Ini Ayahku
Cerita ini akan saya buka dengan sebuah fakta bahwa ayah saya berzodiak Taurus. Lucu memang karena pada usia ini saya masih berusaha memahami ayah dengan mencocokkan karakter sesuai zodiak. Saya tidak percaya zodiak, tidak selalu karakter yang digambarkan sesuai dengan ayah saya. Tapi jika benar, saya akan menambahkannya untuk melukiskan citra ayah yang selama 24 tahun ini hidup bersama saya.
Ayah saya anak ke-4 dari tujuh bersaudara. Anak tengah, tidak begitu spesial dalam keluarganya. Malah ketika ia menjadi PNS di umur 25 tahun, ayah harus menjadi generasi sandwich yang membantu adik-adiknya berdikari. Tidak banyak yang saya tahu tentang ayah diumur muda. Ia hanya selalu terlihat rapi, pekerjaannya di kantor, dan berkulit bersih yang menjadi daya tariknya dulu(kata ibu saya).
Umur 32 ayah baru menikah dengan ibu. Selisih umur dengan ibu lumayan berjarak. Ayah adalah kepala keluarga yang bertanggungjawab secara umum. Seperti ayah-ayah orang jaman dulu. Ayah kaku, selalu benar, berwibawa, tanggungjawab, dan pekerja keras. Namun dengan sifat ayah yang cenderung otoriter itu ia cocok dengan ibu yang keras kepala. Karena dengan begitu, ayah menjadi lebih sabar dan mengalah. Ayah jadi figur yang sangat sempurna untuk perannya.
Sedikit banyak, figur ayah membentuk standar yang kubangun dalam menentukan pasangan hidup. Sejak logikaku sudah cukup jalan, aku berpikir bahwa aku harus mendapat suami yang baik padaku dan terhormat. Setidaknya aku sudah cukup menyadari bahwa di dunia ini, pernikahan itu menyatukan dua keluarga dan membangun keluarga baru membutuhkan modal yang tidak sedikit. Modal utama dalam artian watak dan finansial si lelaki amat berpengaruh terhadap keberlangsungan rumahtangga kelak.
Aku mulai dapat terhubung secara emosional sebagai anak ayah adalah ketika aku pacaran dan ayah terlihat tidak suka. Aku didiamkannya berbulan-bulan. Baru ketika aku putus, ayah menjadi sangat menjagaku. Ayah yang awalnya hadir dan berbicara padaku hanya tentang cita-cita dan pendidikan, mau memahamiku ketika aku malas sekolah. Ia membantuku mengurai perasaanku yang sering kusut. Karena dukungan ayah, aku berhasil menamatkan sekolahku dan berkuliah.
Setelah lama berkuliah ada satu momen yang membuat ayah menjadi sangat penting dalam hidupku. Orang pertama yang kuajak ke rumah bertemu ayah dan ayah menerimanya dengan baik. Mungkin ayah berpikir aku sudah cukup dewasa untuk punya hubungan dengan lelaki lain. Saat itu meskipun canggung, ayah dapat mengobrol dengan lelaki yang kubawa itu. Ayah terlihat ingin mengenal siapa lelaki yang tidak beruntung itu😆(Aku umur segitu egonya masih sangat tinggi dan manja). Apalagi ia sendiri dari luar pulau Jawa. Ada banyak perbedaan bahasa dan kebiasaan masing-masingnya.
Ketika aku putus dimasa skripsian dan jelang wisuda, sekali lagi ayah dengan segala perannya yang diusahakannya hadir. Itu pertama kalinya aku curhat pada ayah dan ayah berusaha menenangkanku. Ayah memotivasiku seandainya nanti aku dapat menemukan lelaki yang memang jodohku. Aku berhasil melewati life after break up adalah karena kehadiran ayahku. Ayah memastikan aku merasa bahwa aku juga berharga dan akan menemukan yang setara. Rasanya rasa terima kasih sangat kurang jika harus membalas kebaikan ayahku.
.jpg)
Komentar
Posting Komentar