Menua Sia-sia

 Belakangan ini yang ramai di berita dan cukup meresahkan masyakarat, terutama kaum muda pejuang cinta adalah banyaknya kabar perceraian dan perselingkuhan. Yang terbaru, komedian Andre Taulany yang menggugat cerai sang istri setelah puluhan tahun pernikahannya. Sebelumnya kabar perceraian komedia Desta Mahendra dan Natasya Rizki juga cukup mengagetkan netizen. Di tengah ramainya isu para influencer masyarakat yang saling membongkar aib perselingkuhan suaminya, aku jadi kepikiran, bahwa sebenarnya fenomena kawin cerai itu bukan hal ajaib dan sudah biasa terjadi.

Tanpa mengurangi kedukaan yang dialami semua orang yang mengalami hal tersebut, aku akan menceritakan ulang, bahwa sebenarnya cerai itu tidak apa-apa asal dilakukan dengan cara yang benar sesuai prosedur tanpa embel-embel 'saling menyakiti'. Karena kadang dalam hubungan cinta, tanpa sadar perasaan cinta yang berlebihan itu membuat kita menyakiti orang yang kita cintai. 

Ini kisah yang diceritakan padaku, dahulu bertahun silam menikahlah Siti dan Budi, usia yang cukup untuk menikah pada saat itu. Keduanya dari keluarga yang cukup berada, pesta pernikahan dilakukan meriah dan pantas. Tidak banyak yang aku tahu tentang keduanya, kecuali bahwa segala sesuatunya telah ditetapkan. Bertahun-tahun berumah tangga akhirnya diketahui bahwa Siti tidak bisa memberikan keturunan pada Budi. Mereka lalu berinisiatif mengangkat anak dari adik lelaki Siti. Adik lelaki Siti pun telah bercerai, lalu menikah lagi. Anak dari pernikahan keduanya yang 'dipinjam' oleh Siti. Segala usaha coba dilakukan agar mereka dapat mempunyai anak, sayangnya nihil.

Maka terjadilah perselingkuhan seperti yang sudah-sudah. Siti ditinggalkan. Budi pergi menikah lagi, memiliki anak, dan melanjutkan hidupnya. Budi tidak lagi bertanggungjawab pada Siti. Ini merupakan tamparan keras bagi Siti dan keluarga. Dendam menguasai dirinya. Ia menjadi pribadi yang keras dan dan tidak mudah dipatahkan. Bagaimana tidak? posisi Siti cukup direndahkan oleh mantan suaminya, menjadi aib yang diketahui banyak orang. Siti tidak lagi menikah.

Bertahun-tahun silam, anak yang Siti asuh sudah menikah dan dibawa suaminya. Siti tinggal bersama keluarga adik lelakinya dan istri keduanya. Siti dan iparnya ini juga tidak selalu akur. Seiring usianya yang mulai menua. Tiba-tiba anak angkat Siti, sebut saja Marni didatangi oleh Budi yang sudah tua dan tak terurus. Marni iba, tapi tidak bisa berbuat lebih. Selain oleh penderitaan ibu angkatnya yang diperlakukan tidak baik, Budi juga tidak memberikan kenangan masa kecil yang baik baginya. Budi tidak menjadi sosok ayah yang baik dan cenderung perhitungan padanya. 

Usut punya usut, Budi ditinggalkan oleh anak istrinya, menjadi sebatangkara. Usia tua dan penyakit yang diidapnya membuat ia kian lemah. Tidak adalagi kerabat yang ditumpanginya. Hidup sengsara diusia tua adalah mimpi buruk semua orang. Cerita dari sisi istri barunya aku tidak tahu, yang kutahu adalah ia akhirnya menghembuskan napas terakhir di gubuk sunyi di tepi kampung. Siti yang mengetahui kabar tersebut hanya terdiam, tidak tahu apa yang berkecamuk dikepalanya. Namun setelah itu, ia jadi lebih tenang dan lega menjalani sisa hidupnya.

Pembelajaran yang mau kuambil barangkali adalah jangan memperlakukan orang semena-mena selama hidup. Apalagi keluarga, sebagai dasar kita manusia. Bukan bermaksud menjadikan anak investasi masa tua, tapi hidup yang cuma sementara ini sebaiknya kita menjaga hubungan baik antar anak dan orangtua. Karena dengan itu barangkali bisa menumbuhkan rasa sayang yang tulus satu sama lain. Perihal perceraian, seandainya terpaksa dilakukan, maka lakukan sesuai prosedur dan hukum yang berlaku. Dengan tetap mempertimbangkan tanggungjawab nafkah dan lainnya. Kita tidak akan tahu siapa yang akan terjadi di hari depan kan?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Waktu dan Kamu

Pembuka (Cerpen)

Mengapa Cinta Tak Pernah Tepat Waktu (Resensi)