Postingan

Perek (Cerpen)

 Langkah kaki ragu-ragu tercetak jelas dalam heals merah darah ini. Setelah memesan kamar di resepsionis sesuai permintaan klien, aku meminta salah seorang pelayan hotel mengantarku. Ini pertama kalinya aku mencoba pekerjaan yang mungkin semua orang tak akan menyangka aku ingin mencobanya.  Rahasianya, pekerjaan ini kulakukan karena coba-coba, dan klienku ternyata seorang pejabat terkenal yang dikagumi. Yang tak mungkin jika benar melakukan ini. Tapi aku ingin membuktikan hal itu.  Gaun hitam yang memperlihatkan lekuk bahu dan sebagian dada, menjadikan perasaan risih yang tertahan. Dari kode percakapan antar pelayan hotel ini, aku tahu bahwa mereka sudah tahu. Sudah paham akan tamu yang memiliki kepentingan sepertiku.  Akhirnya aku tiba dikamar itu pada pukul  1 siang. Klienku tidak mengharuskan pukul berapa, jadi aku ingin menikmati penuh waktu yang kubayarkan di hotel yang hampir tak pernah kusinggahi karena sebagai mahasiswa perantau, uang satu digitpun tak p...

Lelaki Biasa (Cerpen)

  Tidak sedikit orang yang beranggapan bahwa seniman itu keren. Bagaimana tidak?sebagai insan kreatif, s eniman biasanya menciptakan berbagai karya seni hasil dari pemikirannya yang panjang dan sarat akan nilai-nilai estetik. Karya yang mencerminkan ide dan gagasan otentik, seringkali membuat kita terbengong. Seakan para seniman itu hidup di dunia lain, di ruang imajinasi yang tak tersentuh. Aku juga senang sama seniman. Salah seorang kakak tingkatku di kampus adalah mahasiswa aktivis yang juga memiliki jiwa seni. Tampila nnya khas dengan rambut gondrong masai, idealisme yang meluap tampak dari tatapannya , dan wajah yang penuh rasa percaya diri. S iapa yang tidak senang melihatnya ? Aku biasanya memanggilnya Mas. Mas itu mahasiswa yang sangat aktif, sangat berlimpah ruah jiwa berkeseniannya. Aku bertemu Mas dalam pameran seni rupa kampus kami.  Kala itu, aku yang mahasiswa baru, yang mudah takjub mengamati lukisannya yang kupikir begitu dalam maknanya. Yang terpikir,...

Pembuka (Cerpen)

 Sepanjang ingatan masa kecilku, ibu yang bernama Wiwit, adalah wanita yang kenes. Profesinya sebagai pesinden, mengharuskannya memiliki daya tarik yang memikat. Kata bapak, kekenesan itu jugalah yang menawan hatinya.  Keduanya bertemu kala masih belia, usia belasan dalam sebuah paguyuban seni wayang kulit. Bapak adalah dalang muda berbakat, suaranya yang berat dan jernih sangat lantang dalam tiap pagelarannya, cukup merdu juga membunyikan gending kenangan.  Dibalik kewibawaannya, bapak kala muda juga seorang seniman yang lincah. Ia tidak kaku, mudah beradaptasi dengan selera zaman. Gerak lakunya yang luwes dan jenaka, membuatnya kemudian terjun juga dalam dunia lawak.  Bapak itu multilenta. Tak hanya dalang, penyanyi, dan pelawak, ia juga lihai mencipta lagu. Beberapa lagu romansa dia nyanyikan berduet dengan ibu.  Seiring perkawinan mereka di usia muda, tak menghentikan karir dua muda-mudi itu. Keduanya amat dikenal sebagai seniman muda berbakat yang luwes dal...