Postingan

Menampilkan postingan dari Juni, 2025

Untuk Putri (Cerpen)

Gambar
Mereka turun dari sepeda motor yang biasa, menuju tempat makan mahasiswa biasa: Warmindo di Jalan Menco pada malam yang biasa itu. Yang perempuan sedikit was-was akan akibat dari keputusan impulsifnya hari itu. Warmindo itu baru dibuka beberapa hari yang lalu sehingga relatif sepi dan belum banyak dikunjungi para mahasiswa. Desainnya lebih luas berupa tiga atau empat atap Joglo yang berderet dengan interior serba tradisional dan bangku dari kayu. Terdapat lampu kelap-kelip warna kekuningan yang membuat suasana makin hangat. Bagian paling depan berupa halaman yang cukup luas dengan ornamen bebatuan alam dan pohon-pohon yang rindang,  untuk area parkir. "Kita duduk dimana? mau di dalam saja?" "Iya boleh mbak," "Boleh aku sambil makan? aku belum sempat makan malam,"kata yang perempuan menatap penuh harap, kiranya agar lelaki itu tak keberatan. Lelaki itu melirik arlojinya yang menunjukkan pukul sepuluh malam lewat, sudah sangat larut untuk jam makan malam. ...

Tentang Ibu (Cerpen)

Gambar
  Kalau kami sedang ada dalam perjalanan ke suatu tempat yang memakan waktu berjam-jam. Seiring kendaraan kami melandai di jalan raya, biasanya ibu akan bercerita. Cerita ibu banyak sekali, tak akan ada habisnya. Tak akan kami bosan, meski ceritanya selalu diulang-ulang karena toh kami kadang melupakan cerita itu.  Setiap jalan yang kami lewati kadang membawa kenangan masa kecilnya kala zaman belum semaju ini. Kendaraan belum banyak dan canggih. Saat harus mengantarkan sanak saudara pergi berobat ke kota, dulu ibu berganti-ganti bus dan kendaraan.  Berjalan 1-3 kilometer adalah hal biasa baginya. Pun ia biasa membantu membawa hasil panen dari kebun/sawah dengan berjalan kaki, meski beberapa kejadian pernah sangat menggores hatinya.  Ibu pernah bercerita betapa ia sangat takut tiap harus mengambil air konsumsi rumah tangga dari sumber air. Ada titik tempat yang dipercaya angker, tiap langkahnya ke sana selalu diiringi degup jantung yang tak beraturan. Tapi ibu lakukan...

Buku yang Tidak Lagi Dibaca (Cerpen)

Gambar
  Malam ini lagi-lagi aku hanya bertemankan bosan. Terjebak dalam rutinitas harian kerja-pulang-rumah dalam ritme yang statis benar-benar membikin mati kutu. Menyisakan malam yang beku. Juga mematikan rasaku sedikit demi sedikit. Tubuh yang mudah lelah diusia muda. Keinginan untuk berlari kencang ke depan, sekaligus ingin selalu berpijak hari ini. Aku bak terombang-ambing di lautan ambang, sementara yang kutunggu yang kian nampak batang hidungnya. ________________________________________________________________________________ Aku memilah-milah buku untuk sekadar membunuh waktu. Tak banyak yang menarik karena hampir semuanya telah usai dibaca. Beberapa yang favorit malah kerap dibaca ulang. Diberi garis dan catatan dibeberapa sisi.  Dulu aku ingat betul kebiasaan menggarisi dan memberi catatan kaki pada buku adalah kebiasaan seseorang yang kuadaptasi. Berkebalikan, aku awalnya sayang untuk membikin satupun coretan di sebuah buku, karena barangkali nanti buku itu akan berpindah...

Little Forest: Saat Hidup Mulai Terasa Berat

Gambar
  "For mom, the nature, cooking, and her love for me have been her little forest. I should find my own little forest too - Song Haewon" Apa yang akan kamu lakukan saat hidup mulai terasa berat? Song Haewon yang gagal pada ujian sertifikat guru di Seoul merasakan 'lapar' yang teramat. Ia bahkan tidak bisa berbicara pada pacarnya yang lolos pada ujian tersebut. Makanan instan di minimarket tempatnya bekerja seringkali basi dan tidak mengisi seleranya. Pada suatu malam di musim dingin, Haewon pulang ke kampung halamannya untuk menemukan jawaban. Di kampung halamannya, Mi Sung Li, Haewon bertemu lagi dengan teman masa kecilnya, Jaeha dan Eunsook. Juga menghadapi ingatan pada ibunya yang pergi secara mendadak tanpa memberitahunya. Tinggal di desa bagi Haewon menjadi healing tersendiri. Ia memasak makanannya sendiri. Alam menyajikan bahan makanan secara cuma-cuma dan musim yang berganti di desa adalah kesibukan yang tiada akhir bagi para petani.  Slow Living yang belakangan...