Hari-hari Ganjil Belakangan Ini
Semakin tenang diri ini, semakin muncul kesadaran akan eksistensi baik sebagai hamba maupun bagian dari khalifah bumi lainnya. Hari-hari berjalan cepat sekaligus terasai. Ketakutan akan penyesalan yang membuat rasa optimis menyembul; hari ini aku akan hidup dengan lebih baik.
Badan yang masih ranggas dihajar hujan tempo hari dipaksa untuk bersikap manis. Kesadaran mematri ketenangan diantara remuk redam.
Saya seorang guru yang mengajar untuk sebuah alasan khusus, yang barangkali tidak akan diurai di sini. Usai upacara Senin pagi, saya berencana hadir dalam sebuah musyawarah guru di kabupaten. Hampir satu jam dari sekolah tempat saya mengajar.
Setelah segala surat dinas dan kelengkapan siang saya hadir di forum musyawarah. Tepat waktu, tak berapa lama saya sudah dapat kenalan baru dari sekolah lain.
Usai acara yang kebanyakan hanya temu kangen guru-guru yang telah saling kenal. Guru-guru kabupaten yang tinggal tak jauh dari tempat acara. Saya menyempatkan bertemu rekan guru sebuah yayasan swasta di kabupaten ini.
Teman saya semasa sekolah menengah dulu. Salahnya kami malah bernostalgia dan membongkar kisah-kisah lama sembari mengabarkan kawan-kawan kami lainnya.
Waktu melesat cepat saat kita senang hati. Pukul setengah lima sore saya mengantar kawan saya pulang. Perjalanan kembali ke rumah sudah menggigit petang, saya was-was bakal kemalaman. Dengan kesadaran penuh saya berkendara di kabupaten dengan sedikit lebih cepat dari biasanya.
Keluar dari kabupaten, pada lampu lalulintas terakhir melewati masjid saya baru teringat kalau kebelet buang air kecil. Alamak! BAB bisa ditahan, tapi kencing adalah perkara lain. "Bisa ngompol di motor ini", batin saya.
Dengan menjaga fokus di kala penerangan jalan kian redup saya mengingat rute yang akan dilalui, kiranya ada POM Bensin atau masjid yang cukup besar yang kiranya menyediakan toilet. Namun rupanya kedua tempat itu masih cukup jauh.
Saya yang putus asa berhenti di sebuah minimart dan izin menumpang toilet pada mas kasir. Dengan tergopoh-gopoh saya diizinkan untuk memakai toilet di gudang minimart itu. Mas kasir tertawa geli mendengar saya mengaku betapa kebeletnya hajat ini.
Biasanya saya selalu memastikan diri siap untuk melanjutkan perjalanan jauh. Saya adalah tipikal orang yang senang berencana bahkan pada hal-hal paling tidak penting di dunia.
Melanjutkan perjalanan saya makin was-was karena mentari makin kelam sembunyi. Motor di depan saya dikendarai oleh tiga bocah kecil yang menjengkelkan. Pelan sekaligus ceroboh. Kombinasi yang memuakkan. Perhatian saya teralih ke sana, sehinggal belokan yang harusnya membawa saya ke jalan pulang malah terlewati!
Setelah beberapa saat saya sadar telah salah jalan dan tersesat. Dengan panik saya berkendara lurus mengingat asal saya tadi. Ketersesatan itu cukup memakan waktu.
Memasuki jalan desa, hari sudah nyaris gelap. Puluhan samber mata makin merisaukan perjalanan ini. Motor yang membentur jalan-jalan keropos tak tersentuh pembangunan.
Badan yang belum sehat benar terpontal-pontal tiap kali motor masuk lubang jalan. Beberapa samber mata masuk hidung dan tertelan.
Perjalanan semacam ini tidak pernah terpikirkan oleh diri saya yang selalu mengandalkan orang tua, saudara, dan teman.
Saat itulah meskipun berat benar, saya menyadari bahwa saya ternyata sudah cukup kuat untuk bertanggungjawab terhadap keputusan yang saya buat sendiri.
Komentar
Posting Komentar