Blok M (1990)
Kalau mau lihat potret remaja tahun 90-an, film Blok M (1990) termasuk yang bisa mewakili fenomena sosial masa itu. Tren ngeceng atau nongkrong -istilah sekarang- menjadi kebiasaan para remaja pada masa itu. Tren itu juga yang menjadi isu yang dibahas di film ini. Dimana kebiasaan para remaja ngeceng/mejeng di Blok M kadang dipandang sebagai kebiasaan perek yang mencari pelanggan. Lola (Desi Ratnasari) yang menjadi tokoh sentral adalah remaja yang bersama gengnya, Yuyun, Winda, dan Frida senang ngeceng di Blok M. Kebetulan salah satu teman sekolah mereka, Sindi (Paramita Rusadi) yang seorang perek kepergok jalan dengan seorang om-om diacara siaran radio Prambors di Blok M. Sindi curiga yang membocorkan hal itu adalah Lola. Setelah pertengkaran itu Lola jadi tertarik untuk berteman dengan Sindi.
Kesenjangan sosial ditampilkan pada tokoh Lola yang anak orang berada pada masanya. Bagaimana tidak, Lola yang masih SMA ditampilkan sudah bebas mengendarai mobil bersama gengnya untuk ngeceng sepulang sekolah. Sedangkan ayahnya bekerja dan ibunya merupakan sosialita pada zaman itu. Lola bahkan memiliki pembantu. Hal yang berbanding terbalik dengan kehidupan Sindi, dimana ia terpaksa menjadi perek untuk mencukupi kebutuhan sekolah adik-adiknya. Ibunya Sindi digambarkan tengah dirawat dan sosok ayah tidak ditampilkan ada, sehingga Sindilah tulang punggung keluarga.
Perkembangan karakter Lola digambarkan dari yang merupakan remaja usil yang manja, yang menuntut perhatian penuh dari ibunya, menjadi pribadi tenggang rasa yang berempati pada Sindi. Sindi yang tidak lagi punya teman akibat kepergok pekerrjaanya awalnya ragu oleh persahabatan yang ditawarkan Lola. Ternyata Lola cukup dapat dipercaya setelah ia mengunjungi adik-adik Sindi di rumahnya dan tetap menjaga rahasia pekerjaan Sindi yang sebenarnya.
Pergaulan para gadis pada masa itu ditampilkan menyegarkan dengan banyak candaan dan obrolan random yang mereka lakukan. Juga topik bahasan geng Lola yang mengggosipkan para siswa masa itu yang diterpa isu Maried by Accident, perek, maupun norak. Kisah cinta dalam film ini tidak begitu ditonjolkan, hanya tokoh Hendri yang awalnya cukup mengejar-ngejar Lola. Sedangkan isu kenakalan remaja berupa tawuran pada masa itu dipandang menjadi kebanggan tersendiri bagi para siswa yang berlagak pahlawan.
Komentar
Posting Komentar