Hubungan Rahasia (Cerpen)
Perempuan itu menunduk dengan rambut tergerainya yang mulai kusut tertiup angin laut. Di beranda sebuah villa di Anyer yang menyepi itu, ia berjanji untuk mengungkapkan sebuah pengakuan besar yang telah dipendam bertahun lamanya. Sebuah pengakuan yang selama ini dikatakan memberati hatinya, menyesakkan jiwanya.
Villa yang kami sewa hampir berhadapan langsung dengan laut, sehingga angin laut leluasa membelai apapun yang dilaluinya. Bulir-bulir bening masih tersisa di sudut matanya. Sisanya kering tertiup angin meninggalkan bekas-bekas aliran di sepanjang pipinya yang penuh. Mata itu tampak lelah dan seakan ingin pulang.
"Kamu ngga akan ngerti rasanya...", bisiknya tertahan.
__________________________________________________________________________________
Maka akan kuceritakan padamu bagaimana semua ini bermula. Putri dan Satria adalah kedua orang yang kukenal sedari sekolah menengah. Mereka menjadi sepasang kekasih dan hampir sering melibatkanku di antaranya. Hingga dewasa kami masih sesekali bertemu saat waktu senggang.
Kepada Putri aku tidak begitu akrab, hanya kenal selintas. Energi cerianya begitu cepat mengakrabkan kami. Hanya aku kadang bingung bagaimana menanggapi cerita cintanya yang menggebu-gebu pada Satria. Ia sering mengeluhkan betapa banyak perempuan di sekitar kami yang menggoda Satria. Selalu perempuan lain yang salah dan bukan Satria.
Belakangan nanti aku akan tahu, Satrialah yang kadang meminta Putri untuk bertemu denganku sekedar makan atau hangout bersama. Ia tak ragu menyebut namaku dihadapan Putri.
Aku tidak tahu persis bagaimana hubungan mereka, karena jika kami bertiga bertemu Satria tak kalah romantisnya menyanjung kekasihnya itu. Hubungan mereka yang bertumbuh dari sahabat menjadi kekasih menyisakan kemesraan berbalut guyonan yang tak habis-habis.
Hingga beberapa kali Satria menawarkan diri menjemputku pulang bersama. Hanya berdua. Dari obrolan ringan mengisi waktu itu dia mulai terbuka mengungkapkan kejujurannya dari hati terdalam, bahkan tentang keburukan kekasihnya, Putri.
Obrolan itu lalu menjadi keluhan panjang bahwa Putri ternyata kerap menduakannya dengan lelaki lain, terlalu banyak permintaan, dan tidak bisa mengerti dirinya. Aku hanya berusaha mendengar dan berempati. Ajakan nonton darinya lalu tidak kutolak. Begitupun ajakan hangout berdua setelahnya. Tentu tanpa sepengetahuan Putri.
Aku jadi tahu lelaki seperti apa Satria. Saat itu aku bersumpah tidak akan benar-benar mau menjadi kekasihnya, karena aku menyadari bahwa ia benar-benar seorang lelaki yang tak tahan godaan!
"Jarang perempuan kayak kamu, bisa mendengarkan aku. Tidak rewel. Tidak banyak permintaan, tidak mengekang." katanya sesekali padaku.
Ia tampaknya begitu takjub dengan bagaimana aku memperlakukannya dengan bebas namun tetap perhatian. Maka dengan riang dia menuruti semua inginku, membantu semua kesulitanku, dan rela hati mengantar jemput jika kubutuhkan. Dia terang-terangan menaruh perhatian yang lebih padaku.
Aku pun tahu diri dengan keadaanku. Menjadi orang kedua itu tidak pernah menyenangkan. Tidak bisa dibanggakan. Aku hanya menikmati waktu-waktuku bersama Satria, sebagai teman yang meski terasa lebih, hanyalah seorang teman. Aku tidak pernah menceritakan hubungan kami yang seperti itu pada orang lain.
