Menghirup Kehidupan dalam Gadis Kretek

 


"Kita semua punya titik terendah. Kalau orang menyebutnya luka, saya menyebutnya pelajaran. Sesuatu yang saya jadikan pegangan hidup tanpa rasa malu." - Jeng Yah -

Walau cukup terlambat jauh dari tanggal rilisnya, Gadis Kretek menjadi salah satu series Indonesia yang membuka mata saya pada hidup.

Dari pemilihan tema dan isu yang khusus dan sangat mencolok, ditunjang riset mendalam dari Kamila Andini (sutradara) akan sejarah industri rokok kretek yang marak persaingan sengit dan peristiwa tahun 65 yang menjadi latar konflik cerita. Ia tampil menjadi series yang kuat yang mampu merajai khazanah sinematik Indonesia.

Series yang diadaptasi dari Novel Kumala ini, saya sudah yakin Gadis Kretek digarap dengan riset yang mendalam, dari pemilihan aktor dan aktris profesional, pemilihan setting, dan emosi yang ditampilkan adegan per adegan. 

Cerita bermula tahun 2001 dimasa Suraja, pengusaha Kretek DR yang sedang sakit parah meminta anaknya yang bernama Lebas untuk mencari sosok Jeng Yah yang kerap menghantuinya. Suraja sendiri sudah sangat tua dan didera penyakit parah sehingga dirawat di rumah sakit. Nama Jeng Yah menjadi konflik utama dalam keluarga mereka dan mengusik Purwanti, istri dari Suraja.

Atas saran sang kakak, Lebas mengunjungi Museum Kretek di Kota Kudus berbekal sebuah foto dan catatan harian Jeng Yah yang disimpan oleh Suraja. Lebas kemudian bertemu Arum Cengkeh, dokter dan donatur yang kerap menyumbangkan barangnya pada museum tersebut. 

Mereka menemukan catatan-catatan tua yang ditulis Jeng Yah, yang ternyata masih punya hubungan darah dengan Arum. Karakter Jeng Yah sendiri sangat kuat, digambarkan sebagai perempuan berpendirian yang menawan. Sosok yang istimewa karena pada masa itu, perempuan hidup dengan cara hampir berkebalikan dari Jeng Yah. Terlebih dalam industri kretek, perempuan hanya bekerja sebagai pelinting kretek. 

 Jeng Yah lahir dari keluarga Idroes yang merupakan pengusaha Rokok Kretek Merdeka. Ia menjadi orang kepercayaan ayahnya untuk memandori usaha rumahan mereka. Jeng Yah, perempuan tegas dengan penampilan yang merupa itu memiliki mimpi sebagai peracik saus perempuan yang pada masa itu tidak lazim karena pada masa itu hanya laki-laki yang dpercaya meracik saus. 

Mereka percaya kretek akan menjadi asam jika perempuan masuk ruang saus. Mimpi yang juga mengubah seluruh rangkaian takdirnya kala dia bertemu Suraja dan jatuh cinta untuk pertama kalinya.

Jeng Yah bahkan berani membatalkan pertunangan yang dirancang keluarganya dengan Seno Aji seorang tentara anak pengusaha kretek Boekit Kelapa. Barangkali bagi Jeng Yah, cinta pertama itu demikian segalanya. Bertemu sosok yang mampu memahami mimpinya, mendukungnya, dan meyakinkannya di tengah lingkungan yang menghambat impiannya.

Impian dan perasaanya pada Suraja terbaurkan, sehingga ia tidak dapat jernih melihat bahwa Suraja sesungguhnya pandai memanipulasi situasi. Latar belakangnya yang tak tergambar secara jelas menunjukkan ia berasal dari kehidupan yang keras, culas, dan penuh ancaman serta tipu daya. 

Meski awalnya penuh hambatan, hubungan Jeng Yah dan Suraja terpaksa direstui oleh keluarga. Geger 1965 membawa keluarga Idroes dan Suraja dalam nasib yang tidak pasti. Juga pertunangannya dengan Jeng Yah. Penghianatan Suraja yang memilih menjadi menantu kompetitor keluarga Indroes sekaligus menyerahkan resep kretek Gadis buatan Jeng Yah mengakhiri kisah cinta mereka.

Adegan di stasiun ketika Suraja yang telah menjadi menantu Djagad, beristrikan Purwanti dan beranak tiga, namun masih berpikir meninggalkan segala sesuatu yang dimilikinya seketika melihat Jeng Yah seharusnya cukup menjelaskan bagaimana sifat aslinya dan hubungannya dengan kata tanggungjawab.

Barangkali kita juga harus meyakini bahwa tidak ada orang yang nihil dari kesalahan. Namun sekali lagi tali takdir mereka tidak bersinggungan. Barangkali memang demikian jodoh di dunia ini. Semakin kita bersikeras, takdir malah enggan bertemu. Mau bagaimanapun diusahakan, jika bukan takdirmu maka tak akan menyapamu.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Waktu dan Kamu

Pembuka (Cerpen)

Mengapa Cinta Tak Pernah Tepat Waktu (Resensi)