Menyapa Kawan Lama (Cerpen)
Akhirnya saya memberanikan diri menulis ini saat situasi sudah lebih baik. Kemudian saya mendapati diri telah menjelma laksana air danau yang tenang. Begitulah kira-kira gambaran diri saya saat ini. Bekerja hampir dua tahun, menjadi pembelajar yang tak lelah-lelahnya mengenali kepingan diri. Memaafkan diri, mengikhlaskan semua yang terjadi, menjadi PR yang terus-menerus diremidi. Tentu agar semakin baik nilainya, semakin naik kelas jiwanya.
Saya tergerak menulis ini setelah melihat kawan lama saya yang masih berjuang untuk ketenangan jiwanya. Betapa beban manusia itu berbeda-beda tiap porsinya. Untuk menghadapi itu, sebenarnya kita dibekali dengan kelebihan dan kemampuan yang berbeda-beda pula. Kawan saya semasa di kampus dulu adalah orang yang pernah saya harapkan menjadi dia. Dia anak yang cantik alami, fitur wajahnya menarik, seru, mudah akrab dengan orang baru, bisa berbaur dengan banyak orang, dan tetap menjadi diri sendiri tiap waktu. Tidak ada jaim-jaimnya.
Ketika ia harus mengalami musibah yang berat sekitar 3 tahun lalu, dunianya runtuh. Jiwanya terombang-ambing tak karuan sehingga membutuhkan pertolongan tenaga ahli pada bidangnya. Kawan-kawan kami banyak yang menjauhinya, memandangnya aneh karena bukan sesuatu hal yang banyak terjadi.
Saya masih senang berteman dengannya. Saya ceritakan diri saya seluruhnya karena dia pun mengajarkan hal yang sama. Bahkan hal-hal ekstra seperti hubungan percintaan saya percayakan rahasia itu padanya. Ia dengan caranya sendiri mengajarkan saya untuk menjadi orang yang apa adanya dan jujur.
Belakangan ia barangkali tidak begitu setuju dengan beberapa hal yang saya lakukan. Ada banyak teman-temannya yang lain yang lebih sering hadir padanya dan memberikan momen-momen yang sangat menghibur. Kami terpisah jarak yang sangat jauh selepas hari kelulusan itu. Lalu seorang yang pernah bermasalah dengan saya juga memberikan perhatian serupa padanya.
Terus terang dititik itu, saya merasa kadang matanya menjadi terlalu menghakimi. Meskipun saya tidak pernah membenarkan apa yang saya lakukan di masa muda itu, karena hubungan sosial kadang sedemikian rumitnya. Apalagi dengan ego yang membakar. Saya sudah melupakan semua yang terjadi di masa lalu dan segala permusuhan itu. Saya paham betapa beratnya menjadi perempuan cemas yang harus menstalking akun perempuan lain hanya karena pasangannya tidak setia. Betapa lelahnya mengontrol pasangan, meski tidak pernah saya lakukan, saya berusaha memahami perempuan yang demikian.
Saya mengikhlaskan teman yang baik itu. Tetap saya berharap kebaikan untuknya. Ketika ia hadir sesekali karena ada satu dua hal yang dibutuhkannya, saya dengan senang hati membantu. Kalau harus mengakui, kehidupan saya dari awal terlalu empuk dan lembut dibanding apa yang dialaminya. Sehingga barangkali wajar untuknya berpikir "Aku yang hidupnya keras saja tidak akan bersikap jahat seperti kamu,". Ia adalah jiwa yang sebenarnya sangat baik hati.
Berbeda dengannya yang bisa mengungkapkan apapun yang ada di kepalanya, ada beberapa trauma yang tidak pernah saya izinkan seorang pun tahu. Hanya saya ratapi kadang-kadang saat bersama sunyi. Tapi apapun itu, saya kini menyadari satu hal. Setelah semua yang terjadi dalam hampir dua tahun ini, saya tak lagi ingin menjadi dia.
Saya telah temukan diri saya sendiri yang menyenangkan, membanggakan, dan mempesona. Tidak lagi ada secuil iri seperti yang sudah-sudah. Menghadapi kebahagiaan dan keberuntungan orang lain, saya sudah dapat ikut bahagia. Saya pikir itu lebih penting dari hal-hal yang lain.
Maka saya berharap kebaikan serupa segera menemuimu, meskipun jalannya tidak mulus. Semoga segera kamu temukan dirimu, kedamaianmu, dan rasa cukup di hatimu. Agar kamu tidak lagi tersayat-sayat mencari rumah dengan cara yang salah. Percayalah bahwa orang yang paling menyayangimu, harusnya adalah dirimu sendiri. Orang yang harus berdiri untuk melindungi adalah juga dirimu sendiri.

Komentar
Posting Komentar