When Life Gives You Tangerine: Memahami Cintanya Baby Boomer
Barangkali ada banyak alasan kenapa kamu harus menyaksikan series Korea ini. Bersetting tahun 1950-an, series ini bukan lagi hanya sekadar membawa nostalgia. Tapi benar-benar menyadarkanku akan hidup. Sudut pandang orang-orang yang hidup di masalalu, yang senantiasa terikat norma-norma masalalu. Aku jadi sadar bahwa manusia tidak pernah jahat. Yang sering terjadi, keadaanlah yang mengeraskan hati mereka.
"When life gives you tangerines (lemons)" frasa yang dari dulu tak pernah selesai kumaknai. Jika hidup memberimu 'jeruk keprok', pastikan kamu mengolahnya dengan baik agar menjadi selai jeruk yang manis atau teh jeruk keprok yang hangat. Bagaimana untuk tetap bersikap positif dalam menjalani ujian hidup.
Pov yang diambil dalam film yang menyorot kehidupan Aesun bikin aku mikir banget, kenapa generasi Baby Boomer itu tangguh-tangguh. Ternyata kehidupan yang mereka jalani tidak pernah mudah. Selesao dengan satu ujian, lantas disambung dengan ujian yang baru. Namun begitu, mereka menghadapinya dengan hati yang lapang, sehingga hidup membalas segala kerja keras mereka dengan baik.
Ini juga yang bikin aku sadar bahwa ternyata hubungan manusia itu sangat dinamis. Waktu dapat mengaburkan dendam, waktu juga dapat melembutkan hati. Aesun yang awalnya tidak akur dengan mertua dan nenek suaminya, seiring waktu setelah sukses dapat kembali memperbaiki hubungan mereka. Begitupun hubungannya dengan istri ayah tirinya dan orang-orang lain di dalamnya.
Hidup memang terkadang begitu ya, tidak hanya musim semi. Kadang kamu harus melalui musim panas, musim gugur, bahkan musim dingin yang membekukan. Tidak banyak yang bisa kuterima memang. Selain fakta bahwa seorang memang harus memulai segalanya dari bawah. Pondasi yang kuat akan menompang kemegahan di atasnya.
Salah satu pesan yang membuka mataku adalah kenyataan bahwa semua orang itu baru pertama kali hidup di dunia. Mengikuti pertumbuhan Aesun seiring usia meyadarkanku bahwa orangtua kita baru pertama kali hidup juga. Cinta pertama, pernikahan, anak pertama, rumah pertama dst. Semua serba samar dan membingungkan, tidak pasti. Barangkali hidup memang begitu, semuanya diawali oleh langkah pertama.
Bagaimana mencintai seseorang dengan menerima segala sesuatunya menjadi satu. Bagaimana untuk menjadi bahagia agar dapat membahagiakan orang lain. Bagaimana mempertahankan seseorang yang telah dipilih dengan yakin tanpa goyah. Bahkan saat keadaan tersulit sekalipun. Bagaimana untuk tidak terpikirkan barang sekali, untuk menyakiti hati orang yang kita sayangi.
Hal-hal semacam itu tidak lagi memberi pepesan kosong dan harap yang mengawang. Melainkan satu keyakinan baru, bahwa alih-alih mencari pasangan dengan standar macam-macam. Lebih baik untuk menjadi pasangan dengan standar macam-macam itu. Pasangan itu dibentuk bersama. Terkadang hidup itu bukanlah sekadar memberi dan menerima, tapi bagaimana untuk terus memberi walau tak tahu kapan akan menerima.

.jpg)
Komentar
Posting Komentar