Resensi: Bekisar Merah, Air Nira Hingga Peliharaan Pejabat Ibukota
Akhirnya setelah lebih dari sebulan, pagi ini menjadi halaman terakhir novel karya seniman kenamaan Ahmad Tohari selesai kubaca. Pertama kali membaca halaman muka novel "Bekisar Merah" dan halaman blub, sebenarnya kurang ada ketertarikan untuk membacanya. Gaya bercerita Ahmad Tohari yang diawali citraan penglihatan, pendengaran, perabaan, dan intelektual dalam penggambarannya atas kejadian alam di Karangsoga sebagai petanda menjadi ciri khas yang jika dibaca secara cermat, sebenarnya merupakan tanda dan makna yang dalam, yang berkaitan dengan jalan cerita. Unsur Ilahiah yang tampak pada masjid Eyang Mus sebagai penjaga moral, serta kehadiran Eyang Mus sendiri melengkapi ciri religius dalam novel ini. Garis besar ceritanya sudah jelas, Lasi sebagai 'bekisar merah', anak blasteran pribumi-Jepang yang menjadi inti dari cerita adalah keunikan tersendiri. Dengan keunikan lahiriahnya pula ia-selain dikagumi kecantikannya- juga harus mengalami nasib kurang menyenangkan ...