Untuk Putri (Cerpen)
Mereka turun dari sepeda motor yang biasa, menuju tempat makan mahasiswa biasa: Warmindo di Jalan Menco pada malam yang biasa itu. Yang perempuan sedikit was-was akan akibat dari keputusan impulsifnya hari itu. Warmindo itu baru dibuka beberapa hari yang lalu sehingga relatif sepi dan belum banyak dikunjungi para mahasiswa. Desainnya lebih luas berupa tiga atau empat atap Joglo yang berderet dengan interior serba tradisional dan bangku dari kayu. Terdapat lampu kelap-kelip warna kekuningan yang membuat suasana makin hangat. Bagian paling depan berupa halaman yang cukup luas dengan ornamen bebatuan alam dan pohon-pohon yang rindang, untuk area parkir. "Kita duduk dimana? mau di dalam saja?" "Iya boleh mbak," "Boleh aku sambil makan? aku belum sempat makan malam,"kata yang perempuan menatap penuh harap, kiranya agar lelaki itu tak keberatan. Lelaki itu melirik arlojinya yang menunjukkan pukul sepuluh malam lewat, sudah sangat larut untuk jam makan malam. ...