Kalau kemudian Satria menjadi sangat mempercayaiku, itu urusan Satria. Asal kamu tahu saja, ia pernah ribut dengan sahabatnya(sebut saja Budi) karena aku membocorkan pernyataan Budi yang merendahkan salah satu teman kami, Aisha. Aku mendapati rahasia itu dari mulut Satria.
Aku dekat sekali dengan Aisha, sehingga begitu mendengar cerita Satria tentang sahabatnya yang mengatai Aisha 'murahan' aku tak bisa menyembunyikan rahasia itu dari Aisha. Meski sudah kupesan untuk tidak usah membahas hal itu dengan Budi, Aisha tetap muntab!
Aisha marah besar pada Budi yang saat itu sedang PDKT dengannya. Akibatnya, Budi lalu sangat kecewa dengan Satria. Kudengar Satria habis di maki-makinya.Entah bagaimana kemudian hubungan persahabatan mereka, aku tidak pernah tahu.
Di kemudian hari lalu aku agak menghindar, cukup takut dengan reaksi Satria setelah kejadian nahas itu. Namun, di luar dugaan ia masih memaksakan ingin bertemu denganku, berdua saja.
"Aisha kan sahabatku, tidak mungkin aku tega dia dikatakan seperti itu,"kataku saat itu, berusaha membela diri.
Ia hanya memegang kedua tanganku, "Tidak apa-apa, aku yang salah. Udah ya kita lupakan saja,"ucapnya.
Ia kelihatan lebih tidak ingin kujauhi, daripada harus menyatakan kekecewaannya dan berantem denganku. Di bagian itu, aku tahu bahwa aku telah setengah menang.
Terus terang jadi orang kedua tidak setenang itu. Hubungan kami juga hampir ketahuan. Namun Satria dengan akal bulusnya, membuat pengalihan. Seakan-akan ada seorang teman kami, sebut saja Mimi memiliki hubungan khusus dengannya.
Kenyataanya mereka memang saling menggoda. Dan benarlah! Putri akhirnya mengetahui hubungan Satria dan Mimi saat sedang berkencan. Ia memaafkan Satria tapi sangat mengutuk Mimi! Betapa cinta itu mudah sekali membuat wanita buta!
Menurutku ia harusnya juga menyalahkan Satria yang juga menjadi pelaku dalam penghianatan itu. Tidak akan ada penghianatan jika hanya dilakukan satu pihak. Satria yang menanggapi Mimi juga punya andil dalam perselingkuhan itu.
Sekali lagi aku selamat dari kecurigaan Putri. Tampaknya hal yang disukai Satria adalah aku dengan sukarela tidak pernah mengadu pada Putri tentang hubungan kami. Tidak seperti perempuan-perempuan lain yang mengancam akan mengadukan serta menyimpan bukti-bukti dan chat mereka dengan Satria. Sampai akhir aku tidak pernah mengakui Satria.
Hubungan kami baru akan berakhir saat aku dekat dengan lelaki lain, Satria mengetahui hal itu. Ia masih memperlakukanku dengan baik, tapi matanya menjadi lesu, nada bicaranya padaku menjadi lemah tidak ada keceriaan di sana. Hanya rasa kalah dan tidak percaya.
Lalu ketika tiba saat Putri menuduhku akan kemungkinan hubunganku dengan Satria. Aku tahu Satria telah menyerah terhadapku. Besar kemungkinan ia sendiri yang telah mengungkap rahasia kami sedikit demi sedikit.
___________________________________________________________________________________
"Kamu tidak akan tahu rasanya. Menghindar dari temanmu sendiri. Meninggalkan orang yang tidak kamu sukai dengan sukarela. Tidak ada penyesalan. Kamu tidak akan pernah tahu bagaimana aku menghadapi semuanya," Kata perempuan itu padaku. Kali ini dengan senyum penuh kemenangan.

Komentar
Posting Komentar