Bakmie

                                             

Aku suka sekali dengan berbagai jenis olahan mie. Mie ayam, mie yamin, mie goreng, bahkan mie instan tidak pernah mendapat penolakan dariku. Bahkan jika aku sudah selesai makan sekalipun, lalu diajak makan mie, pasti aku turuti. Seperti juga perasaanku padamu dulu.

Kamu yang tidak kukenali terlihat sedemikian hebat tanpa cela. Sosok dewasa yang bisa diandalkan. Itulah kesimpulan yang kuambil dari secarik cerita yang kau kisahkan pada pertemuan kita. Setelahnya aku mabuk oleh kekaguman yang mendalam. Bagiku saat itu, tidak ada lagi orang yang lebih kuat dalam cobaan hidup selain dirimu. Kekaguman yang lantas membuatku ingin bersandar.

Dasarnya kamu memang orang yang mudah mengalah demi orang lain, mudah membaur dengan macam orang. Walau aku mengabaikan kasak-kusuk orang-orang terdekatku yang memperingatkan celamu. Aku tidak percaya, karena di depanku kamu sedemikian lembutnya. Aku terbutakan ilusi bahwa sekasar apapun dirimu di luar sana, kamu tidak akan menyakitiku. Itu kadang bikin aku merasa sedikit istimewa. 

Aku terbiasa dicintai dengan tindakan, yang lalu-lalu juga begitu. Bukan rayuan manis, tapi perlakuanmu yang membuatku percaya bahwa mungkin kamu juga menyayangiku sedemikian besarnya. Aku jadi percaya bahwa aku bisa menyayangimu tanpa karena. Maka aku mati-matian belajar mencintamu tanpa syarat. Berbagai peruntungan untuk cinta yang lain tidak membuatku goyah. Aku percaya jika melakukan semua inginmu, kamu tidak akan berpaling.

Aku sering mengajakmu ke tempat bakmie favoritku. Kamu menyenangi hidangan yang mengenyangkan perutmu, sedangkan aku hanya ingin memuaskan lidahku.  Kita selalu tak bernah bersepakat tentang ini. Kamu tidak terlalu menyukainya, namun rela karenaku. Kupikir itu sudah lebih dari cukup. Lain kali, aku yang akan menuruti inginmu. Kedai bakmie menjadi tempat quality time bagiku. Aku bisa jujur dan menjadi diriku dihadapanmu. Mungkin di dunia ini kamu adalah orang yang paling tahu hitam putihku. 

Diantara kepadatan kegiatanmu, kamu rela menemaniku makan bakmie bersama. Sementara aku sudah merasa cukup hanya dengan hadirmu. Entah karena kontrak sang waktu, atau kita yang tak berhasil memahami. Itu adalah malam yang tidak kusesali. 

Dingin yang ada lebih muncul karena jarak, dibanding musim hujan yang belum usai. Kamu mengajakku ke kedai bakmie favoritku, karena sebelum-sebelumnya selalu aku paksa untuk meminta waktumu. Barangkali kamu mulai risih akanku.

"Mas ini kayak gapunya waktu aja!" kataku menunggumu beranjak. Matamu masih tak lepas dari ponsel.

Kamu tidak menjawab. Aku paham kamu sangatlah sibuk belakangan itu. Aku hanya minta waktu kurang dari satu jam untuk makan dan menyelesaikan kegusaranku akibat tumpang tindih salah paham yang terjadi beberapa minggu itu. Aku menatapmu di seberang meja, masih tak bisa lepas dari ponselmu. Kamu tak lagi memulai percakapan yang biasa kita lakukan. Pertanyaanku sesekali hanya memperoleh jawaban singkat darimu. Barangkali ada banyak masalah yang bercokol dibenakmu.

Aku tidak lagi merasa terhubung denganmu, kalau kemudian aku selalu meraung-raung berkata merindukanmu, barangkali itu adalah keegoisan perasaanku. Mungkin, kamu tidak merasakan hal yang sama. Bakmie yang selalu aku nikmati malam itu terasa kurang enak. Tiba-tiba aku jadi bingung bagaimana memperlakukanmu. Saat kamu pergi tanpa kata, aku merasa itu adalah titik akhir darimu.

Maka sebanyak apapun aku mempermanis, tidak akan mengubah racun dalam cangkir kita menjadi tidak mematikan. Setelah mengemas seluruh perasaanku, di sinilah aku. Teman-temanku yang tidak punya saham dalam hubungan kita dan kerusakannya, sukarela memungut sisa kenangan yang ada. Bahkan menawarkan kepingan baru untuk mewarnai hidupku. 

Kedai bakmie yang dulu menjadi saksi merahnya perasaanku kini tak lagi kutemukan. Sudah tutup. Aku pun sudah berpindah tempat. Tapi kecintaanku pada olahan mie ternyata tidak pernah surut. Bersama teman-temanku, kutemukan lagi ragam kedai mie yang baru dan belum pernah kucoba. Mie yang enak rasanya dan sesuai dengan lidahku.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Waktu dan Kamu

Pembuka (Cerpen)

Mengapa Cinta Tak Pernah Tepat Waktu (Resensi)