Ulasan Film Hati Suhita: Dalamnya Hati Perempuan

Ada alasan yang besar kenapa film ini diberi judul dari nama pemeran utama wanitanya: Alina Suhita. Dewi Suhita, tokoh Majapahit yang menjadi referensi imajiner tokoh Alina Suhita menjadi garis besar bagaimana Alina harus menjalani 'perang' batin oleh perasaannya yang campur aduk oleh pernikahannya dengan Gus Birru. 

Alina Suhita dan Gus Birru sama-sama berasal dari keluarga kyai pemilik pesantren, meski begitu mereka menjalani dua hidup yang berbeda. Gus Birru seorang aktivis kampus yang kemudian masih memegang idealismenya yang berkembang dengan paham tidak hanya ketimuran namun juga perkembangan dunia barat. Sedang Alina adalah seorang santriwati sederhana yang taat, namun tidak menutup diri pada dunia. Ia mampu menjalankan pola kehidupan pesantren yang taat namun juga terbuka pada perubahan.

Alur film dibuat dengan masalah yang realistis yang banyak dijumpai dewasa ini, pernikahan oleh para calon penerus pesantren biasanya memang dilakukan dengan jalan perjodohan yang terkadang tidak selalu benar-benar diinginkan dilakukan pelakunya. Gus Birru misalnya, sampai titik akhir pernikahannya dengan Alina masih belum dapat lepas dari bayang-bayang kekasinya, Rengganis, seorang muslimah aktivis modern yang menjadi rekan perjuangan Gus Birru.

Berada diposisi Alina maupun Rengganis, bukanlah pilihan yang menyenangkan. Di sini aku melihat Gus Birru sebagai seorang lelaki muda yang belum dewasa, belum mampu selesai dengan egonya. Karena ia menerima perjodohannya, sekaligus masih belum mampu melepaskan Rengganis. Ia dengan sadar atau tidak telah menyakiti hati dua wanita sekaligus. Belum terhitung kekecewaan orangtuanya yang punya harapan besar terhadap pernikahan mereka.

Perjuangan Alina yang rela hati menerima pernikahan konyol mereka dengan besar hati, usahanya yang tulus untuk menunjukkan cintanya pada Gus Birru, sekaligus mereda sakit hatinya, menjadi adegan-adegan yang paling mengurai tangis. Tak ada satu orang pun yang mau menjadi istri dengan perlakuan yang demikian. Kalau kemudian Alina memutuskan untuk menyerah dan ingin bercerai, itu bukan karena ia berhenti mencintai Gus Birru. Bagi wanita yang hanya punya sedikit ruang dihatinya, tidak akan cukup menampung segala kecewa yang terus menggunung tanpa pernah selesai benar diurai.

Belum menghitung Alina yang selalu berusaha mendukung 'dunia' yang selama ini digeluti Gus Birru, dari bisnis percetakannya, usaha cafenya, dan idealismenya pada buku-buku. Alina dengan lihai berhasil menyaringnya agar mudah dicernakan kedua mertuanya. Betapa menjadi Alina tidak mungkin mudah. Barangkali Gus Birru dan Rengganis punya kisah masa muda yang menggelora dengan api idealisme masa muda mereka, tapi Alina Suhita dengan hati besarnya ternyata mampu menerima Gus Birru yang tak lagi punya tempat untuk kembali pada kenangan masa mudanya yang sudah usai.


 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Waktu dan Kamu

Pembuka (Cerpen)

Mengapa Cinta Tak Pernah Tepat Waktu (Resensi)