November Saya
Tulisan ini dipublikasikan lewat dari bulan seharusnya, namun isinya merupakan refleksi pribadi selama November 2024.
_____________________________________________
Hampir setahun ini saya dikejar-kejar rasa takut yang tidak terjabarkan. Bak seorang buron, saya tutup mata dan memilih untuk berlari sekenanya. Prioritas saya adalah bagaimana waktu-waktu sukar itu lekas berlalu. Berharap-harap cemas menjemput takdir madu yang saya mintakan sedari awal tahun. Tibalah saya pada November. November Saya, begitu saya berikan tajuk pada tulisan ini.
November saya terasa begitu ramai, masif, dan cepat berlalu. Memang demikian, waktu menjadi lekas buru-buru pergi kalau kita senang hati. Sebaliknya juga, menjadi betah berlama-lama saat kita menderita. November saya menjadi berkesan karena ada banyak nama baru yang saya kantongi kali ini.
Pada akhirnya saya sadari bahwa usia 20-an adalah masa memahat diri. Tidak harus sempurna dan langsung jadi. Tapi tempalah dengan serius. Jangan sedikit-sedikit matamu melirik 'pahatan' orang lain. Seringkali hanya akan merusak fokusmu. Sebaik-baiknya 'pahatan' adalah yang tak kehilangan identitas diri.
Dalam perjalanan hidup ini kita akan bertemu bermacam-macam orang yang dengan pengalaman dan kenangannya, memberikan pengaruh pada diri kita. Diri kita adalah kumpulan pengaruh dari pertemuan dengan orang-orang yang berinteraksi dari hari ke hari. Era digital membuat masuknya pengaruh dari luar menjadi begitu masif dan kompleks. Informasi baik langsung dan tidak langsung bergumul memenuhi pikiran. Seringkali informasi itu belum benar-benar selesai diproses sehingga muncul sebagai mimpi dialam bawah sadar. Menyebabkan banyaknya overthinking yang tidak perlu.
Belakangan saya sadari bahwa ternyata saya terlalu serius menjalani hidup ini. Mungkin karena sebagian dari diri saya seorang Melankolis? Pikiran saya hampir tidak pernah berhenti semenjak terjaga. Kadang itu bikin saya lelah. Membuka mata dan memulai hari kadang bisa sedemikian beratnya. Saya selalu ingin bisa hidup dengan tenang, dengan tidak banyak berpikir berat. Bagaimana keresehan saya itu lalu mengantarkan saya untuk bersandar pada-Nya. Ternyata dalam hidup ini kita tinggal ikut alurnya.
Komentar
Posting Komentar