseorang.
Siang itu sedikit mendung, kami was-was bakal gerimis. Tapi janji adalah janji. Ternyata Nisa sudah berjanji untuk menghadiri wisuda itu, sampai menyiapkan buket bunga dan kado spesial yang dibungkus apik untuk sepupunya tersebut.
Datanglah kami di kampus itu. Setelah memarkir motor, saya baru menyadari bahwa sepupunya Nisa itu adalah lulusan Fakultas Teknik. Kami akhirnya bertemu kakak sepupunya Nisa, Mas A. Ia tengah dikerubungi rekan-rekannya. Seperti biasa, wisudanya anak teknik itu tidak pernah tidak ramai.
Nisa menyalami dan setengah merangkul sepupunya, ia diperkenalkan dengan beberapa teman Mas A yang sebagian sudah dikenal. Saya ikut menyalami setelah diperkenalkan oleh Nisa. Mereka lalu berfoto-foto dan saya sukarela menawarkan untuk memfotokan.
Usainya Mas A meminta Nisa mampir sebentar di kosannya sembari istirahat dan ngobrol-ngobrol karena mereka terlihat demikian akrabnya. Maka saya ikut saja, saat Nisa meminta ditemani ke sana sebelum pulang. Saat itu sudah mulai gerimis, kami kerepotan dengan jas hujan itu.
Kosannya Mas A adalah kos-kosan khusus lelaki, namun demikian ada tempat ibu penjaganya dan kami diizinkan untuk berkunjung. Jujur, itu adalah pertama kalinya saya datang ke kosan lelaki, yang bahkan tidak begitu saya kenal. Sepanjang kami menuju kamarnya Mas A, ada saja satu dua temannya yang berceloteh menggodanya. Berkali-kali ia menyebutkan bahwa kami adalah adik-adiknya.
Seingat saya waktu itu kamar kosan Mas A ada di atas, sedikit sudut. Didalamnya ada dua kasur, yang kemudian dijelaskan oleh Mas A kadang teman-temannya suka numpang tidur. Kamarnya cukup rapi untuk ukuran lelaki. Mas A menawari kue dan makanan yang ada untuk kami, sementara saya mendengarkan Mas A dan Nisa bercerita.
Mereka adalah sepupu ekstrovert yang penuh cerita dan membawa keceriaan. Lewat cerita mereka, saya paham betapa erat hubungan antar keluarga mereka. Ada satu dua kali beberapa teman Mas A ikut nimbrung. Sesaat sebelum pamitan Mas A meminta nomor WA saya.
"Hayolo jangan macam-macam, mas!"kata Nisa memperingatkan.
"Aman aja Nis, buat relasi,"kataku menengahi.
"Nah!bener itu, relasi ya dek!"sambut Mas A.
Begitulah akhirnya kami pamitan minta diri, walau hujan belum sepenuhnya terang. Kami takut kemalaman, apalagi rumah Nisa cukup jauh dari tempat itu.
Mas A dan Batagor
Hari-hari setelah peristiwa itu berjalan biasa. Saya masih sering ketemu Nisa saat kuliah, kadang makan bersama dan mendatangi event kampus. Yang sedikit tidak biasa adalah adanya Mas A yang sering berkabar lewat WA. Tak terasa kami mengobrol banyak hal.
Suatu ketika ia mengajak jalan-jalan di sekitar kota ini. Terus terang saya yakin tidak akan canggung ketika mengobrol dengan Mas A karena ia orang yang sangat hangat dan terbuka. Banyak yang bisa kami obrolkan terutama soal kehidupan kampus.
Saya dijemput Mas naik motor, ia sudah ada di depan kos saya sore itu. Dia aja ke suatu taman kota yang ada air mancurnya (saya lupa apa sebutannya) cukup lapang dan teduh. Ada beberapa penjual makanan di sana. Kami mengobrol sampai mengenalkan kehidupan masing-masing.
Hal yang paling saya kenali dari Mas A, adalah sosoknya yang membangkitkan romantisme anak indie (plis jangan ketawa ya😊). Mas A itu sering main bersama band-nya, bisa main gitar, suka melihat senja, dan kalau ngobrol selalu ada quotesnya. Kalau bareng dia, kamu akan menyadari bahwa waktu itu menjadi sangat cepat berlalu.
Ada satu ketika ia ajak saya untuk makan setelah mengetahui malam itu saya belum sempat makan. Itu adalah tempat batagor favoritnya, katanya. Kami duduk lesehan, penjualnya mengira kami ini pacaran dan tidak kami bantah sih hahaa...Malam itu hanya batagor dan teh panas, tapi keramah tamahan Mas A barangkali menjadi alasan terbesar kesediaanku untuk hadir.
.jpg)
Komentar
Posting Komentar