Rayuan Putra Pantura (Cerpen)


Sebagai mahasiswa baru di suatu kota yang sedang cukup berkembang ada baiknya kita mawas diri, karena ada kalanya urbanisasi juga membawa berbagai budaya-budaya baru bagi pergaulan kaum muda. Yang awalnya tabu, jadi banyak dibincangkan. Yang awalnya jarang, jadi sering dilakukan. Dan kita mustinya jangan terlalu gumunan, agar semakin banyak tahu, semakin tahu cara menghadapinya jika dihadapkan situasi yang sama.

Sudah sering telinga saya mendapat cerita-cerita pergaulan yang mengkhawatirkan, bahwa si anu pacaran dengan sering staycation bareng. Si itu keciduk buffalogathering😰Si itu adalah ani-ani atau simpanan. Kasus mahasiswa putus kuliah karena hamidun bukan hal baru. Yang lain kadang dimanfaatkan pacarnya secara finansial untuk tidak menyebut mok*nd*. Banyaknya kasus itu harusnya bikin kita hati-hati banget agar tidak salah pasangan.

Saya kenal pertama kali dengan Mas Putra ketika dia ingin mutualan di akun private Instagram saya, tapi tidak saya konfirmasi melainkan saya add dengan akun publik saya. Waktu itu saya sedang getol-getolnya membangun nama di Instagram, mutualan dengan berbagai macam anak kampus, aktivis, seniman, dan pengamat pendidikan yang kadang bisa ditemui untuk urusan wawancara. Saya tergabung dalam pers mahasiswa dan lagi senang-senangnya membikin relasi.

Tak lama dia langsung dm beberapa pesan perkenalan, bahwa kami berasal dari kampus yang sama. Dia adalah seorang ini dan berasal dari daerah itu, dari jurusan nightmare yang selalu bikin anak-anak gadis patah hati, tidak lain tidak bukan:Anak Teknik! Setelah beberapa minggu berkenalan, ia ingin bertemu secara langsung dengan saya. Saya iyakan....

Pertama kali bertemu, saat itu sebenarnya sudah larut malam. Saya baru pulang dari kampus setelah rapat isu untuk liputan organisasi kampus saya. Ia menjemput saya lalu mengajak jajan ke tenda Sugar alias susu segar yang memang cukup banyak di kota ini. Kota tempat saya kuliah tak jauh dari daerah Boyolali yang terkenal penghasil susu sapi yang melimpah.

Itu pertama kali saya berkesempatan merasakan datang ke tempat yang demikian. Saya ingat pesan susu coklat dan roti bakar, sedangkan ia pesan STMJ (susu telur madu jahe). Setelahnya kami mengobrol untuk mengenal satu sama lain. 

Bahwa ia ternyata mahasiswa semester akhir yang sedang skripsian, setelah usai menjabat di organisasi kampus. Itulah yang ia ceritakan sepanjang malam itu. Bagi saya sebagai mahasiswa baru yang baru terjun ke organisasi kampus, ia terlihat sangat meyakinkan dan mengagumkan.

Seusainya ia kerap mengajak pergi jalan-jalan sekedar jajan di alun-alun atau makan malam kelas mahasisawa. Lalu ia mengajak pergi wisata ke Tawangmangu. Di sinilah kedodolan itu mulai terjadi!

Saya waktu itu tidak pernah tahu seperti apa daerah Tawangmangu itu. Maka dengan naifnya saya hanya pakai kemeja dan kulot yang biasa saya pakai kuliah. Dan ketahuilah bahwa Tawangmangu di sore hari jelang malam itu adalah daerah yang luar biasa dingin. 

Mas Putra itu tidak menegur saya atau memberi tahu apapun, setelah menyerahkan helm ia membonceng saya menuju Tawangmangu. Melewati berbagai kota kecil yang mulai membenahi diri dari kesibukannya. Melewati daerah kosong yang hanya ada pepohonan tanpa pemukiman. Semakin ke atas, dan yap saya kedinginann bangett.

Tapi karena gengsi, saya tidak mengakui bahwa tubuh ini sudah sangat kedinginan. Kami lalu berhenti di sebuah warmindo untuk pesan ini dan itu. Saya pergi ke kamar mandi karena sudah mulai ingusan karena hawa dingin wkk. Dan airnya!kayak butiran jarum es tiap mengenai kulit saya.

Setelah memakan mie yang keburu dingin dimakan angin, kami mengobrol sambil melihat pemandangan senja dari atas sana. Biru keemasan dengan semburat jingga, indah banget! Kalau momennya lebih aman sih saya mau banget nikmatin senja berlama-lama.

Ia lalu menawarkan untuk berkeliling ke atas atau kembali pulang. Melihat hari yang sudah gelap saya minta dipulangkan saja dengan alasan sudah ada janji malam itu.

Kembali saya harus menghadapi dinginnnya malam di Tawangmangu. Rupanya ia menyadari bahwa saya kedinginan dan menawarkan agar tangan saya masuk ke kantong jaketnya. Tentu saja saya menolak tapi ia memaksakan meraih tangan saya agar melingkari perutnya. Sepanjang malam kami masih mengobrol beberapa hal.

"Dik, kamu sudah punya pacarkah?"tanyanya.

"Belum mas, belum punya rencana ke arah sana," kata saya, berharap ia paham dan tidak melanjutkan.

"Kalau aku menurutmu gimana?"tanyanya. 

"Gimana apanya tuh?"

"Iya, kamu maukah jadi pacarku?"

Saya terdiam beberapa saat, ingin menghindari momen akward itu. Tapi rupanya ia keras kepala menanyakannya berulangkali. Inginnya sih saya bakal jawab pas sudah sampai tempat indekos saya, tapi waktu itu jaraknya masih jauh. Saya ngeri malah nanti diturunkan pinggir jalan :'(

Kalau kamu jadi saya, kamu bakal jawab apa? (Ending sesuai imajinasi pembaca!)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Waktu dan Kamu

Pembuka (Cerpen)

Mengapa Cinta Tak Pernah Tepat Waktu (Resensi)