Home Sweet Loan: Rumah dan Renungan Panjang


Agak telat cukup jauh dari kapan waktu pertama kali film Home Sweet Loan dirilis, tapi memang baru berkesempatan nonton dan sedikit baper karenanya.

Hubungan manusia itu memang sekompleks itu ya? Melihat keluarga besar Kaluna yang hidup di satu tempat yang sama, harus dealing dengan kepribadian banyak orang yang berbeda satu sama lain setiap harinya, bertahun-tahun. Apalagi fakta bahwa rumah itu adalah warisan Engkongnya, yang menunjukkan bahwa orangtua Kaluna pun tidak berkesempatan punya rumah sendiri.

Dekade terakhir ini rumah memang bukan lagi suatu prioritas yang utama. Karena dengan ekonomi ini, rumah tidak pernah murah. Kesempatan untuk bertempat tinggal yang dimiliki sendiri bukanlah hal yang bisa dilakukan semua orang. Apalagi Jakarta yang menjadi setting tempat tinggal Kaluna dan keluarganya.

Berbagai kesempatan untuk memiliki rumah sendiri kadang malah menjerumuskan, membawa pada kerugian yang lebih besar, jika tidak dilakukan dengan cermat dan hati-hati. 

Dalam hal ini aku cukup maklum olen tindakan yang mau dilakukan oleh kakak-kakak Kaluna, meski sangat riskan dan pertimbangan yang meleset. Tapi seperti kata ibunya Kaluna, kakak-kakak Kaluna juga tidak nyaman dengan kondisi mereka yang hidup berdesakan di rumah itu.

Kaluna sebagai anak bungsu yang telah banyak mengalah, hidup pada masa kejayaan orangtua yang telah habis. Merupakan suatu perjuangan tersendiri baginya. 

Juga perang melawan gaya hidup tinggi orang-orang di sekitarnya. Mulai dari mantan pacarnya, calon mertuanya, hingga keluarga abangnya. Padahal hal semacam itulah yang justru menjebak mereka dalam tipu muslihat: terjerat pinjol.

Kaluna kayaknya seorang yang langka banget di generasi saat ini. Tapi juga pesan hangat yang dibawanya. Dengan sifat altruistnya itu Kaluna lebih memilih "rumah" yang tidak lagi berbentuk bangunan. 

Seakan menggali lagi perasaan tak terelakkan yang mungkin ada di dalam diri tiap manusia "Untuk apa aku punya segala sesuatu untuk diriku sendiri, jika tidak punya orang-orang tersayang (keluarga) untuk berbagi?"

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Waktu dan Kamu

Pembuka (Cerpen)

Mengapa Cinta Tak Pernah Tepat Waktu (Resensi)