Nostalgia (Cerpen)
Sebuah pusat perbelanjaan di kota kelahiran mantan presiden ke-7 yang padat. Matahari telah bergeser ke arah Barat sejak satu jam lalu, namun Kemala, anakku tidak menunjukkan tanda-tanda ingin pulang. Matanya masih melihat ke sana kemari, mencoba berbagai model sepatu yang lucu dan tentu saja sedang tren. Sementara kepadatan manusia membuatku tak berani jauh-jauh darinya. Seorang lelaki gempal tengah umur di section sepatu kulit, yang berjarak kurang dari satu meter membuatku terpana sesaat. Otakku membongkar nama-nama lama yang jarang berinteraksi, bahkan tak terdengar lagi puluhan tahun lamanya. Oh, betapa lekas tuanya ia, sekaligus tampak makmur sentosa raut wajahnya. Tak sengaja tatap kami bertemu. Ia tampak tertegun. Aku segera membuang pandang. Tak ada satu pun keinginan untuk mengalami kejadian luar biasa yang muluk-muluk. Segera setelah Kemala menemukan sepatu impiannya, kami pergi ke kassa untuk membayar. Aku hampir melupakan kejadian tersebut. "Pembayarannya sudah lunas ...